Ulasan
The Story of an Hour: Merasakan Satu Jam Kebebasan sebagai Perempuan
Menurutmu, satu jam itu waktu yang singkat atau panjang? Bagi Louise Mallard, waktu satu jam itu bisa membuatnya merasakan kebebasan. Dalam satu jam pula, ia mengalami dinamika emosi, mulai dari kesedihan, menemukan harapan, merasakan kebebasan, sekaligus melihatnya hancur dalam seketika.
Dalam cerpen klasik The Story of an Hour, Kate Chopin menuliskan kisah Louise Mallard yang mendapat kabar bahwa suaminya meninggal dunia. Ia yang memiliki fisik lemah karena masalah jantung, mengalami syok saat mendengarnya. Ia menangis dan kemudian memilih menyendiri di kamarnya. Namun, kesedihan tersebut perlahan berubah menjadi perasaan yang tidak ia duga, kebebasan.
Untuk pertama kalinya, Louise mulai membayangkan kehidupan, yang sebelumnya dihantui bayang-bayang pernikahan dan suaminya, kini sepenuhnya akan menjadi miliknya.
Harapan yang Muncul di Tengah Bayang Kesedihan

Setelah mendengar kabar kematian suaminya, Louise menyendiri di kamarnya. Saat ia menangis dan duduk di tepi jendela, perasaannya mulai berubah. Louise mulai menyadari bahwa kematian suaminya juga berarti ia tidak lagi harus menjalani kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Harapan justru muncul setelah ia memiliki waktu untuk menyendiri dan menyadari bahwa ada kemungkinan kehidupan lain yang selama ini tidak ia bayangkan.
Menariknya, saat perasaan lega itu muncul, ia justru takut. Namun, semakin dipikirkan, keinginannya untuk lepas dari pernikahan tersebut semakin kuat. Ia juga melihat ada sisi dirinya yang lain yang menuntut kehidupan bebas yang dulu belum ia rasakan.
Kebebasan Perempuan Saat Itu yang Diikat Tali Pernikahan

Dalam cerpen The Story of an Hour, Louise merasa tertekan dengan pernikahannya meskipun ia tak mengalami kekerasan. Meski begitu, ia tak lepas dengan peran seorang istri pada abad 19 yang harus selalu hidup dalam bayang-bayang suaminya. Apalagi, di sepanjang cerita, Louise selalu dipanggil dengan sebutan 'Mrs. Mallard' atau 'Nyonya Mallard'. Hal ini menunjukkan identitas aslinya yang mulai terkikis. Bahkan, nama Louise baru tersebut saat ia memanggil dirinya sendiri.
Di sisi lain, sebenarnya Louise dan Brently Mallard, suaminya, hidup saling mencintai. Namun, tekanan sosial yang berpegang pada sistem patriarki membuat kehidupan seorang perempuan sekaligus istri hampir tak memiliki ruang untuk dirinya sendiri. Kehidupan Louise tidak hanya menjadi miliknya sendiri karena ada keinginan dan kehendak orang lain yang harus dipertimbangkan.
Saat Harapan dalam Satu Jam Habis

Harapan Louise tentang kehidupan barunya ternyata tidak berlangsung lama. Ketika ia keluar dari kamar dan turun bersama saudara perempuannya, Josephine, Brently Mallard justru tiba di rumah dalam keadaan hidup. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa keluarganya mengira dirinya telah meninggal dalam kecelakaan.
Bayangan kebebasan dalam pikirannya seketika runtuh. Dalam sekejap, semuanya berubah menjadi kehidupan semula yang ia jalani sebelumnya.
Karena terkejut, Louise pun tiba-tiba meninggal karena kondisi jantungnya. Ironisnya, orang-orang justru menganggap ia terlalu bahagia karena suaminya baik-baik saja. Padahal, ia mengalami kesedihan yang lebih dalam dibanding saat mendengar kabar meninggalnya Brently.
Miris melihat reaksi orang-orang di sekitar Louise yang berbeda dengan apa yang sebenarnya ia rasakan. Mereka yang di dekatnya tidak menyadari apakah ia bahagia dengan peran dan pernikahannya atau bagaimana perasaan sebenarnya atas kabar tentang suaminya. Peran patriarki sangat besar hingga mengabdi kepada suami hingga mengabaikan kondisi pribadi menjadi hal yang lumrah.