Ulasan

Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli

Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
The Stoic Way of Not Giving A Damn. (Dok.Pribadi/@dianhaerany_)

The Stoic Way of Not Giving A Damnbuku self improvement yang lagi-lagi berhasil menumbuhkan self awareness ke dalam diri saya yang ternyata memang terlalu banyak peduli pada hal-hal yang tidak perlu.

Menurut saya, buku karya Vee Ferra ini punya satu gagasan yang cukup menohok sejak awal: mungkin selama ini kita bukan terlalu banyak punya masalah, melainkan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita pedulikan.

Pernah nggak sih, kamu merasa lelah padahal seharian tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat? Bisa jadi tubuhmu memang sedang lelah. Tapi bisa juga pikiranmu yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Memikirkan apa kata orang. Memikirkan kenapa seseorang membalas pesan dengan singkat. Memikirkan apakah keputusan yang kita ambil sudah benar. Membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Sampai memikirkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Lucunya, sebagian besar hal tersebut mungkin tidak akan berarti apa-apa beberapa tahun dari sekarang. Namun, kita tetap menghabiskan begitu banyak energi untuk memikirkannya. Di sinilah The Stoic Way of Not Giving a Damn terasa relevan.

Buku ini mengajak pembaca melihat kembali bagaimana kita memberikan perhatian kepada berbagai hal dalam kehidupan, terutama hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Melalui sudut pandang Stoikisme yang dikemas dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, Vee Ferra mengajak kita untuk berhenti menambahkan drama ke dalam kepala sendiri.

Dan jujur saja, bagian ini terasa seperti tamparan kecil. Sebab sering kali kita menginginkan ketenangan, tetapi pada saat yang sama justru sibuk mencari sesuatu untuk dicemaskan.

Kita ingin tidak peduli dengan omongan orang, tetapi tetap membaca komentar negatif berkali-kali. Kita ingin berhenti overthinking, tetapi terus memutar ulang percakapan yang sudah terjadi berhari-hari lalu. Kita ingin hidup sesuai keinginan sendiri, tetapi masih terlalu sibuk memikirkan standar kehidupan orang lain. Lalu sebenarnya, apa yang membuat kita begitu sulit melepaskan sesuatu?

Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari Stoikisme adalah pengingat bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Kita tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Kita tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita juga tidak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi.

Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita merespons semuanya. Klise memang. Tapi kita sering kali lupa. Kita terlalu sibuk mencoba mengendalikan dunia sampai lupa bahwa satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri.

Buku ini juga membuat saya berpikir ulang tentang istilah 'not giving a damn.' Tidak peduli bukan berarti menjadi orang yang cuek, egois, atau tidak memiliki empati. Menurut saya, justru sebaliknya. Tidak peduli pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan berarti kita sedang belajar memilih mana yang layak mendapatkan energi kita.

Sebab energi kita terbatas. Kita tidak mungkin memikirkan semuanya. Tidak mungkin menyenangkan semua orang. Tidak mungkin membuat semua orang memahami pilihan kita. Dan yang paling penting, kita tidak harus selalu mendapatkan persetujuan orang lain untuk merasa bahwa hidup kita sudah cukup baik.

Di zaman ketika media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu dekat dengan kita, hal ini menjadi semakin sulit. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain. Ada yang sudah menikah, mendapatkan pekerjaan impian, membeli rumah, pergi ke luar negeri, atau mencapai sesuatu yang bahkan belum bisa kita bayangkan.

Tanpa sadar, kita mulai bertanya, “Kenapa hidup saya belum seperti mereka?”

Padahal kita hanya melihat potongan kecil dari kehidupan seseorang. Mungkin inilah salah satu pelajaran yang paling saya suka dari buku ini: kita perlu belajar membedakan antara sesuatu yang memang penting dengan sesuatu yang hanya terasa penting karena terlalu sering kita pikirkan.

Pada akhirnya, The Stoic Way of Not Giving a Damn bukan buku yang menjanjikan bahwa setelah membacanya kita akan langsung menjadi manusia yang selalu tenang dan tidak pernah overthinking. Rasanya tidak sesederhana itu.

Buku ini lebih seperti pengingat bahwa ketenangan bukan sesuatu yang tiba-tiba datang dari luar diri kita. Kadang, ketenangan justru muncul ketika kita berhenti memaksa diri untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Mungkin, sesekali kita memang perlu belajar untuk berkata, “Ya sudah.” Bukan karena kita tidak peduli. Tetapi karena kita akhirnya tahu apa yang memang pantas untuk kita pedulikan.

Kamu merasa terlalu peduli juga? Yuk, baca buku karya Vee Ferra yang bisa dibeli melalui e-commerce dengan harga terjangkau ini!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda