Ulasan

Islam & Lingkungan: Jangan Sampai Keserakahan Manusia Merusak Rumah Bersama

Islam & Lingkungan: Jangan Sampai Keserakahan Manusia Merusak Rumah Bersama
Buku Islam & Lingkungan karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab (Gramedia)

Buku Islam & Lingkungan: Perspektif Al-Quran Menyangkut Pemeliharaan Lingkungan memang tidak tebal. Bahkan, dibandingkan sejumlah karya Quraish Shihab lainnya, buku terbitan Lentera Hati pada 2023 ini terasa cukup ringkas.

Namun, jangan buru-buru menganggap tipis berarti ringan. Buku ini justru seperti sebuah cermin kecil yang memaksa saya melihat kembali perilaku manusia terhadap alam. Edisi pertama buku ini terbit pada September 2023, dan struktur pembahasannya mulai dari pencemaran lingkungan, hubungan Islam dan lingkungan hidup, prinsip-prinsip pemeliharaan lingkungan, hingga tuntunan praktis tentang lingkungan.

Saya membaca buku ini dengan perasaan yang agak berbeda. Sebab, isu lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sampah yang menumpuk, plastik sekali pakai, udara yang semakin panas, air yang tercemar, hutan yang berkurang, hingga bencana ekologis semuanya pada akhirnya kembali kepada manusia. Di sinilah buku Quraish Shihab ini terasa penting.

Manusia Bukan Pemilik Mutlak Bumi

Salah satu gagasan yang paling melekat bagi saya adalah cara Islam memandang posisi manusia di muka bumi. Menjadi khalifah tidak berarti manusia mendapatkan izin untuk mengeksploitasi alam sesuka hati. Kekhalifahan justru mengandung amanah.

Manusia boleh memanfaatkan alam, tetapi bukan berarti boleh memperlakukannya sebagai benda mati yang bebas dieksploitasi. Alam memiliki sistem, keseimbangan, dan keterkaitan yang harus dihormati.

Pada bagian awal pembahasannya, Quraish Shihab mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan telah disinggung Al-Qur'an jauh sebelum manusia mengenal istilah krisis iklim, pencemaran, deforestasi, atau pemanasan global.

Allah berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”

Ayat ini menjadi pintu masuk yang sangat kuat untuk memahami buku ini. Quraish Shihab menjelaskan makna al-fasad sebagai sesuatu yang keluar dari keseimbangan. Dalam konteks lingkungan, kerusakan bukan hanya ketika sesuatu benar-benar hancur, tetapi juga ketika keseimbangan dan manfaatnya mulai hilang.

Pembahasan tentang fasad ini berada pada bagian penting buku, sekitar halaman 23-26. Bahkan, kajian yang mengutip buku tersebut mencatat bahwa Quraish Shihab mengaitkan kerusakan dengan hilangnya keseimbangan akibat tindakan manusia.

Saya merasa konsep ini sangat relevan dengan keadaan hari ini. Kita sering menganggap sebuah kerusakan sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Padahal, alam bekerja seperti jaringan besar. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain ikut menerima dampaknya.

Alam Semesta Seperti Satu Tubuh

Bagian lain yang menarik bagi saya adalah penjelasan tentang pandangan Muhammad Husain Thabathaba'i mengenai alam semesta.

Alam raya diibaratkan seperti satu tubuh. Setiap bagian saling berkaitan dan saling memengaruhi. Kalau salah satu bagian mengalami gangguan, dampaknya dapat menjalar ke bagian lainnya.

Gagasan ini membuat saya berpikir bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar bisa memisahkan dirinya dari alam.

Kita membutuhkan air untuk hidup. Kita membutuhkan udara untuk bernapas. Kita membutuhkan tumbuhan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kita membutuhkan tanah untuk menghasilkan makanan. Laut juga bukan sekadar pemandangan indah untuk berlibur, tetapi bagian penting dari kehidupan. Oleh karena itu, ketika manusia merusak alam, sebenarnya manusia sedang merusak bagian dari rumahnya sendiri.

Quraish Shihab bahkan menegaskan bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk dalam keterkaitan dan keseimbangan. Ketika keharmonisan tersebut terganggu, kerusakan tidak hanya berhenti pada pelaku perusakan, tetapi dapat berdampak luas.

Pesan tersebut membuat QS. Al-Anfal ayat 25 terasa semakin relevan, bahwa ada fitnah atau bencana yang dampaknya tidak hanya mengenai orang-orang yang melakukan kezaliman. Dengan kata lain, kerusakan lingkungan memiliki efek domino.

Orang yang tidak membuang sampah sembarangan pun bisa terkena banjir akibat perilaku orang lain. Anak-anak yang belum lahir pun bisa menerima dampak perubahan iklim dari keputusan generasi sebelumnya. Di sinilah persoalan lingkungan berubah menjadi persoalan moral.

Bumi Bukan Sekadar Sumber Daya

Hal yang saya sukai dari buku ini adalah Quraish Shihab tidak mengajak pembaca untuk memusuhi pemanfaatan alam. Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia dan tidak menggunakan sumber daya alam. Yang ditekankan adalah keseimbangan.

Manusia boleh mengambil manfaat dari alam, tetapi tidak boleh berlebihan. Manusia boleh membangun, tetapi pembangunan tidak seharusnya mengorbankan kehidupan. Manusia boleh menggunakan teknologi, tetapi teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan daya dukung bumi. Di sinilah prinsip maslahat dan mudarat menjadi penting.

Kalau sebuah aktivitas menghasilkan manfaat, tetapi mudaratnya jauh lebih besar dan berlangsung dalam jangka panjang. Apakah aktivitas tersebut benar-benar membawa kemaslahatan? Pertanyaan semacam ini terasa sangat kekinian.

Kita bisa melihatnya dalam berbagai perdebatan tentang industri, energi, konsumsi, pertambangan, hingga kendaraan listrik. Kendaraan listrik memang menawarkan harapan bagi transisi energi, tetapi bahan bakunya juga harus diperoleh dengan cara yang bertanggung jawab.

Polemik pertambangan nikel di Raja Ampat menjadi salah satu contoh yang membuat pertanyaan tersebut semakin nyata. Pada 2025, pemerintah melakukan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan nikel di kawasan Raja Ampat dan menemukan sejumlah persoalan lingkungan; pemerintah kemudian mencabut empat izin usaha pertambangan di wilayah tersebut.

Saya tidak membaca buku ini sebagai buku yang secara khusus membahas Raja Ampat atau kendaraan listrik. Namun, prinsip yang ditawarkan Quraish Shihab terasa sangat relevan untuk membaca persoalan semacam itu.

Jangan sampai kita berbicara tentang teknologi hijau, tetapi lupa bahwa proses untuk menghasilkan teknologi tersebut juga harus menghormati alam.

Jangan sampai kita mengejar sesuatu yang disebut "ramah lingkungan", tetapi pada saat yang sama mengorbankan ekosistem lain. Sebab, bumi ini satu.

Dari Overconsumption hingga Polusi yang Tidak Terlihat

Buku ini juga menarik karena tidak berhenti pada persoalan hutan dan laut. Pembahasannya menyentuh berbagai unsur lingkungan, termasuk air, tumbuhan, udara, hingga pencemaran suara.

Ada satu pesan yang menurut saya sangat dekat dengan kehidupan modern, bahwa manusia perlu belajar bersyukur dan tidak berlebih-lebihan.

Hari ini kita hidup dalam budaya konsumsi yang luar biasa cepat. Membeli barang semakin mudah. Membuang barang juga semakin mudah. Kita bisa memesan makanan tanpa keluar rumah, membeli pakaian hanya karena sedang tren, mengganti gawai meski perangkat lama masih berfungsi, dan menumpuk barang karena tergoda diskon.

Masalahnya, setiap barang memiliki jejak ekologis. Ada bahan baku yang diambil dari bumi. Ada energi yang digunakan untuk memproduksinya. Ada kemasan yang dibuang. Ada emisi dari proses distribusi. Dan pada akhirnya ada sampah yang harus ditanggung lingkungan. Maka dari itu, pesan kesederhanaan dalam buku ini terasa semakin relevan.

Menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Bisa dimulai dari kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Generasi Muda Perlu Membaca Buku Ini

Menurut saya, buku ini sangat relevan untuk generasi muda. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat dekat dengan isu lingkungan. Mereka menghadapi perubahan iklim, persoalan sampah plastik, krisis air, deforestasi, polusi udara, dan berbagai persoalan ekologis lainnya.

Namun, pendidikan lingkungan sering kali berhenti pada ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Buku Quraish Shihab membawa persoalan tersebut ke ruang spiritualitas.

Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan menjadi warga yang baik, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk Allah. Ada hubungan antara iman, perilaku, konsumsi, dan lingkungan.

Saya kira inilah salah satu kekuatan buku ini. Generasi muda tidak hanya diajak menjadi aktivis lingkungan, tetapi juga diajak bertanya kepada diri sendiri: bagaimana agama yang saya yakini mengatur hubungan saya dengan bumi?

Bahkan, pembahasan tentang menanam dan merawat tumbuhan menjadi pengingat yang sederhana tetapi kuat. Sebuah kajian yang membahas buku ini mencatat penjelasan Quraish Shihab mengenai anjuran menanam dan merawat tumbuhan pada halaman 120-121.

Ada pula pembahasan mengenai hubungan manusia dengan alam dan posisi manusia sebagai khalifah yang dapat ditemukan pada bagian sekitar halaman 45-48.

Buku Kecil dengan Renungan yang Panjang

Setelah selesai membaca Islam & Lingkungan, saya justru merasa buku ini tidak benar-benar selesai. Ia masih berjalan bersama saya ketika melihat sampah di jalan. Ketika melihat sungai yang kotor. Ketika merasakan panas yang semakin menyengat. Bahkan ketika melihat berita tentang hutan dan laut yang terancam.

Buku ini mengingatkan bahwa alam bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia. Alam adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.

Saya juga menyukai cara Quraish Shihab membawa ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam persoalan yang sangat nyata. Ia tidak sekadar mengatakan, "Islam mengajarkan menjaga lingkungan", tetapi mengajak pembaca memahami prinsip, keseimbangan, sebab-akibat, kemaslahatan, dan tanggung jawab manusia.

Identitas Buku

  • Judul: Islam & Lingkungan: Perspektif Al-Quran Menyangkut Pemeliharaan Lingkungan
  • Penulis: M. Quraish Shihab
  • Penerbit: Lentera Hati
  • Cetakan: I, September 2023
  • Tebal: 150 halaman
  • ISBN: 978-623-5375-20-5
  • Genre: Agama & Spiritual

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda