Ulasan

Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur

Fourteen Ways of Looking at Jellyfish: 14 Cara Melihat Keajaiban Ubur-Ubur
Fourteen Ways of Looking (goodreads.com)

Fourteen Ways of Looking at Jellyfish karya Carole Boston Weatherford adalah buku bergambar yang mengajak pembaca melihat ubur-ubur dari empat belas sudut pandang berbeda.  Buku ini memadukan puisi, sains, sejarah, mitos, dan seni dalam sebuah perjalanan singkat ke dunia bawah laut. Hasilnya terasa informatif, tetapi tetap ringan dan penuh rasa takjub.

Sejak halaman pertama, ubur-ubur tidak lagi terlihat sebagai makhluk laut yang sekadar cantik. Weatherford memperkenalkannya sebagai invertebrata tanpa otak, jantung, darah, atau tulang yang memiliki sejarah sangat panjang. Fakta-fakta tersebut membuat pembaca menyadari bahwa makhluk sederhana ini menyimpan banyak misteri.

Keunikan buku ini terletak pada empat belas puisi yang memiliki pendekatan berbeda. Ada puisi yang terasa dramatis, ada yang tenang, dan ada pula yang membawa pembaca pada kisah rakyat serta pengamatan ilmiah. Pergantian sudut pandang tersebut membuat pembahasan tentang satu makhluk terasa jauh dari monoton.

Informasi ilmiahnya juga menarik karena disampaikan tanpa terasa seperti membaca buku pelajaran. Pembaca dikenalkan pada hampir empat ribu spesies ubur-ubur, kemampuan bioluminesensi, siklus hidup, hingga beberapa spesies yang memiliki racun berbahaya. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari puisi sehingga fakta terasa lebih hidup dan mudah diingat.

Salah satu hal yang paling mencolok tentu saja ilustrasi Bagram Ibatoulline. Setiap bagian menggunakan gaya visual yang berbeda untuk mengikuti suasana puisi yang sedang dibaca. Perubahan ini membuat setiap halaman terasa seperti menemukan dunia baru.

Ada ilustrasi yang menyerupai catatan ilmiah dari masa lalu. Ada pula gambaran impresionistik yang memperlihatkan ubur-ubur bergerak perlahan di dalam air. Variasi tersebut memperkuat gagasan utama buku bahwa satu makhluk dapat dilihat dengan banyak cara.

Beberapa halaman terasa sangat artistik dan penuh warna. Hamparan cahaya bioluminesensi memberikan kesan magis, seolah pembaca sedang menyelam ke laut yang tidak pernah benar-benar dikenal. Di halaman lain, warna dan bentuk justru dibuat lebih sederhana untuk menekankan informasi tertentu.

Bagian tentang sejarah kehidupan ubur-ubur juga menjadi salah satu yang menarik. Ilustrasinya membawa pembaca jauh ke masa ketika dinosaurus bahkan belum muncul. Kehadiran anomalocaris, krinoid, dan trilobita membuat pembahasan tersebut terasa seperti perjalanan menembus waktu.

Buku ini juga tidak hanya menampilkan sisi indah ubur-ubur. Ada pembahasan mengenai spesies berbahaya, termasuk ubur-ubur kotak yang digambarkan melalui gaya seperti komik. Pendekatan tersebut membuat informasi tentang bahaya terasa lebih kuat tanpa menghilangkan daya tarik visualnya.

Menariknya, unsur budaya juga mendapat ruang dalam buku ini. Salah satu bagian menghadirkan nuansa ilustrasi Jepang untuk mendukung cerita rakyat tentang ubur-ubur. Perpaduan fakta dan folklore membuat pembaca memahami bahwa makhluk laut dapat memiliki tempat dalam pengetahuan maupun imajinasi manusia.

Kekuatan lain buku ini adalah kemampuannya menghubungkan puisi dengan rasa ingin tahu. Setelah membaca satu bagian, pembaca bisa terdorong untuk bertanya tentang nama spesies, habitat, kemampuan bertahan hidup, atau alasan ubur-ubur dapat bercahaya.

Buku ini akhirnya tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga membuka pintu untuk pertanyaan berikutnya. Untuk pembaca muda, buku ini cocok sebagai pengantar mengenal kehidupan laut dengan cara yang kreatif. Orang tua dan guru juga dapat memanfaatkannya untuk membuka percakapan tentang biologi, ekosistem, seni, atau hubungan antara fakta dan cerita.

Bahkan pembaca dewasa dapat menikmati buku ini karena kekuatan visual dan puisinya tidak terasa kekanak-kanakan. Keseimbangan antara keindahan dan informasi membuat pengalaman membaca terasa hangat, menyenangkan, dan mudah dinikmati bersama keluarga tercinta.

Secara keseluruhan, Fourteen Ways of Looking at Jellyfish adalah buku yang berhasil membuat sains terasa indah. Carole Boston Weatherford menghadirkan puisi yang memberi kehidupan pada fakta, sementara Bagram Ibatoulline menerjemahkannya menjadi empat belas pengalaman visual yang berbeda.

Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin mengenal ubur-ubur melalui ilmu pengetahuan, imajinasi, dan seni sekaligus. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda