Ulasan

Review Film Other: Sajian Thriller Psikologis dengan Atmosfer yang Sunyi

Review Film Other: Sajian Thriller Psikologis dengan Atmosfer yang Sunyi
Salah satu adegan di film Other (IMDb)

Other (2025) adalah film horor thriller psikologis produksi Prancis-Belgia yang disutradarai David Moreau, dikenal melalui karya seperti Them (Ils) dan MadS. Film berdurasi sekitar 92 menit ini dibintangi Olga Kurylenko sebagai Alice, dengan dukungan Jacqueline Ghaye sebagai Elena (sang ibu), Lola Bonaventure sebagai Alice remaja, Jean Schatz sebagai The Beast, serta Philip Schurer. Genre yang diusung menggabungkan elemen home-invasion, trauma keluarga, dan creature feature dengan pendekatan atmosferik yang lebih menekankan ketegangan psikologis daripada gore berlebihan.

Ketakutan Ruang Terisolasi yang Mengintimidasi

Salah satu adegan di film Other (youtube.com/Voltage Pictures)
Salah satu adegan di film Other (youtube.com/Voltage Pictures)

Sinopsis ringkasnya berpusat pada Alice, seorang wanita yang telah lama terasing dari ibunya. Setelah menerima kabar kematian sang ibu secara misterius dan mengerikan, ia terpaksa kembali ke rumah masa kecil yang terletak di tengah hutan. Rumah tersebut ternyata dilengkapi sistem pengawasan canggih yang memantau setiap gerakannya. Alice dihadapkan pada kenangan traumatis masa remaja terkait standar kecantikan, kompetisi pageant, serta kontrol ketat sang ibu. Seiring berjalannya waktu, bayangan gelap, suara-suara aneh, dan ancaman fisik muncul, memaksa Alice mempertanyakan realitas serta mengungkap rahasia kelam yang terkubur di masa lalu.

Review Film Other

Salah satu adegan di film Other (youtube.com/Voltage Pictures)
Salah satu adegan di film Other (youtube.com/Voltage Pictures)

Dari segi penyutradaraan, Moreau membangun isolasi dengan desain produksi rumah yang dingin, tajam, dan penuh kamera pengawas. Pendekatan visual yang sengaja membatasi tampilan wajah karakter pendukung—sehingga hampir seluruh fokus tertuju pada Kurylenko—memperkuat rasa kesepian dan paranoia. Tata suara serta rekaman VHS lama menjadi elemen penting dalam menghadirkan masa lalu yang mengganggu. Kurylenko memberikan penampilan yang berkomitmen dan intens; ia hampir mendominasi seluruh layar dalam apa yang mendekati one-woman show. Tema yang diangkat mencakup trauma antar generasi, obsesi terhadap kecantikan, motherhood yang merusak, serta fragmentasi identitas.

Film ini memang punya celah: pacing tengahnya molor, eksekusi temanya dangkal, dan narasinya kadang kurang padu. Akan tetapi, aku tetap mengacungi jempol untuk atmosfer, jump scare, serta adegan pamungkasnya yang begitu cerdas sekaligus meneror. Skor Rotten Tomatoes-nya yang suam-suam kuku membuktikan betapa polarizing-nya karya satu ini.

Mengenai penayangan di bioskop Indonesia, rilis perdana berlangsung pada akhir 2025, dengan sumber lokal menyebutkan sekitar 10 Oktober 2025 atau lebih konsisten pada 28 November 2025 (klasifikasi 17+). Per 30 Agustus 2026, film ini masih atau kembali diputar di sejumlah bioskop, setidaknya di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Situs jadwalnonton.com mencantumkan penayangan aktif pada tanggal tersebut di beberapa lokasi XXI. Jadwal dapat berbeda antar kota dan berubah sewaktu-waktu, sehingga disarankan memeriksa langsung aplikasi resmi bioskop.

Adegan yang paling membuat kaget adalah yang berkaitan dengan revelasi identitas makhluk yang menghuni rumah. Salah satu momen paling mengejutkan adalah ketika kebenaran tentang The Beast terungkap bukan sebagai monster eksternal semata, melainkan sosok yang terhubung langsung dengan sejarah pribadi Alice—seorang anak yang disembunyikan dan dibesarkan secara tersembunyi oleh sang ibu setelah kehamilan remaja yang dipaksa dan disembunyikan. Flashback kelahiran yang kasar, pengikatan perut dengan pita, serta perlakuan terhadap tubuh Alice remaja menciptakan rasa jijik dan terkejut yang kuat. Momen serangan tiba-tiba, termasuk elemen gore pada klimaks yang melibatkan cedera tubuh, menjadi puncak kejutan visual yang efektif.

Sementara itu, adegan yang paling kuingat setelah menonton film ini adalah suasana rumah yang penuh sistem pengawasan. Isolasi Alice di tengah kamera-kamera yang seolah menghidupkan ruangan, ditambah sekuens di mana ia mengenakan gaun pageant lama sambil dihadapkan pada kenangan traumatis, meninggalkan kesan emosional yang mendalam.

Babak pengungkapan di akhir yang mempertemukan sang monster dengan latar belakang Alice—serta pergumulan emosional di dalamnya—begitu membekas buatku. Bagian ini sukses meleburkan teror fisik dengan perenungan mendalam mengenai kekerasan, penyangkalan, dan peninggalan trauma antargenerasi. Akting Kurylenko di momen-momen puncak tersebut menjadi aspek yang paling sulit dilupakan.

Overall, Other menawarkan pengalaman horor yang lebih mengandalkan atmosfer psikologis dan tema personal. Kekuatannya terletak pada penampilan utama Kurylenko serta konsep rumah sebagai perpanjangan trauma, sementara kelemahannya muncul pada pengembangan narasi yang terkadang terasa tidak fokus.

Buat kamu penggemar horor psikologis yang mengeksplorasi hubungan ibu dan anak yang rusak serta tekanan kecantikan, film ini layak disaksikan, meskipun tidak mencapai ketinggian karya Moreau sebelumnya. Dengan durasi yang relatif ringkas, kurasa Other meninggalkan kesan sebagai karya polarisasi yang memaksaku dan penonton yang lain merenungkan apa yang benar-benar menakutkan: makhluk di luar atau luka yang ditinggalkan di dalam diri. Rating pribadi: 7.7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda