Ulasan
Lebih dari Sekadar Remake: Ayah, Aku Mau Cerita Buktikan Sinema Bisa Memanipulasi Realita
Apa jadinya kalau pengetahuan tentang film yang selama ini dianggap cuma hiburan, menjadi bekal utama untuk menghadapi polisi? Pertanyaan inilah yang membuat Film Ayah, Aku Mau Cerita punya sesuatu yang lebih menarik ketimbang cuma sebatas kisah seorang ayah yang mati-matian melindungi keluarganya.
Film produksi Falcon Pictures ini disutradarai Danial Rifki, dengan Frederica sebagai produser. Skenarionya ditulis Jeethu Joseph dan Danial Rifki, dengan cerita yang diadaptasi dari Film Drishyam.
Film berdurasi ±166 menit ini dibintangi Vino G. Bastian sebagai Andi Budiman, Marsha Timothy sebagai Iriana, Niken Anjani sebagai Marini, Ziva Magnolya sebagai Aisha, Queen Lubis sebagai Ditta, serta Gunawan Sudrajat, Pritt Timothy, Rizky Hanggono, Sadana Agung, Norman R. Akyuwen, Whani Darmawan, dan Faris Fadjar Munggaran. Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 20 Agustus 2026.
Ceritanya terkait Andi Budiman yang tinggal bersama istrinya, Marini, dan dua putrinya, Aisha serta Ditta, di Desa Banaran. Pendidikan formal Andi hanya sampai kelas empat SD. Kehidupannya juga jauh dari gambaran orang berkuasa. Andi mencari penghidupan melalui usaha layar tancap, dan itu jadi bentuk kecintaan besarnya pada sinema.
Masalah dimulai ketika Aisha menjadi korban pelecehan oleh Indra. Aisha kemudian meminta bantuan Marini untuk menemui Indra. Pertemuan tersebut berubah menjadi insiden ketika Aisha dan Marini berusaha melindungi diri hingga Indra meninggal. Situasinya langsung jadi jauh lebih berbahaya setelah keluarga mengetahui bahwa Indra merupakan putra tunggal Iriana, si Kapolres. Iriana kemudian menggunakan segala kemampuannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Andi akhirnya mengambil keputusan besar. Dia berusaha melindungi keluarganya dengan menyusun alibi, mengatur informasi, dan menciptakan rangkaian kejadian yang bisa membuat keluarganya terlepas dari kecurigaan. Di sinilah kecintaannya terhadap film berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
Andi mungkin cuma sekolah sampai kelas empat SD, tapi dia punya satu bentuk pendidikan yang berasal dari tempat lain: layar bioskop dan layar tancap yang selama bertahun-tahun dia nikmati. Film-film yang ditontonnya membuat dia memahami cara cerita bekerja. Dia tahu, sebuah kejadian bisa dilihat dari berbagai sudut. Dia memahami, urutan waktu bisa mengubah cara orang membaca suatu peristiwa. Dia juga tahu, informasi kecil bisa jadi sangat penting ketika ditempatkan pada konteks yang tepat.
Hasilnya? Film Ayah, Aku Mau Cerita begitu menarik ditonton kendati itu hasil remake.
Menilik Sinema dari Sudut Pandang Berbeda
Begitulah. Film ini seolah-olah ngajak kita menilik sinema dari sudut pandang berbeda. Selama ini kita sering menganggap film sebagai sesuatu yang kita konsumsi untuk bersenang-senang, menangis, tertawa, atau melarikan diri sebentar dari rutinitas. Bagi Andi, film bekerja seperti sekolah. Dia menyerap pola, mengingat detail, memperhatikan perilaku manusia, lalu membawa semua pengetahuan itu ke kehidupan nyata.
Menariknya, Andi bukan kriminal profesional. Dia cuma ayah biasa yang mendadak harus berpikir beberapa langkah lebih jauh karena keluarganya berada dalam bahaya. Di tangan Vino G. Bastian, kecerdasan Andi lebih manusiawi karena dia tetap terlihat seperti orang biasa yang sedang belajar mengambil keputusan di tengah tekanan.
Di sinilah film menjadi semakin menarik. Andi memakai cara kerja cerita untuk melawan realita. Dia menciptakan versi kejadian yang ingin dipercaya orang lain, sementara Iriana berusaha membongkar cerita tersebut dengan insting sosok aparat dan naluri seorang ibu.
Ada ironi yang cukup kuat di sini. Andi menggunakan film untuk memanipulasi persepsi, sementara Iriana menggunakan kewenangan untuk mencari kebenaran. Keduanya sama-sama sedang membangun cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi, dalam Film Ayah, Aku Mau Cerita, apakah unsur ‘film’ cuma menghibur, atau memang bisa mengubah cara seseorang memahami dunia?
Film ini punya jawaban yang cukup menarik. Film bisa jadi hiburan, pengetahuan, bahkan senjata. Semuanya tergantung pada siapa yang menontonnya dan bagaimana dia menggunakan apa yang sudah dilihatnya.
Andi mungkin nggak punya gelar hukum, jabatan, atau kekuasaan. Dia cuma punya ingatan dan kecintaan pada film-film yang pernah ditontonnya. Anehnya, dari sanalah dia menemukan keberanian sekaligus kecerdikan untuk melawan sistem yang jauh lebih besar darinya.
Dan menurutku itulah alasan Film Ayah, Aku Mau Cerita menarik untuk dibicarakan dan Sobat Yoursay tonton selagi belum turun layar. Selamat menonton, ya.