Ulasan
Sebelum Membaca Supernova, Kenali Dulu Kisah Cinta yang Rumit Ini
Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh sejak awal memang bukan novel yang menawarkan cerita sederhana. Dee Lestari mempertemukan percintaan, sains, filsafat, psikologi, dan berbagai gagasan tentang kehidupan dalam satu buku. Bagi banyak pembaca, keberanian seperti inilah yang membuat Supernova terasa istimewa. Tetapi dari sejumlah ulasan pembaca, terlihat juga sisi lain yang tidak kalah menarik: ada yang merasa novel ini terlalu berat, terlalu banyak istilah ilmiah, bahkan terlalu sibuk menunjukkan kecerdasannya sendiri.
Cerita dimulai dari Dhimas dan Ruben, dua mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Dhimas berkuliah di George Washington University, sedangkan Ruben belajar di Johns Hopkins Medical School. Mereka bertemu dalam sebuah pesta mahasiswa Indonesia. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat. Ruben mengungkapkan bahwa dirinya gay, dan Dhimas ternyata juga demikian. Keduanya lalu menjadi pasangan.
Hubungan mereka tidak berhenti pada urusan percintaan. Sepuluh tahun setelah pertemuan pertama, Dhimas dan Ruben masih bersama dan berusaha memenuhi janji yang pernah mereka buat: menghasilkan sebuah karya besar yang mampu mempertemukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Ambisi tersebut kemudian diwujudkan lewat sebuah roman berjudul Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.
Roman yang mereka tulis memiliki kemiripan dengan kehidupan Ferre, Rana, dan Diva. Ferre jatuh cinta kepada Rana, seorang perempuan yang telah menikah dengan Arwin. Hubungan keduanya berkembang menjadi perselingkuhan. Di tengah hubungan yang semakin rumit itu muncul Diva, perempuan yang digambarkan cantik, cerdas, mandiri, lugas, dan memiliki pandangan hidup yang tidak biasa. Kehadiran Diva kemudian membawa cerita ke arah yang lebih jauh daripada sekadar persoalan cinta segitiga.
Dari sinilah ciri khas Supernova mulai terasa. Cerita tidak hanya berjalan melalui hubungan antartokohnya. Ada teori fisika, fisika kuantum, teori chaos, psikologi, filsafat, sampai pembahasan tentang kehidupan manusia yang ikut masuk ke dalam cerita. Catatan kaki pun digunakan untuk menjelaskan berbagai istilah dan gagasan yang muncul.
Untuk sebagian pembaca, ini justru bagian yang paling menyenangkan. Supernova dianggap berani karena membawa sesuatu yang biasanya ditemukan dalam buku ilmiah atau filsafat ke dalam novel populer. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti kisah Ferre dan Rana, tetapi juga berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar mengenai manusia, pilihan hidup, dan keteraturan yang selama ini dianggap biasa.
Tetapi tidak semua pembaca merasa pendekatan tersebut berhasil. Keluhan yang cukup sering muncul adalah soal sains yang terasa seperti tempelan. Beberapa pembaca mengaku kesulitan mengikuti penjelasan ilmiahnya dan akhirnya melewati bagian tersebut. Anehnya, setelah bagian sains dilewati, cerita utama masih dapat diikuti dengan cukup mudah. Dari pengalaman semacam itu muncul anggapan bahwa teori-teori ilmiah dalam novel lebih berfungsi untuk membuat cerita terlihat intelektual daripada benar-benar menjadi bagian penting dari perkembangan cerita.
Kritik lain diarahkan kepada kisah Ferre dan Rana. Perselingkuhan mereka sebenarnya menjadi sumber konflik utama, tetapi ada pembaca yang merasa alasan dan perkembangan hubungan keduanya kurang kuat. Ceritanya bahkan dianggap cukup mudah ditebak. Ferre juga dinilai terlalu romantis sampai beberapa dialog dan monolognya terasa berlebihan bagi pembaca yang tidak terlalu menyukai gaya seperti itu.
Diva mendapat perhatian yang berbeda. Banyak pembaca justru menyukai kehadirannya karena ia tidak seperti karakter perempuan kebanyakan. Ia pintar, mandiri, berani mengambil keputusan, dan mempunyai pandangan hidup sendiri. Tetapi ada pula yang merasa narasi terlalu sering menempatkannya sebagai perempuan yang selalu selangkah lebih maju daripada orang lain. Akibatnya, bagi sebagian pembaca, Diva tidak terasa sebagai manusia dengan kekurangan yang wajar, melainkan karakter yang sengaja dibuat mengagumkan.
Dhimas dan Ruben juga punya persoalan serupa. Kehadiran mereka sebagai pasangan sesama jenis merupakan salah satu keberanian Supernova, terutama karena novel ini terbit pada 2001. Akan tetapi, beberapa pembaca merasa hubungan keduanya tidak terlalu terasa sebagai hubungan pasangan. Percakapan mereka lebih sering membawa pembaca kepada pembahasan ilmu pengetahuan daripada menunjukkan kedekatan emosional mereka. Karena itu, ada yang menilai peran keduanya lebih penting sebagai penyampai gagasan daripada sebagai karakter yang memiliki perkembangan kuat.
Meski banyak kritik, gaya bahasa Dee Lestari hampir selalu mendapat tempat tersendiri dalam ulasan pembaca. Kalimat-kalimatnya dianggap mengalir dan enak diikuti. Inilah yang membuat pembahasan yang sebenarnya berat masih bisa diteruskan oleh pembaca. Bahkan mereka yang mengeluhkan sainsnya sering tetap mengakui bahwa cara Dee bercerita memiliki daya tarik.
Jadi, masalah Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh bukan karena novelnya tidak punya gagasan. Justru sebaliknya, gagasannya terlalu banyak. Dee ingin membicarakan cinta, manusia, ilmu pengetahuan, kebebasan, dan kehidupan dalam satu cerita. Bagi pembaca yang cocok, campuran tersebut terasa segar. Bagi yang tidak cocok, hasilnya bisa terasa seperti cerita yang sederhana tetapi diberi lapisan istilah rumit.
Itulah sebabnya penilaian terhadap Supernova bisa begitu berbeda. Novel ini memang penting dalam perkembangan fiksi populer Indonesia karena berani membawa sains dan filsafat ke tengah cerita. Bahasa Dee juga menjadi kekuatan yang membuat novel ini tetap enak dibaca. Tetapi reputasi besar tidak membuatnya kebal dari kritik.
Pada akhirnya, KPBJ lebih tepat disebut novel yang berani dan punya gagasan besar, bukan novel yang pasti akan dianggap luar biasa oleh semua orang. Ada pembaca yang menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Ada pula yang hanya menemukan cerita percintaan yang dihiasi terlalu banyak istilah ilmiah. Dan kalau setelah membaca berbagai ulasan tersebut muncul kesan bahwa Supernova memang bagus, tetapi sedikit overrated, rasanya pendapat itu masih cukup masuk akal.