Ulasan

Review It Ends: Ngerinya Terjebak di Jalan Nggak Berujung

Review It Ends: Ngerinya Terjebak di Jalan Nggak Berujung
Scene dalam Film It Ends (IMDb)

Baru lulus kuliah, pergi mencari makan malam bersama teman-teman, lalu GPS membawa kalian ke jalan yang seolah-olah nggak ada ujungnya. Kiri-kanan cuma hutan. Nggak ada kota, pom bensin, kehidupan pun nihil. Lebih aneh lagi, setiap kali mobil berhenti terlalu lama, sosok-sosok misterius keluar dari hutan dan mengepung kendaraan. Ngeri banget, kan?

Itulah kegilaan yang ditawarkan It Ends, film debut feature Alexander Ullom yang pertama kali diputar di SXSW 2025 sebelum akhirnya rilis bioskop pada 2026. Dengan durasi sekitar ±89 menit, film ini bergerak di antara horor, thriller, dan komedi, lalu perlahan mengubah perjalanan absurd menjadi potret kecemasan anak muda ketika harus memasuki kehidupan setelah kuliah.

Film ini diproduksi Snoot Entertainment, Please Hold Pictures, dan Aymara Films, dengan Ullom sebagai sutradara sekaligus penulis. Pemerannya terdiri dari Phinehas Yoon sebagai James, Akira Jackson sebagai Day, Noah Toth sebagai Fisher, dan Mitchell Cole sebagai Tyler.

Empat karakter tersebut adalah sahabat yang baru saja lulus kuliah. Mereka cuma ingin mencari makanan. Masalahnya, perjalanan sederhana itu berubah menjadi hukuman tanpa penjelasan.

Mobil mereka terus bergerak di jalan yang sama. Setiap kali mencoba berhenti, manusia misterius dari hutan menyerang. Mereka pun dipaksa terus berkendara.

Semakin lama, situasinya semakin nggak masuk akal. Bensin seolah-olah nggak pernah habis. Mereka nggak lagi membutuhkan makan, minum, bahkan tidur seperti manusia normal. Hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, sementara jalan di depan mereka tetap sama.

Di titik ini, It Ends ngaduk-ngaduk pikiran penonton. Sebenarnya makhluk apa yang mengejar mereka? Dan apa yang sedang mereka jalani? Apakah neraka dunia? Purgatorium? Menjelajah dimensi lain? Film ini wajib banget Sobat Yoursay tonton sendiri kalau mau tahu jawabannya. 

Horornya Bukan Sekadar Makhluk

Kalau melihat ceritanya, Film It Ends sebenarnya agak klise. Ada hutan gelap, makhluk misterius, mobil yang terjebak, dan ancaman setiap kali kendaraan berhenti. Namun, film ini lumayan berani unjuk gigi, lho.

Percakapan James, Day, Fisher, dan Tyler memang nggak selalu membahas sesuatu yang penting. Mereka bisa bercanda, membicarakan meme, memperdebatkan hal absurd, atau tiba-tiba masuk ke percakapan yang jauh lebih personal. Perubahan suasana itu membuat mereka kayak empat teman sungguhan yang sudah lama saling mengenal.

Humornya juga membantu film menghindari kesan terlalu muram. Ada momen ketika aku bisa tertawa, lalu beberapa menit kemudian diajak masuk ke pembicaraan mengenai depresi, kecemasan, serangan panik, dan ketakutan menghadapi masa depan. Menurutku, perpindahan itu menjadi salah satu alasan karakter-karakternya hidup banget. Dan karena sebagian besar film berlangsung di dalam mobil, chemistry keempat aktor ini jadi sangat penting.

Kalau hubungan mereka nggak terasa meyakinkan, jelas film ini cuma jadi eksperimen horor dengan empat orang yang kebetulan terjebak bersama. Untungnya, hubungan mereka mampu jadi jantung film.

Aku juga suka keputusan Ullom untuk membuat perjalanan mereka terasa panjang. Buat sebagian penonton, tempo It Ends mungkin lambat. Nggak banyak kejadian besar. Mereka duduk di mobil, ngobrol, bertengkar, bercanda, kemudian kembali berkendara.

Namun itu yang membuat konsepnya bekerja. Bayangkan melakukan hal yang sama setiap hari tanpa tahu kapan semuanya selesai. Nggak ada pagi yang berbeda dari kemarin. Nggak ada tujuan yang semakin dekat. Nggak ada perubahan berarti. Hanya jalan, hutan, mobil, teman-teman, dan ancaman yang muncul setiap kali mereka mencoba berhenti. Kebosanan akhirnya berubah menjadi bentuk teror tersendiri.

Oh, iya. Makhluk dari hutan memang penting secara visual, namun secara tematik mereka hampir seperti representasi dari sesuatu yang lebih besar. Mereka adalah alasan kenapa para karakter nggak boleh berhenti. Sementara jalan adalah alasan mereka nggak pernah sampai.

Aku paham kalau nantinya Sobat Yoursay ada yang kurang puas. Film It Ends memang meninggalkan sejumlah pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Film ini lebih tertarik membangun pengalaman dan membuka ruang interpretasi dibanding menjelaskan aturan dunianya secara lengkap. Buatku, keputusan tersebut cukup efektif. Kendati begitu, aku memahami kok, kalau ada penonton yang merasa ending-nya kurang memuaskan. 

Terkait bagus nggaknya suatu film, biasanya itu soal selera kok. Jadi kalau ada yang merasa Film It Ends nggak memenuhi ekspektasi, nggak sepenuhnya film yang salah, ya. Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda