Ulasan
Review Melo Movie: Ketika Arah Hidup Terasa Membingungkan untuk Semua Orang
Selalu ada fase dalam kehidupan ketika kita mulai bertanya-tanya tentang arah hidup ini ke depannya. Teman-teman mungkin sudah punya pekerjaan tetap, mulai membangun karier, menikah, atau terlihat semakin yakin dengan masa depan. Sementara kita masih sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Bukan karena tidak punya mimpi. Hanya saja, kadang kita terlalu lelah untuk mengejarnya. Perasaan seperti inilah yang menurut saya membuat Melo Movie terasa relate dengan kehidupan anak muda sekarang.
Drama Korea yang dibintangi Choi Woo-shik dan Park Bo-young ini memang dibungkus sebagai cerita romantis. Namun, kalau diperhatikan lebih jauh, Melo Movie sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih luas, yaitu tentang cinta, mimpi, kehilangan, luka masa lalu, dan orang-orang yang sedang berusaha menemukan kembali alasan untuk menjalani hidup.
Drama ini terdiri dari 10 episode dan mengikuti empat karakter utama yang berada di usia 30-an, yaitu Ko Gyeom, Kim Mu Bee, Hong Si-jun, dan Son Ju-a. Mereka memiliki kehidupan dan persoalan masing-masing, tetapi semuanya sama-sama sedang berhadapan dengan cinta dan impian yang tidak berjalan sesuai rencana.
Choi Woo-shik berperan sebagai Ko Gyeom, seorang pencinta film yang awalnya bekerja sebagai figuran sebelum akhirnya menjadi kritikus film. Hidupnya seolah sangat dekat dengan dunia sinema. Ia bahkan memiliki impian untuk menonton semua film yang pernah dibuat.
Kemudian ada Kim Mu Bee (Park Bo-young), seorang sutradara film yang memiliki hubungan rumit dengan dunia perfilman karena masa lalunya bersama sang ayah. Keduanya pernah bertemu dan saling menyukai. Namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama.
Lima tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda. Gyeom telah menjadi kritikus film, sementara Mu Bee sudah menjadi seorang sutradara. Pertemuan kembali tersebut membuat perasaan lama yang seharusnya sudah selesai justru kembali muncul.
Kalau dilihat sekilas, ini memang terdengar seperti formula drama romantis pada umumnya. Mantan kekasih bertemu kembali. Masih saling suka. Ada kesalahpahaman. Kemudian perlahan belajar membuka hati lagi. Tetapi justru perjalanan menuju sana yang membuat Melo Movie menarik.
Saya merasa drama ini tidak terlalu terburu-buru mengatakan bahwa cinta bisa menyelesaikan semua masalah. Sebaliknya, cinta di sini hadir sebagai sesuatu yang harus dipahami setelah masing-masing karakter berusaha menyelesaikan persoalan dalam dirinya sendiri.
Ini terasa sangat relevan untuk kita yang sedang berada di usia 20-an atau 30-an. Ada anggapan bahwa ketika sudah menemukan pasangan yang tepat, hidup akan terasa lebih mudah. Seolah-olah kehadiran seseorang dapat membuat semua kebingungan menghilang.
Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Melo Movie memperlihatkan bahwa seseorang tidak harus 'diselamatkan' oleh cinta. Terkadang, kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani proses kita memahami diri sendiri.
Hal lain yang saya suka adalah bagaimana drama ini membicarakan tentang mimpi. Gyeom mencintai film. Mu Bee ingin membuat film. Si-jun ingin menjadi komposer hebat. Ju-a menulis cerita yang memiliki hubungan erat dengan pengalaman pribadinya.
Mereka semua punya sesuatu yang ingin dicapai. Tetapi seperti kehidupan nyata, memiliki mimpi bukan berarti perjalanan menuju ke sana akan selalu menyenangkan.
Bagian paling menyakitkan dari menjadi dewasa adalah menyadari bahwa tidak semua hal yang kita inginkan bisa terjadi sesuai dengan jadwal yang kita buat sendiri. Kita sering melihat pencapaian orang lain dan mulai merasa tertinggal.
Melo Movie seperti ingin mengatakan bahwa hidup bukan film yang sudah memiliki naskah lengkap dari awal. Tidak semua orang mendapatkan alur yang sama. Ada yang menemukan karier lebih dulu. Ada yang menemukan cinta lebih dulu. Ada yang harus kehilangan sesuatu sebelum akhirnya paham apa yang sebenarnya ia inginkan.
Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan dirinya sendiri.
Selain pasangan Gyeom dan Mu Bee, kisah Hong Si-jun dan Son Ju-a juga memberikan warna tersendiri. Si-jun merupakan seorang musisi yang percaya pada kemampuan dirinya, sementara Ju-a adalah penulis skenario sekaligus mantan kekasihnya.
Bertahun-tahun setelah hubungan mereka berakhir, keduanya kembali bertemu melalui pekerjaan. Kisah mereka mengingatkan bahwa tidak semua hubungan berakhir karena seseorang berhenti mencintai. Kadang kita berpisah karena belum tahu bagaimana cara mencintai dengan benar.
Itulah yang membuat judul Melo Movie terasa cocok. Hidup mereka memang seperti sebuah film. Ada adegan romantis, komedi, konflik, kehilangan, bahkan bagian ketika penonton mungkin ingin berteriak karena karakternya mengambil keputusan yang tidak masuk akal.
Namun seperti film, kehidupan juga tidak selalu memberikan akhir yang bisa kita tebak.
Menurut saya, kekuatan terbesar drama ini justru terletak pada suasananya yang bittersweet. Ia tidak terus-menerus memaksa penonton untuk menangis, tetapi memberikan ruang untuk memahami bahwa menjadi dewasa memang terkadang terasa melelahkan.
Kalau hidup memang seperti sebuah film, mungkin kita sedang berada di bagian tengah cerita. Bagian ketika konfliknya belum selesai dan jalan keluarnya belum terlihat.
Jadi, kalau saat ini hidup kamu terasa berantakan, mungkin bukan berarti ceritanya buruk. Mungkin kita hanya belum sampai di adegan berikutnya yang kita nantikan.