Ulasan
Review Ciao Kedai Dimsum Batam: Tempat Healing dan Spot Nulis Paling Tenang
Bagi saya, Sabtu adalah waktu yang sakral untuk healing tipis-tipis setelah sepekan digempur pekerjaan. Ritual mingguan saya sederhana: mencari kafe baru, membuka laptop, dan membiarkan jemari menari di atas kibor. Kali ini, pilihan saya jatuh pada Ciao Kedai Dimsum dan Kopi, sebuah tempat makan yang jaraknya hanya sekitar 5 menit dari kantor saya.
Jujur, saat pertama kali melangkah masuk, saya sempat kaget. Suasananya super sepi. Hanya ada sekitar empat meja yang terisi. Sebagai tipe orang yang butuh fokus tinggi saat menulis, situasi ini jelas sebuah nilai tambah yang besar, karena jujur saja saya jarang bisa menemukan cafe yang sepi apalagi di akhir pekan. Saya langsung menanyakan letak stopkontak kepada waiter. Setelah disarankan untuk duduk di salah satu meja, saya merasa posisinya agak terlalu tinggi, jadi saya memutuskan untuk pindah ke meja sebelah yang lebih nyaman.
Sebenarnya, sebelum datang, saya sudah sempat memantau Google Maps untuk melihat review dan pilihan menu. Sayangnya, menu yang sudah saya incar untuk berbuka puasa ternyata sudah tidak ada lagi. Akhirnya, saya balik ke menu comfort food andalan saya di mana pun berada, yaitu bakmie. Pilihan saya jatuh pada Mie Kuah Chili Oil seharga Rp42.000, ditemani segelas teh hangat seharga Rp10.000.
Kesan pertama saya? Saya langsung jatuh cinta dengan ambience-nya. Musik yang diputar di latar belakang sangat pas di telinga—mulai dari lagu-lagu lama hingga daftar putar Raisa dan Fourtwnty. Kebetulan belakangan ini saya sering mendengarkan Raisa. Alhasil, saya tidak perlu repot-repot menyumbat telinga dengan headset hanya untuk menutupi lagu kafe yang kurang cocok. Di sepanjang acara makan saya, sudah tidak terhitung berapa kali saya bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar. Oh ya, untuk Wi-Fi-nya sendiri cukup kencang ya, sehingga saya pikir tempat ini cocok juga untuk pekerja yang sedang WFC.
Tak lama kemudian, pesanan saya tiba. Surprisingly, porsi Mi Kuah Chili Oil-nya sangat banyak dan mengenyangkan! Tekstur mi-nya pas dengan kuah gurih beraroma cabai yang hangat. Saking padat isinya, butuh waktu hampir satu jam bagi saya untuk menghabiskannya santai sambil mengetik.
Hingga jam 5 sore, kafe ini masih tergolong sepi dan belum terlalu penuh. Mungkin karena lokasinya tidak persis di pusat keramaian Batam Centre. Sebelum datang, saya sempat membaca beberapa ulasan di Google Maps yang mengeluhkan AC-nya kurang terasa dingin. Namun, menurut pengalaman saya hari ini, AC-nya berfungsi dengan baik dan cukup sejuk. Dugaan saya, keluhan tersebut mungkin terjadi saat peak hour atau jam-jam ramai malam hari.
Bicara soal pilihan hidangan, Ciao Kedai Dimsum ini menawarkan variasi menu yang cukup beragam. Selain aneka dimsum halal seperti Shumai Ayam (Rp24.000) dan Cakwe Udang Mayo (Rp25.000), mereka juga menyediakan sajian berat. Mulai dari seri Wokhey seperti Nasgor Udang Hongkong (Rp32.000), Nasi Hainam Ayam Lada Hitam (Rp35.000), hingga kudapan manis seperti Kaya Butter Toast (Rp20.000). Untuk minumannya pun lengkap, dari Es Kopi Susu Aren (Rp24.000) hingga varian Signature C'Late dan Mocktail. Semua menunya serba halal.
Selama nongkrong di sini, saya juga memperhatikan beberapa pengunjung yang asyik membuat konten maupun siaran langsung (live). Atmosfernya yang tenang memang sangat mendukung kreativitas tanpa terdistraksi oleh kebisingan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah area parkirannya yang agak terbatas karena akses masuknya searah.
Untuk dessert, saya juga memesan Choco Sundae dengan harga hanya Rp20.000.
Bagi kamu yang mencari kafe hening untuk fokus bekerja, menulis, atau sekadar melupakan kepenatan kerja, WFC tempat ini sangat layak dicoba. Saya pribadi sih pasti akan sering kembali ke sini!