Ulasan

Ulasan Film Bapakmu Kiper: Cerita Rekonsiliasi Ayah dan Anak yang Menyentuh

Ulasan Film Bapakmu Kiper: Cerita Rekonsiliasi Ayah dan Anak yang Menyentuh
Poster film Bapakmu Kiper (IMDb)

Film Bapakmu Kiper resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 3 September 2026. Sebagai produksi Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia yang disutradarai Ody C. Harahap, film ini menghadirkan perpaduan komedi keluarga, drama, dan olahraga dengan latar budaya sepak bola antarkampung atau tarkam yang jarang diangkat secara utuh di layar lebar. Naskah ditulis oleh Titien Wattimena dan Aaron Hart bersama tim Katatinut. Durasi sekitar 91 menit. Pemeran utamanya adalah Fedi Nuril sebagai Warto dan Ali Fikry sebagai Dino, didukung Tanta Ginting, Vidi Bule, Augie Fantinus, Neysa Chandria, Cemen, Djaitov Tigor, serta sejumlah pemain lainnya.

Drama Keluarga yang Hangat di Balik Mistar Gawang

Salah satu adegan di film Bapakmu Kiper (IMDb)
Salah satu adegan di film Bapakmu Kiper (IMDb)

Sinopsis film berpusat pada Dino, remaja 18 tahun yang menyimpan kekecewaan mendalam terhadap ayahnya, Warto. Warto adalah penjual ikan sekaligus mantan kiper tarkam legendaris yang lebih dikenal karena sederet blunder di bawah mistar gawang ketimbang aksi penyelamatannya. Dino meyakini kematian ibunya berkaitan dengan sikap sang ayah di masa lalu, sehingga hubungan keduanya menjadi renggang.

Ketika tim andalan Dino bubar menjelang Tarkam Super Cup—ajang yang membuka peluang menuju sepak bola profesional—Warto memutuskan kembali ke lapangan. Ia membentuk tim baru bernama Serigala Sakti yang diisi warga kampung dengan latar belakang unik: satpam, montir, buruh bangunan, tukang pijat tradisional, pencopet, hingga dukun. Melalui pertandingan-pertandingan yang penuh kekacauan khas tarkam, keduanya perlahan berusaha memperbaiki hubungan yang retak.

Dari sisi tema, Bapakmu Kiper menawarkan kesegaran. Dunia tarkam yang akrab di masyarakat pelosok digambarkan lengkap dengan keunikannya, termasuk praktik perdukunan yang masih kental di sejumlah turnamen kampung. Unsur tersebut tidak dijadikan inti konflik, melainkan subplot yang mendorong komedi dan memperkaya warna lokal.

Film ini juga menyoroti dinamika ayah-anak yang sulit mengungkapkan perasaan, proses memaafkan, serta kesempatan kedua. Fedi Nuril, yang dikenal lebih sering memerankan karakter dramatis, tampil dalam peran komedi yang menuntut latihan intensif sebagai kiper selama sekitar dua minggu. Ali Fikry menghadapi tantangan fisik yang tinggi karena harus berakting sambil bermain bola di bawah terik matahari.

Ulasan Film Bapakmu Kiper

Salah satu adegan di film Bapakmu Kiper (IMDb)
Salah satu adegan di film Bapakmu Kiper (IMDb)

Kekuatan film terletak pada chemistry antara Fedi Nuril dan Ali Fikry, yang sebelumnya pernah berperan sebagai ayah-anak di Qorin 2. Interaksi mereka terasa autentik, baik dalam momen ketegangan maupun kehangatan. Karakter-karakter pendukung menambah warna dengan tingkah nyeleneh yang mencerminkan kehidupan kampung. Akan tetapi, eksekusi humor tidak selalu merata. Beberapa lelucon situasi berhasil mengocok perut, sebagian lainnya terasa kurang mengena.

Elemen pertandingan tarkam yang seharusnya menjadi jantung cerita terkendala penggunaan CGI yang kurang mulus dan tampilan penonton palsu di pinggir lapangan, sehingga nuansa otentik keramaian tarkam sedikit berkurang. Beberapa latar belakang tokoh, termasuk tim lama Dino, juga kurang digali sehingga simpatiku terhadap konflik utama tidak selalu terbangun maksimal.

Salah satu adegan paling kocak adalah rangkaian momen kesurupan yang diadaptasi dari mitos dukun dalam dunia tarkam. Para pemain diminta berimprovisasi sendiri mengenai cara kesurupan. Hasilnya beragam dan menghibur: ada yang jungkir balik, salto berulang, hingga akhirnya muntah karena kelelahan akibat take yang diulang-ulang. Adegan ini menjadi salah satu puncak komedi yang paling kuiingat karena spontanitas dan keabsurdan yang tetap terasa membumi.

Selain itu, blunder Warto sebagai kiper—yang dijuluki “kiper malas nangkep” oleh rekan mainnya—serta tingkah aneh anggota Serigala Sakti di lapangan turut menyumbang tawa. Selebrasi salto dadakan yang dilakukan Ali Fikry saat mencetak gol juga menambah kesan kocak; aksi tersebut murni improvisasi di luar naskah dan sempat membuat sutradara khawatir soal keselamatan.

Adegan paling berkesan justru hadir di momen-momen emosional antara Warto dan Dino. Ketika kalimat “Bapakmu Kiper” diucapkan dalam konteks tertentu, makna ganda judul film terasa menyentuh. Bukan sekadar lelucon tentang posisi di lapangan, melainkan simbol pengorbanan, perlindungan, dan usaha seorang ayah untuk menebus kesalahan masa lalu.

Proses rekonsiliasi keduanya, yang dibangun perlahan melalui pertandingan dan interaksi sehari-hari, meninggalkan kesan hangat. Bisa dibilang aku pun merasa terhubung karena tema ayah-anak yang sulit mengungkapkan kasih sayang merupakan pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga Indonesia. Fedi Nuril sendiri mengakui bahwa di balik judul yang terdengar kocak, film ini justru menyimpan kedalaman emosional yang membuatnya tersentuh.

Jadi kesimpulannya, Bapakmu Kiper merupakan tontonan keluarga yang layak disaksikan. Film ini berhasil mengangkat budaya tarkam dengan cara yang menghibur sekaligus menyentuh, meski masih menyisakan catatan teknis dan eksekusi humor yang belum sepenuhnya matang. Bagi penikmat komedi ringan berlatar olahraga lokal dan kisah keluarga yang hangat, film ini memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan dan berkesan. Dengan penayangan yang baru dimulai pada 3 September 2026, Bapakmu Kiper menjadi salah satu pilihan film Indonesia terkini yang pantas dipertimbangkan di bioskop. Rating pribadi: 7.8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda