Ulasan
Relevansi 'Lembaga Budi' Buya Hamka: Saat Kesopanan dan Etika Mulai Luntur di Media Sosial
Buku Lembaga Budi oleh Buya Hamka diawali dengan sebuah syair:
Diribut runduklah padi
Dicupak datuk termenggung
Hidup tegak ke mari canggung
Tegak rumah karena sandi
Runtuh budi rumah binasa
Sendi bangsa ialah budi
Runtuh budi runtuhlah bangsa
Saya pertama membaca buku ini pada tahun 2018 dan rasanya isi buku ini semakin relevan dan akan terus relavan di tahun tahun mendatang. Hampir setiap hari media sosial dan portal berita dipenuhi kabar yang membuat kita mengelus dada, seperti siswa yang berlaku tidak sopan kepada gurunya, anak yang membentak orang tuanya, tawuran, perundungan, pergaulan bebas, penipuan, pencurian, hingga pelecehan seksual. Kita sering sibuk mencari kambing hitam, padahal akar persoalannya mungkin sederhana yaitu budi yang kian rapuh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budi pekerti adalah tingkah laku, perangai, dan akhlak. Secara lebih luas, ia adalah penilaian baik dan buruk atas cara berpikir dan bertindak berdasarkan norma yang berlaku. Karena itulah budi pekerti menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, dan bernegara.
Di tengah kegelisahan itu, Lembaga Budi karya Buya Hamka terasa seperti pengingat yang datang tepat waktu. Buku ini pertama terbit pada tahun 1941 dan terus dicetak ulang, termasuk oleh Republika hingga tahun 2016. Usianya hampir satu abad, tetapi gagasannya masih relevan bagi pembaca lintas generasi.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal sebagai HAMKA, adalah ulama, cendekiawan, sekaligus sastrawan dengan karya yang amat banyak. Lembaga Budi adalah salah satunya.
Dalam 206 halaman, Buya Hamka menegaskan bahwa budi bukan sekadar akhlak. Budi adalah fondasi yang membentuk cara kita berpikir, bertindak, dan merasa, baik dalam diri sendiri maupun dalam kehidupan bersama. Bahasanya lugas dan sederhana, tetapi sarat makna. Buku ini mengajak kita berkaca tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap kepada sesamanya, dari beragam latar belakang profesi, sekaligus mengupas apa saja "penyakit budi" yang perlu diwaspadai.
Buku ini terdiri dari 11 bab yang membahas antara lain budi yang mulia, sebab-sebab rusaknya budi, penyakit budi, budi bagi orang yang memegang pemerintahan dan budi yang mulia pada raja, budi bagi orang yang membuka perusahaan dan budi yang mulia pada pedagang, sifat dalam bekerja, budi yang mulia pada pengarang, serta tinjauan budi dan renungan budi.
Cakupan ini menunjukkan bahwa budi tidak hanya urusan pribadi. Ia menyentuh pemimpin, pengusaha, pedagang, pekerja, hingga penulis.
Lembaga Budi layak dibaca oleh siapa saja yang sedang mencari pegangan di tengah derasnya arus zaman. Setelah menutup halaman terakhirnya, kita diajak bertanya pada diri sendiri, sudahkah budi kita menjadi sendi yang kokoh bagi rumah dan bangsa ini?
Identitas Buku
- Judul: Lembaga Budi
- Penulis: Prof. Dr. Hamka
- Penerbit: Republika
- Terbit pertama: 1941 (cetak ulang hingga 2016)
- Tebal: 206 halaman