Ulasan

Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan

Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan
Buku Look! A Bear! (goodreads.com)

Ada sesuatu yang menyenangkan dari buku anak yang bisa dibaca dalam waktu singkat, tetapi meninggalkan cukup banyak hal untuk dipikirkan setelah halaman terakhir ditutup. Look! A Bear! karya Elisa Kleven adalah salah satunya. Sekilas, buku ini hanya bercerita tentang seekor kelinci kecil yang ingin berteman dengan seekor anak beruang.

Namun, di balik cerita persahabatan yang sederhana tersebut, terdapat pembahasan tentang prasangka, imajinasi, keberanian untuk mempertanyakan anggapan, dan bagaimana anak-anak melihat dunia dengan cara yang sering kali lebih terbuka daripada orang dewasa.

Remy adalah seekor kelinci muda yang suatu pagi melihat seekor anak beruang bernama Bella. Alih-alih merasa takut, Remy justru ingin bermain dengannya. Sayangnya, Mama dan Papa segera mengingatkan bahwa kelinci tidak bermain dengan beruang. Bagi orang dewasa, peringatan tersebut mungkin terdengar masuk akal karena mereka melihat perbedaan dan potensi bahaya terlebih dahulu.

Namun, bagi Remy, Bella hanyalah seseorang yang mungkin bisa menjadi teman. Dari sinilah petualangan kecil Remy dimulai. Ketika tidak bisa bermain langsung dengan Bella, imajinasinya mengambil alih. Ia mulai melihat bentuk-bentuk beruang di sekeliling alam.

Awan, batu, dan berbagai benda di lingkungan seolah berubah menjadi sosok beruang. Menariknya, Bella ternyata juga memiliki imajinasi serupa. Ia melihat bentuk kelinci di alam dan membayangkan sosok teman yang ingin ditemuinya. Imajinasi akhirnya menjadi jembatan yang mempertemukan dua karakter yang sejak awal dianggap tidak seharusnya berteman.

Cerita ini sangat menarik karena memperlihatkan kepolosan anak-anak yang belum sepenuhnya dibentuk oleh berbagai prasangka orang dewasa. Anak-anak cenderung mendekati sesuatu berdasarkan rasa ingin tahu dan pengalaman langsung.

Mereka bisa melihat kesamaan sebelum melihat perbedaan. Remy dan Bella tidak sibuk memikirkan apakah mereka berasal dari kelompok yang sama, memiliki penampilan yang sama, atau seharusnya berteman berdasarkan aturan tertentu.

Mereka hanya menemukan bahwa mereka sama-sama ingin bermain, penasaran, dan menikmati dunia di sekitar mereka. Karena itu, Look! A Bear! bisa dibaca sebagai cerita tentang persahabatan lintas perbedaan. Bahkan, ada pembacaan yang lebih dalam mengenai bagaimana prasangka dapat terbentuk sejak dini.

Buku ini tidak menyampaikan pesan tersebut secara berat atau menggurui. Justru, kekuatannya terletak pada cara pesan itu diselipkan melalui interaksi sederhana antara dua anak. Pembaca cilik dapat menikmati kisah kelinci dan beruang, sementara pembaca yang lebih dewasa mungkin menangkap lapisan makna tentang bagaimana kita sering memberikan penilaian berdasarkan apa yang sudah kita dengar atau anggap benar.

Salah satu hal menarik lainnya adalah penggunaan pareidolia, yaitu kecenderungan manusia melihat bentuk atau pola yang familiar pada benda-benda yang sebenarnya tidak memiliki bentuk tersebut. Dalam cerita, fenomena ini menjadi bagian dari permainan imajinasi Remy. Awan, batu, dan unsur alam lainnya berubah menjadi sesuatu yang berkaitan dengan sosok yang ingin ditemuinya. Penggunaan gagasan ini membuat buku terasa lebih kreatif sekaligus mengajak anak memperhatikan lingkungan dengan cara berbeda.

Ilustrasi Elisa Kleven juga menjadi daya tarik besar. Alam digambarkan dengan tekstur yang kaya, penuh detail, dan terasa hangat sekaligus seperti dunia yang muncul dari imajinasi anak-anak. Elemen-elemen kecil di setiap halaman membuat buku ini tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga menyenangkan untuk diamati. Gaya visualnya membantu memperkuat gagasan bahwa dunia dapat terlihat berbeda ketika kita membiarkan imajinasi bekerja.

Meski begitu, kesederhanaan buku ini mungkin terasa terlalu repetitif bagi pembaca yang lebih besar. Beberapa bagian memiliki pola yang cukup berulang, dan teksnya memang sangat mudah diikuti. Namun, bagi target pembaca usia sekitar 4–8 tahun, kesederhanaan tersebut justru membuat pesannya lebih mudah diterima.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda