Ulasan

Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!

Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
Poster film Venom: The Last Dance (IMDb)

Venom: The Last Dance (2024) merupakan penutup trilogi Venom yang diproduksi Sony Pictures sebagai bagian dari Sony’s Spider-Man Universe.

Disutradarai dan ditulis oleh Kelly Marcel dalam debut penyutradaraannya, film ini dibintangi Tom Hardy yang kembali memerankan Eddie Brock sekaligus menyuarakan simbion alien Venom.

Pemeran pendukung meliputi Chiwetel Ejiofor sebagai Kolonel Rex Strickland, Juno Temple sebagai Dr. Teddy Payne, Rhys Ifans sebagai Martin, serta Peggy Lu yang kembali sebagai Mrs. Chen.

Film berdurasi sekitar 109 menit ini dirilis di bioskop pada 25 Oktober 2024 dan meraih sekitar 479 juta dolar di box office dunia, meskipun mendapatkan ulasan campuran dari kritikus dengan skor Rotten Tomatoes sekitar 40 persen dan Metacritic 41.

Sinopsis film melanjutkan peristiwa setelah Venom: Let There Be Carnage. Eddie dan Venom menjadi buronan setelah terlibat dalam kematian Detektif Patrick Mulligan. Me

reka melarikan diri ke Meksiko, lalu melakukan perjalanan darat menuju New York. Ancaman datang dari dua arah: tentara Amerika Serikat yang dipimpin Strickland yang ingin menangkap mereka di Area 51, serta makhluk alien Xenophage yang dikirim oleh Knull, dewa pencipta simbion, untuk memperoleh Codex—kunci yang terbentuk dari ikatan Eddie dan Venom—agar Knull dapat bebas dari penjaranya.

Perjalanan mereka melibatkan pertemuan dengan keluarga penggemar UFO, kunjungan singkat ke Las Vegas, serta konfrontasi besar di fasilitas militer.

Review Film Venom: The Last Dance

Salah satu adegan di film Venom: The Last Dance (IMDb)
Salah satu adegan di film Venom: The Last Dance (IMDb)

Kekuatan utama film terletak pada chemistry Tom Hardy. Interaksi antara Eddie yang sinis dan Venom yang rakus serta sarkastik tetap menjadi daya tarik terbesar.

Hubungan keduanya berkembang dari sekadar parasit menjadi kemitraan yang penuh pengorbanan, memberikan nuansa emosional di tengah aksi dan humor.

Adegan-adegan buddy-comedy, seperti tarian disco di Las Vegas atau perjalanan bersama keluarga hippie, memberikan kelegaan di antara ketegangan. Namun, film memiliki kelemahan pada plot yang terasa terburu-buru dan karakter pendukung yang kurang dikembangkan.

Eksposisi tentang Codex dan Knull kadang terasa berat, sementara aksi CGI di klimaks terkadang terlalu kacau.

Secara keseluruhan, film ini berhasil menutup trilogi dengan nada yang sesuai dengan karakter serinya: konyol, berdarah, dan sesekali menyentuh.

Mengenai ketersediaan streaming di Disney+ wilayah Indonesia, film ini mulai tersedia secara global di platform tersebut sekitar 25 Agustus 2026 setelah sebelumnya sempat tayang di layanan lain.

Hingga awal Oktober 2026, status ketersediaan di katalog Disney+ Indonesia dapat bervariasi tergantung perjanjian lisensi regional. Kusarankan untuk memeriksa langsung aplikasi atau situs Disney+ lokal guna memastikan akses terkini, karena konten Sony Pictures sering mengalami penyesuaian wilayah.

Adegan aksi paling menegangkan terjadi pada klimaks di Area 51. Xenophage yang regeneratif menyerang fasilitas militer, menelan korban dan mengeluarkan sisa-sisa tubuh mereka seperti mesin penghancur.

Eddie dan Venom, bersama simbion lain yang dibebaskan, harus bertarung melawan gerombolan makhluk tersebut sambil melindungi keluarga sipil dan mengevakuasi personel.

Ketegangan memuncak ketika Venom memutuskan untuk berpisah dari Eddie, menarik Xenophage ke dalam hujan asam untuk menghancurkan Codex sekaligus mengorbankan dirinya. Adegan ini menggabungkan aksi visual yang intens, pengorbanan emosional, dan skala yang lebih besar dibanding film-film sebelumnya, menciptakan momen yang menegangkan sekaligus memuaskan sebagai penutup.

Sementara itu, adegan paling kocak muncul dalam beberapa momen interaksi Eddie-Venom. Salah satu yang menonjol adalah ketika mereka menempel di badan pesawat terbang di ketinggian.

Eddie mengeluh kedinginan dan bertanya, “Bagaimana Tom Cruise melakukan ini?” sementara Venom menjawab dengan nada kasar. Adegan lain yang menggelitik adalah upaya mereka menyinkronkan seruan “We are Venom” di hadapan geng Meksiko, yang gagal berulang kali hingga menjadi lucu.

Momen Venom mengendalikan tubuh Eddie untuk bermain mesin slot di Las Vegas, lalu menghancurkannya karena kalah, juga memberikan tawa yang lepas. Humor fisik seperti Venom menunggang kuda di padang pasir atau meninju petugas hotel menambah warna komedi yang khas franchise ini.

Overall, Venom: The Last Dance bukanlah film superhero yang sempurna. Ia mengandalkan daya tarik Hardy dan formula buddy-movie yang telah terbukti, sambil mencoba memberikan akhir yang bermakna bagi duo anti-hero favoritku.

Bagi penggemar setia trilogi, film ini menawarkan penutup yang layak ditonton, lengkap dengan aksi, humor, dan sedikit sentuhan emosional.

Bagi penonton baru, sangat kusarankan menonton dua film sebelumnya terlebih dahulu agar konteks hubungan Eddie dan Venom lebih terasa.

Dengan skor penonton yang lebih tinggi dibanding kritikus, film ini membuktikan bahwa daya tarik Venom tetap kuat di kalangan penggemar, meskipun tidak selalu memuaskan semua pihak. Rating pribadi: 7.9/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda