Ulasan
1 Kakak 7 Ponakan: Saat Menjadi Dewasa Bukan Lagi Sebuah Pilihan
Sering kali saya dibuat iri dan cemburu akan hal baik dan keberuntungan yang terjadi dalam kehidupan seorang pemeran utama dalam suatu film. Tapi pada film 1 Kakak 7 Ponakan, saya justru dibuat bersyukur atas apa yang dimiliki dalam hidup ini.
Film garapan Yandy Laurens ini memang bercerita tentang keluarga, tetapi terlalu sederhana kalau hanya menyebutnya sebagai drama keluarga. Di balik kisah Moko, seorang mahasiswa arsitektur yang tiba-tiba harus mengurus keponakan-keponakannya, ada cerita tentang seseorang yang dipaksa keadaan untuk tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya.
Moko diperankan oleh Chicco Kurniawan sebagai seorang anak bungsu yang awalnya sedang sibuk memikirkan masa depan. Ia hampir menyelesaikan kuliahnya, memiliki kekasih bernama Maurin, dan punya bayangan tentang kehidupan yang ingin ia jalani.
Namun semuanya berubah setelah kakaknya, Agnes, dan suaminya meninggal dunia. Moko kemudian harus mengambil peran sebagai orang tua bagi anak-anak yang ditinggalkan. Dan dari sinilah film mulai terasa dekat.
Sebab, bukankah hidup memang sering kali berjalan tanpa menunggu kita siap?
Kita mungkin sedang sibuk menyusun rencana, mengejar karir impian, menyelesaikan pendidikan, atau sekadar ingin menikmati hidup sedikit lebih lama. Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi dan membuat semua rencana itu harus disimpan terlebih dahulu.
Moko tidak pernah benar-benar memilih untuk menjadi kepala keluarga. Ia hanya tidak punya banyak pilihan.
Yang menarik, film ini tidak menjadikan Moko sebagai sosok yang selalu kuat. Ia lelah. Ia bingung. Ia juga harus berhadapan dengan persoalan ekonomi dan masa depan. Bahkan hubungan cintanya dengan Maurin ikut terdampak karena Moko merasa kehidupannya sudah terlalu penuh untuk mengikutsertakan orang lain.
Di titik ini, saya justru merasa film ini tidak sedang berbicara tentang pengorbanan secara sederhana. Karena pengorbanan terdengar indah kalau kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita sering memuji seseorang yang rela mengubur mimpinya demi keluarga. Kita bilang, "Dia hebat." "Dia kuat." "Dia anak baik."
Tapi jarang sekali kita bertanya, "sebenarnya, seberapa berat menjadi orang yang selalu dianggap kuat?"
Mungkin itu yang membuat perjalanan Moko terasa menyakitkan. Ia bukan manusia super. Ia hanya seseorang yang sedang berusaha bertahan.
Film ini juga menarik karena tidak sepenuhnya menjadikan keluarga sebagai sesuatu yang manis. Ada rasa sayang, tentu saja. Ada momen-momen lucu dan hangat bersama para keponakan. Namun di saat yang sama, ada konflik, ketidaknyamanan, dan orang-orang yang tanpa sadar menambah beban Moko.
Dengan begitu, keluarga dalam film ini terasa lebih manusiawi. Tidak selalu ideal, tetapi tetap menjadi tempat untuk pulang.
Saya juga menyukai bagaimana hubungan Moko dengan para keponakannya perlahan berkembang. Pada awalnya, menjadi wali bagi mereka bukan sesuatu yang mudah. Moko sendiri masih belajar menjadi dewasa, tetapi tiba-tiba harus mendidik anak-anak yang bahkan belum memahami perubahan di hidup mereka.
Di sinilah beberapa karakter keponakan seperti Woko, Nina, Ano, dan Ais memberikan warna berbeda. Ada kelucuan yang membuat film tidak terus-menerus terasa muram, tetapi ada juga momen sederhana yang justru mampu menghantam emosi penonton.
Kita sering menganggap orang dewasa sebagai seseorang yang sudah tahu apa yang harus dilakukan. Padahal mungkin tidak selalu begitu. Ada orang-orang yang menjadi dewasa karena keadaan.
Ada yang baru saja kehilangan pekerjaan tetapi tetap harus tersenyum di depan keluarganya. Ada yang ingin mengejar mimpinya tetapi harus membantu orang tua. Ada yang sebenarnya ingin beristirahat, tetapi masih ada tagihan yang harus dibayar.
Dan mungkin, Moko adalah gambaran dari orang-orang seperti itu. Orang yang tidak punya kesempatan untuk berkata, "Aku belum siap."
1 Kakak 7 Ponakan pada akhirnya bukan hanya tentang seorang kakak yang mengurus tujuh ponakan. Film ini adalah tentang pilihan-pilihan hidup yang kadang tidak pernah kita pilih sendiri. Tentang mimpi yang harus ditunda. Tentang cinta yang harus dilepaskan.
Tentang keluarga yang kadang terasa seperti beban, tetapi pada saat yang sama menjadi alasan seseorang terus berjalan. Dan mungkin, yang paling menyentuh dari semuanya adalah kesadaran bahwa menjadi keluarga bukan berarti tidak pernah merasa lelah satu sama lain.
Sebab keluarga adalah rumah. Dan mungkin rumah bukan tempat yang selalu membuat hidup kita mudah. Rumah adalah tempat di mana kita merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Bagaimana pendapatmu tentang film ini?