Ulasan

Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper

Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
Poster film The Love Hypothesis (IMDb)

The Love Hypothesis adalah adaptasi film rom-com tahun 2026 dari novel best-seller Ali Hazelwood yang sama judulnya.

Disutradarai Claire Scanlon (yang sebelumnya menggarap Set It Up) dengan skenario Sarah Rothschild, film ini dibintangi Lili Reinhart sebagai Olive Smith dan Tom Bateman sebagai Dr. Adam Carlsen.

Tayang perdana secara global di Prime Video pada 23 September 2026, termasuk wilayah Indonesia. Saat ini film sudah bisa ditonton kapan saja di Prime Video Indonesia bagi pelanggan Amazon Prime.

Sebuah Momen Ciuman Pertama yang Unforgettable

Salah satu adegan di film The Love Hypothesis (IMDb)
Salah satu adegan di film The Love Hypothesis (IMDb)

Olive adalah mahasiswa PhD biologi di Stanford yang fokus meneliti deteksi dini kanker pankreas. Ia cerdas, sedikit canggung secara sosial, dan sangat berdedikasi pada kariernya. Sahabat terdekatnya, Anh (Rachel Marsh), ternyata menyukai Jeremy (Nicholas Duvernay)—pria yang sempat menjadi crush Olive.

Demi mendorong Anh mengejar Jeremy, Olive berbohong punya pacar baru. Ketika Anh datang ke lab untuk mengecek, Olive panik dan mencium pria pertama yang ada di dekatnya. Pria itu ternyata Dr. Adam Carlsen, profesor yang terkenal galak dan digelari Dr. Evil oleh mahasiswa.

Dari ciuman dadakan itu lahir kesepakatan mutual: mereka berpura-pura berpacaran. Olive butuh bukti bahwa ia sudah move on, sementara Adam ingin meyakinkan pihak universitas bahwa ia tidak akan pindah sehingga grant penelitiannya tidak dibekukan.

Aturan main jelas, batas tegas, dan semuanya hanya pertunjukan. Akan tetapi semakin sering mereka berinteraksi—di kampus, di acara fakultas, bahkan di konferensi ilmiah—garis antara pura-pura dan perasaan nyata mulai kabur. Olive terpaksa menguji hipotesis paling sulit: apakah cinta memang layak diambil risikonya?

Review Film The Love Hypothesis

Salah satu adegan di film The Love Hypothesis (IMDb)
Salah satu adegan di film The Love Hypothesis (IMDb)

Film ini berjalan dengan tempo yang nyaman, penuh awkward comedy khas rom-com, sekaligus menyisipkan tema serius seputar dunia akademia STEM, tekanan imposter syndrome, dan dinamika power imbalance. Reinhart berhasil menangkap sisi vulnerable sekaligus tekad kuat Olive.

Bateman, dengan gaya deadpan dan sedikit kaku di awal, perlahan memperlihatkan sisi lembut Adam yang jarang terlihat orang. Chemistry mereka tidak langsung meledak, tapi berkembang organik—dari saling canggung menjadi saling mengerti.

Supporting cast juga solid, terutama Rachel Marsh sebagai Anh yang hangat dan setia, serta Jaboukie Young-White yang memberi warna komedi.

Salah satu adegan paling kuingat adalah ciuman pertama di lab. Olive yang panik, Adam yang terkejut, dan ekspresi keduanya yang campur aduk antara kaget, bingung, dan sedikit tertawa. Adegan ini mereplikasi cover novel dengan baik dan langsung menetapkan tone film: konyol, romantis, sekaligus authentic.

Adegan lain yang membekas adalah saat mereka harus mempertunjukkan hubungan di depan kolega, termasuk sesi oles sunscreen di punggung Adam yang shirtless.

Olive yang berusaha flirting sambil canggung, Adam yang bingung tapi ikut bermain, menciptakan momen lucu sekaligus manis dan kurasa ini sebagai highlight komedi filmnya sih.

Untuk adegan paling romantis, ada pada adegan di hotel setelah konferensi. Adam menggendong Olive bridal-style karena sepatu high heels-nya membuat kaki sakit, lalu mereka terpaksa berbagi kamar. Di sana, setelah sekian lama hanya berpura-pura, mereka akhirnya membiarkan perasaan muncul tanpa ada yang melihat.

Adegan intim yang mengikuti (dengan lighting lembut dan musik yang pelan) terasa personal dan penuh ketegangan yang tertahan.

Ada juga detail kecil seperti hati dari M&Ms yang ditinggalkan Adam—sentuhan manis yang langsung mengingatkan pada novel dan membuatku berdesir. Momen-momen ini berhasil mengangkat film dari sekadar fake-dating formula menjadi kisah tentang dua orang yang belajar membuka diri.

Overall, The Love Hypothesis tidak berusaha merevolusi genre. Ia justru merayakan tropes yang sudah familiar—fake relationship, forced proximity, slow-burn chemistry—dengan eksekusi yang rapi, humor yang tepat, dan ending yang memuaskan.

Beberapa kritik dariku soal tonality yang kadang tidak konsisten dan beberapa subplot yang kurang digali, tapi bagi penggemar rom-com dan pembaca novel Hazelwood, film ini terasa seperti pelukan hangat. Durasi sekitar 112 menit terasa, justru menghasilkan hasil terbaik. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda