Ulasan
Review Novel Almond: Sentilan Halus Buat Kita yang Suka Cuek
Almond merupakan novel karya penulis Korea Selatan, Sohn Won-pyung, yang pertama kali diterbitkan pada 2017 dan edisi bahasa Indonesianya terbit pada April 2019 melalui PT Grasindo.
Novel ini mengangkat tema tentang emosi, empati, keluarga, dan hubungan antarmanusia melalui kisah seorang remaja yang memiliki kondisi alexithymia. Sohn Won-pyung menyajikan kisah tentang proses mengenal emosi dan memahami orang lain dari sudut pandang yang tidak biasa.
Ceritanya berfokus pada Yunjae, remaja laki-laki yang lahir dengan kondisi bernama alexithymia. Karena bagian otak yang mengatur emosinya berukuran lebih kecil dari normal, dia tidak bisa merasakan takut, sedih, marah, ataupun bahagia. Bagi Yunjae, dunia ini terasa sangat datar dan ekspresi wajah orang lain hanyalah teka-teki rumit yang tidak bisa dia cerna secara alami. Dia melihat segala sesuatu di sekitarnya secara literal, apa adanya, dan tanpa melibatkan keterikatan perasaan sama sekali.
Biar tidak dianggap aneh atau menjadi sasaran perundungan di sekolah, ibu dan neneknya mendidik Yunjae dengan luar biasa sabar agar bisa "berpura-pura" normal. Mereka sampai menempel banyak catatan di dinding rumah, seperti petunjuk kapan dia harus tersenyum, kapan harus mengucapkan terima kasih, atau bagaimana merespons orang yang sedang menangis. Berkat kasih sayang dan perlindungan yang besar dari kedua wanita ini, Yunjae bisa tumbuh dengan relatif aman meskipun hidup di balik topeng kepura-puraan.
Sayangnya, kedamaian yang dibangun dengan susah payah itu hancur berantakan tepat saat Yunjae berusia 16 tahun. Sebuah tragedi kekerasan jalanan yang mendadak merenggut nyawa neneknya dan membuat ibunya mengalami koma berkepanjangan di rumah sakit. Di tengah situasi yang begitu mengerikan dan berdarah, Yunjae hanya bisa berdiri diam tanpa bisa meneteskan air mata. Dia pun terpaksa harus bertahan hidup sendirian di dunia yang kejam dan mengurus toko buku bekas milik keluarganya tanpa ada lagi tameng yang melindungi.
Dalam kesendiriannya, takdir mempertemukan Yunjae dengan Gon, seorang remaja pemberontak yang penuh amarah karena masa lalu yang kelam setelah lama terpisah dari keluarganya. Gon sempat merasa sangat kesal karena Yunjae sama sekali tidak punya rasa takut atau respons emosional saat ditantang dan disakiti. Namun, perbedaan yang sangat kontras ini yang justru membuat hubungan mereka menjadi unik, di mana dua anak yang sama-sama kesepian ini perlahan mulai saling mengisi kekosongan satu sama lain.
Dunia Yunjae menjadi semakin luas berkat kehadiran Dora, seorang gadis ceria yang sangat suka berlari, serta Profesor Shim, tetangga apartemennya yang bijak. Lewat interaksi yang intens dengan orang-orang baru ini, Yunjae mulai merasakan getaran asing di kepalanya yang selama ini mati rasa.
Proses persahabatan yang rumit, konflik khas remaja, dan kehangatan yang perlahan tumbuh inilah yang pada akhirnya menuntun Yunjae untuk memahami arti penting dari sebuah hubungan antarmanusia.
Membaca novel Almond ini beneran bikin aku kesentil soal pentingnya peduli sama sesama. Kisah Yunjae bukan cuma perjuangan anak yang pengin sembuh, tapi jadi tamparan kalau banyak dari kita yang malah "mati rasa" secara sosial. Akhir ceritanya pun realistis tanpa keajaiban instan, jadi tetep masuk akal dan bikin lega.
Buku ini seru karena gaya bahasanya lugas dan nggak bertele-tele. Meskipun topik kesehatan mental yang dibawa terhitung berat, ceritanya tetep ringan dan ngalir pas dibaca. Sohn Won-pyung pinter banget menyampaikan pesan mendalam soal empati lewat cara sederhana dari kacamata karakter yang awalnya buta emosi.
Kesimpulannya, buku yang nggak terlalu tebal ini beneran jadi bacaan yang sangat membekas. Almond berhasil membuktikan kalau sebuah cerita nggak butuh kata-kata yang rumit buat bisa menyentuh hati pembacanya. Novel ini juga sukses meninggalkan pesan mendalam yaitu cara terbaik untuk jadi manusia seutuhnya adalah dengan belajar peduli dan berbagi empati sama sesama.