Ulasan
Review Film Mirzapur: The Movie, Babak Baru Rivalitas Panas Guddu dan Munna
Mirzapur: The Movie adalah film aksi-kriminal berbahasa Hindi tahun 2026 yang disutradarai oleh Gurmmeet Singh dan ditulis oleh Puneet Krishna.
Diproduksi oleh Ritesh Sidhwani dan Farhan Akhtar di bawah bendera Excel Entertainment bersama Amazon MGM Studios, film ini membawa dunia Mirzapur dari platform streaming Amazon Prime Video ke layar lebar.
Dibintangi Pankaj Tripathi sebagai Akhandanand Kaleen Tripathi, Ali Fazal sebagai Govind Guddu Pandit, Divyenndu sebagai Phoolchand Munna Tripathi, Jitendra Kumar sebagai Vinay Bablu Pandit, serta Ravi Kishan sebagai Babban Babua, film ini berlangsung sekitar 197 menit dan mendapat sertifikat A (Dewasa).
Duel Mencekam Antara Dua Penguasa Mafia

Film ini bukan sekuel langsung dari musim ketiga serial, melainkan kisah paralel yang berlatar waktu sekitar musim pertama (2018).
Ceritanya berpusat pada perebutan takhta Mirzapur. Kaleen Bhaiya menghadapi ancaman lama sekaligus penantang baru dari Jaisalmer bernama Babban, seorang tokoh kejam dengan masa lalu yang terhubung ke Mirzapur.
Di sisi lain, dinamika antara Guddu, Bablu, dan Munna kembali mengemuka, sementara konflik keluarga, pengkhianatan, dan ambisi kekuasaan tetap menjadi inti narasi.
Sinopsis resmi menyatakan bahwa pertarungan memperebutkan takhta semakin memanas ketika musuh lama muncul kembali dan ancaman baru muncul, dengan utang darah yang harus dilunasi.
Review Film Mirzapur: The Movie

Dari segi penampilan, Pankaj Tripathi kembali menguasai peran Kaleen Bhaiya dengan aura yang tenang namun menakutkan.
Ali Fazal memberikan intensitas fisik dan emosional yang kuat sebagai Guddu, sementara Divyenndu menghidupkan kembali Munna dengan perpaduan kesombongan, kerentanan, dan kekerasan.
Jitendra Kumar menggantikan Vikrant Massey sebagai Bablu dan berhasil membawa nuansa berbeda. Ravi Kishan tampil menonjol sebagai antagonis baru dengan kehadiran yang mengancam.
Overall, film ini cukup bagus di bagian dialog khas Mirzapur, momen massy, perseteruan yang menegangkan, serta penampilan para aktor.
Akan tetapi, durasi yang panjang menjadi kritikku; beberapa bagian terasa berlarut-larut, terutama di babak pertama, dan kurasa narasi terasa prediktif buat kamu yang sudah akrab dengan serialnya.
Meski demikian, klimaks dan momen-momen aksi besar berhasil mengompensasi kekurangan tersebut kok, menjadikan film ini hiburan layar lebar yang memuaskan bagi penggemar.
Film ini mulai diputar di bioskop Indonesia sejak 4 September 2026, bersamaan dengan perilisan teatrikal di India dan sejumlah negara lain.
Hingga saat ini, film masih tayang di berbagai jaringan bioskop seperti Cinema 21/XXI, Cinépolis, dan CGV di kota-kota besar termasuk Jakarta dan Tangerang, dengan rating Dewasa 21+. Jadwal dapat dicek langsung melalui situs atau aplikasi bioskop setempat.
Salah satu adegan paling emosional terjadi pada bagian yang mengeksplorasi sisi manusiawi Munna terkait kenangan akan ibunya.
Ketika Munna dihadapkan pada situasi yang memicu trauma masa lalu—termasuk momen di mana ia hampir melakukan tindakan kekerasan terhadap seseorang yang mengingatkannya pada sosok ibu—ekspresi dan dialog yang disampaikan Divyenndu mampu menyampaikan rasa kehilangan, amarah yang terpendam, serta kerapuhan di balik sikap agresifnya.
Adegan ini memberikan kedalaman pada karakter yang selama ini dikenal brutal, sehingga aku sebagai penonton merasakan lapisan emosional di balik dunia kekerasan Mirzapur. Momen-momen keluarga Tripathi dan Pandit yang memperlihatkan konflik internal serta pengorbanan juga menambah bobot emosional film.
Adegan paling menegangkan berpusat pada klimaks di Jaisalmer. Pertarungan besar antara kelompok Kaleen Bhaiya (termasuk Guddu, Bablu, dan Munna yang sempat bersatu) melawan Babban dan anak buahnya berlangsung intens dengan tembak-menembak, pengejaran, dan perseteruan langsung.
Salah satu puncaknya adalah ketika Guddu tampak tewas setelah tertabrak kendaraan, membuat Bablu dan yang lain berduka, sebelum ia bangkit kembali berkat intervensi medis darurat yang melibatkan zat tertentu.
Ketegangan memuncak lagi pada adegan penutup di salon, di mana Guddu dan Munna secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa mereka mencintai wanita yang sama (Sweety), suasana berubah drastis, dan diakhiri dengan tembakan yang memotong adegan tanpa resolusi jelas. Momen-momen ini berhasil membuat penonton yang lain tegang hingga akhir.
Overall, Mirzapur: The Movie berhasil mentransfer bhaukaal khas serial ke layar lebar dengan skala yang lebih besar.
Bagi penggemar setia, film ini menawarkan nostalgia sekaligus cerita tambahan yang menarik. Bagi penonton baru, film tetap dapat dinikmati sebagai drama kriminal mandiri yang penuh aksi, dialog tajam, dan ketegangan.
Meski memiliki kekurangan pada pacing, kekuatan penampilan dan momen-momen klimaks menjadikannya tontonan yang layak disaksikan di bioskop. Rating pribadi: 7.4/10.