Ulasan
Review Lagu Sesi Potret: Penyesalan Perantau yang Sering Menunda Pulang
Sebagai sesama perantau yang sering kali menjadikan kata "sibuk" dan "uang pas-pasan" sebagai alasan, saya langsung merasa tertampar begitu memutar kolaborasi antara eau dan Ari Lesmana berjudul Sesi Potret. Lagu yang dirilis pada awal tahun 2026 ini sukses mencuri perhatian penikmat musik tanah air karena menyajikan satire dan sindiran keras namun dibalut nada pop akustik yang syahdu untuk kita semua yang sering menomorduakan keluarga demi mengejar materi di tanah perantauan.
Kolaborasi perdana dari kakak-beradik ini terasa sangat relevan dan emosional. Suara khas Ari Lesmana yang penuh rasa berpadu dengan lirik reflektif garapan eau, sukses menciptakan ruang duka yang begitu menyentuh.
Lagu ini langsung dibuka dengan sindiran halus tentang bagaimana ego manusia sering kali menunda hal paling krusial dalam hidup demi urusan finansial:
"Tahun lalu berjuta alasanku / Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan / Kali ini sudah lumayan / Berkat doamu di ijabah sang maha kaya"
Verse pembuka ini terasa dekat sekali dengan kehidupan nyata. Kita sering merasa harus sukses besar dulu baru layak pulang. Kita sibuk mengumpulkan materi, tanpa sadar bahwa orang tua atau orang tersayang di kampung halaman tidak butuh kemewahan itu, mereka cuma butuh kehadiran kita.
Ironi terbesar dari lagu ini memuncak di bagian pre-chorus saat rezeki yang kita kejar-kejar itu akhirnya berhasil ada di tangan:
"Dan tahun ini kubisa pulang / Oleh-oleh sudah ditangan / Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku / Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang"
Bagian ini benar-benar bikin dada sesak. Saat kita merasa sudah cukup secara finansial dan siap membahagiakan orang tua dengan membawa oleh-oleh, takdir justru menertawakan ego kita. Sosok yang selama ini mendoakan kita justru sudah dipanggil pulang lebih dulu oleh Sang Pencipta.
Saat Gengsi Meruntuhkan Kesempatan Terakhir
Masuk ke bagian chorus, aransemen musiknya membawa pendengar masuk ke dalam realitas kepedihan:
"Ku bertamu ke rumah barumu / Tak ada kamu / Hanya papan dan namamu / Mana ocehan wewangian khasmu"
Eau menggambarkan "rumah baru" di sini sebagai metafora yang sangat tragis: sepetak makam dan sebuah papan nisan. Segala pencapaian materi yang kita banggakan di perantauan seketika runtuh tidak ada gunanya saat kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita kalah telat oleh waktu. Kita merindukan hal-hal kecil seperti omelan atau wewangian khas mereka, tapi semuanya sudah terlambat.
"Jarak ini terlalu jauh / Kalau rindu aku tak mampu / Soal ikhlas ternyata aku masih amatir / Gengsi menyelimutiku / Manusia ini kehilanganmu"
Kalimat ini adalah pengakuan dosa paling jujur dari seorang anak atau perantau. Gengsi sering kali menjadi tembok penghalang bagi kita untuk sekadar menyapa atau pulang. Dan saat kehilangan itu benar-benar terjadi, kita baru sadar bahwa dalam urusan merelakan, kita ternyata masih sangat amatir.
Di bagian bridge, alasan mengapa lagu ini diberi judul Sesi Potret akhirnya terjawab:
"Sesi potret yang selalu ku benci / Aneh rasanya kau tak di sini / Susunan barisannya tak sama lagi / Oh ho ho satu dua tiga / Ini nyata kau telah pergi"
Sesi foto keluarga yang dulunya mungkin dianggap sepele atau bikin malas, kini berubah menjadi momen paling menyakitkan. Kamera menangkap realitas kepedihan yang sudah permanen: ada satu ruang kosong di dalam formasi foto keluarga yang tidak akan pernah bisa terisi kembali.
Overall, buat saya lagu Sesi Potret bukan cuma sebagai karya seni yang indah, melainkan sebagai alarm keras bagi kita semua. Lagu ini mengingatkan kita untuk segera menurunkan ego, membuang gengsi, dan jangan pernah menunda waktu untuk pulang atau sekadar memberi kabar sebelum semuanya terlambat. Karena sekaya apa pun kamu di perantauan, waktu bersama orang tersayang tidak akan pernah bisa dibeli ulang.