Ulasan
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
Bagaimana jika seorang anak kecil menganggap kematian jadi rumah yang lebih nyaman dibanding pelukan kedua orang tuanya? Pertanyaan tersebut tergambar melalui Salva atau yang akrab dipanggil Ava, tokoh utama dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Di usia yang masih sangat muda, Ava sudah terbiasa menghadapi kekerasan dan kehidupan keluarga yang jauh dari kata aman dari papanya.
Ketika bertemu Pepper, Ava menemukan seseorang yang juga memahami bagaimana rasanya hidup dalam keluarga yang tidak memberikan rasa aman. Keduanya kemudian menghadapi berbagai persoalan bersama hingga mencari jalan keluar untuk merasakan kebebasan.
Apakah keduanya berhasil? Apakah yang dimaksud kebebasan adalah dengan mengakhiri hidup di dunia mereka yang gelap itu?
Ava, P, dan Dunia yang Tak Aman

Bagi seorang anak, rumah seharusnya menjadi tempat untuk merasa aman. Namun, hal tersebut tidak dirasakan oleh Ava dalam Di Tanah Lada. Ia justru tumbuh di tengah keluarga yang penuh konflik dan kekerasan, sehingga rumah tidak lagi menjadi tempat untuk berlindung.
Ava sudah terbiasa dengan KDRT oleh papanya sejak ia kecil. Tak hanya kekerasan verbal yang meninggalkan trauma mental, Ava juga kerap merasakan KDRT fisik. Misalnya seperti saat Ava tertidur di atas koper yang terbuka, papa Ava secara sengaja menutup koper itu dengan Ava yang terjepit di dalamnya.
Tak hanya mengalami, Ava juga menyaksikan secara langsung KDRT dari teman dekatnya, P, yang dilakukan oleh papa P. Saat Ava bermain ke rumah P, papa P tiba-tiba masuk ke rumah. Mereka bersembunyi karena ketakutan akan disiksa. Sayangnya, P ketahuan dan ia dipukul dengan setrika panas hingga kulitnya melepuh.
Di samping rasa takutnya, Ava juga memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan P dari situasi yang menjerat sama sepertinya.
Ketika Anak-anak Dipaksa Hidup di Dunia Dewasa

Ava dan P sama-sama tumbuh dalam keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung, tetapi justru menjadi sumber ketakutan. Alih-alih mendapatkan perlindungan dari orang dewasa, keduanya harus menghadapi kekerasan dan mencari cara sendiri untuk keluar dari keadaan tersebut.
Hal ini terlihat saat mereka harus saling menguatkan ketika mengalami kekerasan oleh papa mereka masing-masing. Ironisnya, mereka juga terpaksa mengambil keputusan besar untuk menyelesaikan masalah tersebut, di mana mereka belum mencapai fase untuk melakukan hal itu. Melihat kelakuan masing-masing papanya, mereka tak lagi percaya pada orang dewasa.
Dengan pemikiran polos dan impulsif untuk mencari perlindungan, mereka ingin menemui Nenek Isma di Bandar Lampung, tempat yang jauh untuk ditempuh anak-anak tanpa dampingan orang dewasa.
Apakah Mati Benar-Benar Jadi Jalan Keluar?

Ketika kehidupan Ava dipenuhi kekerasan dan rasa takut hingga hidupnya selalu dipenuhi dengan siasat jalan keluar. Jika hidup berarti terus menghadapi penderitaan, tidak hidup bisa terasa seperti cara untuk menghentikan semuanya.
Pertemuannya dengan P menjadi salah satu titik penting. Akhirnya, Ava menemukan seseorang yang bisa mengerti apa yang ia rasakan. Mereka saling menguatkan dan menemani satu sama lain untuk berjalan menuju kebebasan.
Namun, apakah mereka harus mati untuk merasakan kebebasan? Dari sudut pandang pembaca, saya tidak melihat kematian mereka sebagai sebuah jalan keluar. Justru, kematian Ava dan P dapat dibaca sebagai kritik tajam terhadap lingkungan yang masih membiarkan anak-anak mengalami kekerasan, baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi.
Kematian mereka bukan sekadar tentang keinginan untuk mengakhiri hidup. Mereka hanya ingin jiwa murni mereka terlepas dari ikatan penderitaan. Saat tiba di tepi laut, mereka tiba-tiba melihat ujung dari rasa takut dan ancaman yang mengekor selama ini. Bagi mereka, kematian mungkin terlihat sebagai satu-satunya pintu menuju kebebasan yang tidak berhasil mereka temukan ketika masih hidup.