Ulasan

Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!

Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!
Poster serial Furious (IMDb)

Furious merupakan serial drama kriminal psikologis Amerika Serikat tahun 2026 yang diciptakan oleh Elizabeth Meriwether. Serial ini dibintangi Emmy Rossum sebagai agen FBI Alice Black dan Lola Petticrew sebagai Catherine Grace, seorang pembunuh berantai perempuan yang cerdas serta terhitung. Serial ini secara longgar terinspirasi dari film Black Widow tahun 1987, namun menghadirkan pendekatan yang jauh lebih modern dan relevan dengan isu-isu kontemporer mengenai kekerasan terhadap perempuan, perdagangan seks, serta batasan antara keadilan dan balas dendam.

Perburuan Pembunuh Misterius yang Sangat Mencekam

Salah satu adegan di serial Furious (IMDb)
Salah satu adegan di serial Furious (IMDb)

Alur cerita mengikuti Alice Black, mantan detektif pembunuhan NYPD yang kini bekerja sebagai agen percobaan di FBI setelah mengungkap korupsi di kepolisian sebelumnya. Alice menemukan pola mencurigakan pada serangkaian kematian yang tampak seperti overdosis.

Di sisi lain, Catherine Grace secara metodis menargetkan laki-laki berpengaruh yang terlibat dalam jaringan kekerasan dan eksploitasi. Ketika jalur kedua perempuan ini semakin saling terkait, garis antara benar dan salah menjadi kabur. Ini mengeksplorasi trauma, kemarahan perempuan, serta sistem yang gagal melindungi korban.

Review Serial Furious

Salah satu adegan di serial Furious (IMDb)
Salah satu adegan di serial Furious (IMDb)

Musim pertama terdiri atas delapan episode. Episode-episode tersebut berjudul The Gorgon, My Life Had Stood – A Loaded Gun, Memory Distortion, Flash Flood, Pick a Sticker, They Make a Noise Like Feathers, Some Days It Don’t Come Easy, dan Hart Island. Menurut data yang kubaca, serial ini mendapat pujian kritis yang tinggi, dengan skor Rotten Tomatoes mencapai sekitar 98 persen pada beberapa laporan, serta penampilan Rossum dan Petticrew yang kuanggap sangat kuat.

Furious tayang perdana di Hulu pada 27 Juli 2026 dengan tiga episode pertama, diikuti rilis mingguan hingga episode final pada 31 Agustus 2026. Secara internasional, termasuk di wilayah Indonesia, serial ini tersedia untuk streaming di Disney+. Seluruh episode musim pertama sudah dapat ditonton di platform tersebut. 

Kekuatan utama Furious terletak pada penulisan yang matang dan penampilan aktor yang mendalam. Elizabeth Meriwether, yang sebelumnya dikenal melalui The Dropout dan Dying for Sex, berhasil menghadirkan narasi yang tegang tanpa kehilangan dimensi emosional. Alice digambarkan sebagai tokoh yang kompleks: profesional, traumatis, serta rentan terhadap obsesi. Catherine bukan sekadar penjahat, melainkan tokoh yang membawa motivasi yang dapat dipahami meski tindakannya ekstrem.

Sinematografi dan penyutradaraan mendukung suasana tegang. Penggunaan ruang yang sempit, kontras cahaya, serta dialog yang padat menciptakan intensitas yang konsisten. Tema-tema mengenai kekerasan sistemik, survivor trauma, dan keadilan vigilante dibahas tanpa penyederhanaan berlebihan. Serial ini tidak menawarkan jawaban mudah, melainkan mendorongku untuk merenungkan moralitas yang abu-abu.

Kalau kritik dariku sih berkaitan dengan beberapa plot yang intens dan berpotensi memicu bagi penonton yang sensitif terhadap isu kekerasan seksual. Namun, secara keseluruhan, Furious kuanggap sebagai salah satu drama kriminal paling berkesan di tahun 2026.

Salah satu adegan paling emosional terjadi di episode keenam, They Make a Noise Like Feathers. Alice dan Catherine bertemu secara langsung di sebuah shelter. Dalam situasi yang tegang, keduanya saling mengungkapkan kerentanan. Alice terpaksa mengakui alasan ia tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya dari mantan pasangannya, sementara Catherine menunjukkan disosiasi yang mendalam. Adegan di ruang mandi, dengan air mengalir dan ketegangan fisik yang tinggi, memperlihatkan bagaimana trauma membentuk keduanya. Dialog yang jujur dan penampilan keduanya yang mentah membuat adegan ini sangat menyentuh.

Adegan lain yang sarat emosi adalah pengungkapan mengenai kematian Isabel di episode final. Catherine mengingat kembali bahwa ia sendiri yang memberikan suntikan mematikan atas permintaan Isabel yang sekarat. Momen ini disampaikan dengan kelembutan yang menghancurkan, menunjukkan cinta dan keputusasaan yang saling bertautan.

Adegan yang paling membekas adalah klimaks di episode kedelapan, Hart Island. Alice berada di samping Jay Easton yang terbaring lemah. Setelah mendengar pernyataan yang menghubungkan dirinya dengan masa lalu yang kelam, Alice secara diam-diam menginjak selang oksigen dan menutup mulut korban hingga ia meninggal. Adegan ini tidak disajikan secara spektakuler, melainkan dengan ketenangan yang mengerikan. Penutupan wajah Alice yang kemudian tersenyum saat berbicara dengan Catherine di penjara menjadi momen yang sulit dilupakan.

Adegan lain yang kuat adalah interaksi Alice dengan Danny Kelly (Scoot McNairy) di pantai, di mana keduanya mencoba membangun kedekatan di tengah kerusakan emosional masing-masing. Momen tersebut menawarkan kelegaan yang rapuh di tengah kegelapan cerita.

Pada akhirnya, Furious berhasil menghadirkan thriller kriminal yang cerdas, emosional, dan relevan. Serial ini layak ditonton bagi penggemar drama psikologis yang menghargai karakter kompleks serta eksplorasi tema sosial yang berat. Dengan seluruh episode yang telah tersedia di Disney+ Indonesia, penonton dapat menikmati narasi yang padat dan membekas ini secara utuh. Rating pribadi: 8.5/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda