Ulasan

Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh

Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
Midah Simanis Bergigi Emas (Goodreads)

Jika terbiasa mengenal Pramoedya Ananta Toer melalui kisah-kisah besar tentang bangsa dan politik, Midah, Simanis Bergigi Emas mungkin akan terasa mengejutkan. Novel ini tidak berbicara tentang revolusi atau kolonialisme, melainkan tentang seorang perempuan yang berani meninggalkan kehidupan yang mengekangnya, meski harus menghadapi konsekuensi yang tidak ringan

Sinopsis

Midah, Simanis Bergigi Emas merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali terbit pada 1954 dengan latar Jakarta tahun 1950-an. Ceritanya berpusat pada Midah, perempuan yang lahir dalam keluarga terpandang dan taat beragama. Ayahnya, Haji Abdul, dikenal menyukai musik Arab, terutama lagu-lagu Umi Kalsum. Midah semula menjadi anak kesayangan orang tuanya, tetapi keadaan berubah setelah adik-adiknya lahir. Perhatian keluarga yang dulu sepenuhnya ia dapatkan perlahan berkurang. Di tengah perubahan itu, Midah menemukan kesenangan melalui musik keroncong.

Kegemarannya terhadap keroncong justru memperbesar jarak dengan sang ayah. Bagi Haji Abdul, musik tersebut merupakan sesuatu yang haram. Konflik itu berujung pada kehancuran piringan hitam milik Midah dan keputusan untuk menikahkannya dengan Haji Terbus, lelaki kaya dari Cibatok. Pernikahan tersebut tidak berlangsung seperti yang dibayangkan keluarga. Setelah mengetahui bahwa suaminya telah memiliki beberapa istri, Midah memilih meninggalkan rumah dalam keadaan mengandung. Ia tidak kembali kepada orang tuanya, melainkan menuju Jakarta dan bergabung dengan kelompok pengamen keroncong.

Di lingkungan baru itu, Midah dikenal sebagai “Simanis” karena wajahnya yang cantik. Ia menjalani kehidupan sebagai penyanyi keliling, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan penghasilan. Keadaan semakin sulit ketika kehamilannya membesar hingga akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki bernama Rodjali. Kehadiran anak tersebut membuat posisi Midah dalam kelompok keroncong semakin tidak nyaman. Ia kemudian melanjutkan hidup dengan bernyanyi sendiri sampai bertemu Ahmad, seorang polisi lalu lintas yang juga memiliki ketertarikan terhadap musik. Ahmad mengajarinya bernyanyi dan membaca not balok, sementara Midah melihat hubungan tersebut sebagai sesuatu yang berbeda dari pengalaman pahit yang pernah dilaluinya.

Namun, hubungan dengan Ahmad kembali membawa Midah pada persoalan. Ketika Midah mengandung anak dari hubungan tersebut, Ahmad tidak bersedia bertanggung jawab. Midah pun kembali berada dalam keadaan sulit. Keluarganya yang dahulu ia tinggalkan mulai mengetahui kehidupannya, tetapi hubungan yang telah retak tidak mudah diperbaiki. Kehidupan Midah terus bergerak di antara keinginan untuk bebas, kebutuhan untuk bertahan hidup, serta konsekuensi dari keputusan yang telah diambilnya.

Yang menarik dari novel ini adalah posisi Midah sebagai perempuan yang berusaha menentukan hidupnya sendiri. Ia tidak digambarkan sebagai tokoh yang pasrah menerima keadaan. Ketika merasa tidak mendapatkan tempat di rumah, ia pergi. Ketika pernikahannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia meninggalkan suaminya. Ketika hidup di jalanan menjadi pilihan, ia bekerja sebagai penyanyi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pilihan-pilihan tersebut memang tidak selalu menghasilkan keadaan yang lebih baik, tetapi justru di situlah persoalan Midah menjadi menarik. Kebebasan ternyata tidak selalu berarti kehidupan yang mudah.

Pramoedya juga memperlihatkan bagaimana perempuan dapat berada dalam posisi yang rentan ketika berhadapan dengan lingkungan sosial. Midah beberapa kali berhadapan dengan lelaki yang memandang perempuan berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Kehidupan sebagai penyanyi jalanan pun membuatnya mudah dinilai dari penampilan dan pekerjaannya. Persoalan tersebut membuat perjalanan Midah tidak hanya berbicara tentang keluarga atau percintaan, tetapi juga tentang perempuan yang berusaha mempertahankan dirinya ketika ruang geraknya terus dibatasi.

Kelebihan novel ini terletak pada ceritanya yang relatif ringkas, tetapi mampu membawa persoalan sosial dan kemanusiaan yang cukup luas. Bahasa Pramoedya juga membuat perjalanan Midah mudah diikuti tanpa menghilangkan konflik yang berat. Latar Jakarta tahun 1950-an serta kehidupan kelompok keroncong memberi warna kuat pada cerita. Kekurangannya, perjalanan Midah terasa begitu getir karena persoalan demi persoalan datang silih berganti. Beberapa keputusan tokohnya juga dapat memancing perdebatan karena tidak selalu mudah diterima dari sudut pandang moral.

Midah, Simanis Bergigi Emas akhirnya bukan sekadar kisah tentang seorang penyanyi keroncong. Novel ini mempertemukan persoalan keluarga, perkawinan, perempuan, kebebasan, moralitas, dan kerasnya kehidupan jalanan dalam perjalanan seorang perempuan yang ingin menentukan nasibnya sendiri. Midah mungkin memperoleh kebebasan setelah meninggalkan rumah, tetapi perjalanan berikutnya menunjukkan bahwa hidup di luar batas yang telah ditentukan juga memiliki harga yang tidak ringan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda