Ulasan
Ribuan Followers tapi Kesepian? Buku Klasik Tahun 1936 Ini Punya Jawaban Menohok Buat Gen Z!
Ada satu hal yang mungkin semakin sulit dilakukan di zaman sekarang, untuk benar-benar berbicara dengan orang lain.
Bukan sekadar membalas chat dengan “wkwk”, memberikan emoji, atau menekan tombol like di unggahan seseorang. Maksud saya adalah berbicara langsung, mendengarkan tanpa sibuk memikirkan balasan, membaca ekspresi wajah, memahami nada suara, bahkan menghadapi situasi canggung tanpa bisa bersembunyi.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, kita memang semakin mudah terhubung. Tetapi apakah kita benar-benar semakin pandai berhubungan dengan orang lain? Pertanyaan tersebut justru terasa menarik ketika saya membaca How to Win Friends & Influence People karya Dale Carnegie.
Buku yang pertama kali diterbitkan pada 1936 ini mungkin terdengar seperti buku pengembangan diri klasik yang sudah terlalu jauh dari kehidupan Gen Z. Namun setelah membacanya, saya justru merasa beberapa prinsip di dalamnya semakin relevan di tengah kehidupan yang serba digital.
Sebab masalah manusia ternyata tidak banyak berubah. Kita tetap ingin dihargai. Ingin didengarkan. Ingin dianggap penting. Ingin diterima oleh lingkungan sekitar. Bedanya, sekarang kebutuhan tersebut sering kali muncul dalam bentuk yang berbeda.
Kita mengecek berapa banyak orang yang menyukai unggahan kita. Memikirkan mengapa seseorang hanya melihat story tetapi tidak membalas pesan. Merasa senang ketika mendapatkan komentar positif dan mulai mempertanyakan diri sendiri ketika unggahan kita tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
Validasi memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat. Dan salah satu pesan paling kuat dari buku Carnegie adalah tentang ketertarikan yang tulus terhadap orang lain.
Carnegie tidak mengajarkan kita untuk memanipulasi orang agar menyukai kita. Justru sebaliknya, ia mendorong pembaca untuk berhenti terlalu sibuk membicarakan diri sendiri dan mulai belajar memahami orang lain. Kelihatannya sederhana, tetapi coba kita praktikkan.
Ketika sedang berbicara dengan teman, berapa kali kita benar-benar mendengarkan tanpa sesekali mengecek ponsel?
Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, apakah kita benar-benar mendengarkan atau justru sibuk menunggu giliran untuk menceritakan pengalaman kita sendiri?
Di media sosial, kita terbiasa menampilkan diri. Kita memilih foto terbaik, menulis caption yang sesuai, menghapus unggahan yang tidak mendapatkan respons, bahkan membangun versi diri tertentu agar disukai orang.
Tetapi kehidupan sosial tidak berhenti di depan kamera. Ada dunia nyata yang membutuhkan kemampuan untuk hadir sebagai manusia, bukan sekadar sebagai profil digital.
Salah satu prinsip Carnegie yang menurut saya paling relevan adalah untuk menjadi pendengar yang baik. Ini terdengar seperti kemampuan dasar. Namun sebenarnya, mendengarkan adalah salah satu bentuk penghargaan paling sederhana yang bisa kita berikan kepada orang lain.
Karena kadang, seseorang hanya ingin merasa bahwa ceritanya benar-benar didengar.
Hal lain yang menarik adalah gagasan untuk menghindari kritik, kecaman, dan keluhan yang tidak perlu. Bukan berarti kita tidak boleh memberikan kritik. Tetapi cara menyampaikannya sangat menentukan bagaimana pesan tersebut diterima.
Ini terasa semakin relevan di era komentar internet. Kita bisa menulis sesuatu kepada orang lain hanya dalam beberapa detik. Sayangnya, layar membuat kita lupa bahwa di balik akun tersebut ada manusia yang memiliki perasaan.
Sesuatu yang mungkin terasa seperti 'cuma komentar' bagi kita bisa saja menjadi sesuatu yang terus dipikirkan orang lain sepanjang hari.
Karena tidak berhadapan langsung, kita terkadang lebih mudah mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan berani kita ucapkan jika orang tersebut berdiri tepat di depan kita.
Buku ini seperti mengingatkan bahwa kemampuan bersosialisasi bukan hanya tentang bagaimana membuat orang menyukai kita. Lebih dari itu, kemampuan tersebut adalah tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain.
Menurut saya, inilah alasan mengapa buku yang sudah berusia puluhan tahun ini masih menarik dibaca Gen Z. Kita hidup di zaman ketika jumlah koneksi tidak selalu berarti jumlah hubungan yang bermakna. Kita bisa memiliki ratusan atau bahkan ribuan followers, tetapi tetap merasa kesepian.
Kita bisa berbicara dengan banyak orang setiap hari melalui chat, tetapi merasa canggung ketika harus membuka percakapan secara langsung. Kita bisa mengetahui kehidupan seseorang melalui media sosial, tetapi belum tentu mengenalnya secara nyata.
Mungkin karena itu, How to Win Friends & Influence People terasa seperti sebuah pengingat untuk kembali belajar menjadi manusia di luar layar. Buku ini tidak mengajarkan cara menjadi orang paling populer di ruangan. Tidak juga menjanjikan bahwa semua orang akan menyukai kita.
Sebaliknya, Carnegie menunjukkan bahwa hubungan yang baik dibangun dari hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana seperti ketertarikan yang tulus, kemampuan mendengarkan, menghargai orang lain, mengingat nama, menunjukkan apresiasi, dan berusaha memahami sudut pandang orang lain.
Mungkin, di zaman ketika kita terlalu terbiasa mengetik daripada berbicara, kemampuan-kemampuan sederhana tersebut justru menjadi semakin berharga. Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa mungkin kita tidak benar-benar kekurangan teman.
Kita hanya semakin kekurangan kehadiran yang nyata.
Kita perlu lebih sering meletakkan ponsel ketika seseorang sedang berbicara. Lebih sering bertanya “kamu apa kabar?” dan benar-benar menunggu jawabannya. Lebih sering mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.
Karena pada akhirnya, memenangkan hati orang lain bukan tentang membuat mereka terkesan kepada kita. Tetapi tentang bagaimana kita membuat orang tersebut merasa lebih didengar.