Ulasan

Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia

Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
Poster Film Minotaur (IMDb)

Rumah nyaman bisa menyimpan sesuatu yang lebih mengerikan dari pertengkaran. Film Minotaur memulai terornya dari tempat semacam itu: keluarga mapan, bisnis berjalan, lalu momen perselingkuhan yang membuka konflik menuju kekerasan. Sutradara Andrey Zvyagintsev kemudian memperlebarnya sampai persoalan rumah tangga bertemu perang, kekuasaan, dan moral manusia yang makin keropos. 

Penasaran? Kepoin lebih lanjut, yuk!

Film Minotaur adalah drama kriminal thriller berdurasi sekitar 140 menit, yang diproduksi CG Cinéma bersama Forma Pro Films dan Razor Film, dengan MK2 Films sebagai distributor.

Selain menyutradarai, Zvyagintsev juga menulis skripnya bersama Simon Lyashenko. Film Minotaur dibintangi Dmitriy Mazurov sebagai Gleb, Iris Lebedeva sebagai Galina, Boris Kudrin, Yuriy Zavalnyouk, dan Varvara Shmykova. Film berbahasa Rusia ini berlatar 2022 dan menjalani pemutaran perdana di Festival de Cannes 2026 dan masuk Official Competition, sebelum akhirnya memenangkan Grand Prix pada Festival de Cannes ke-79 pada 23 Mei 2026. 

Ceritanya mengikuti Gleb, pengusaha transportasi yang hidup bersama Galina dan putra mereka di kota kecil Rusia. Rumah tangganya hambar, lalu kecurigaan terhadap Galina mengarah pada Anton, fotografer muda kekasihnya. Gleb menyelidiki, menemukan alamat Anton, lalu mendatanginya. Pertemuan itu berakhir dengan pembunuhan dan mendorong Gleb menutupi kejahatannya. 

Pada saat bersamaan, pemerintah menekan para pengusaha agar menyediakan pekerja untuk mobilisasi perang. Gleb diminta menyerahkan sekitar empat belas pekerja, lalu memilih merekrut sopir baru dengan iming-iming pekerjaan sebelum mereka dikirim ke medan perang. Dua persoalan itu akhirnya beriringan: satu lahir dari kecemburuan, satu lagi dari sistem yang menuntut pengorbanan manusia.

Minotaur Lebih dari Thriller Perselingkuhan Biasa

Karakter Gleb memang korban tekanan, tapi dia juga oportunis yang tahu cara memakai sistem untuk menyelamatkan kepentingannya sendiri. Dia melindungi pekerja lama demi bisnis, lalu mengorbankan orang baru. Pola itu kemudian bercermin pada pembunuhan Anton. Kekerasan personal dan politik akhirnya punya bahasa yang sama: orang lain diperlakukan sebagai alat.

Aktor Dmitriy Mazurov membuat karakter Gleb terasa berbahaya, justru karena tampilannya yang biasa. Dia punya uang, keluarga, dan posisi sosial. Di baliknya ada kebutuhan besar untuk mengendalikan keadaan. Cara Gleb mengajari anaknya menghadapi perundungan memperlihatkan bagaimana kekerasan diwariskan sebagai maskulinitas. Monster dalam film ini tumbuh lewat kebiasaan, pembenaran, dan kuasa lho.

Iris Lebedeva juga penting karena karakter Galina yang diperankannya memberi sisi lain dari rumah tangga yang sudah lama kosong. Perselingkuhannya memang jadi pemicu tragedi, tapi film memberi tanda bahwa hubungan itu sebelumnya sudah retak. 

Menariknya, Sutradara Zvyagintsev tetap membiarkan karakter Gleb jadi pusat moral yang kacau. Simpati pada sosok Galina pun tetap berdampingan dengan kenyataan bahwa setiap karakter membawa pilihan buruknya sendiri.

Latar perang membuat semuanya semakin getir. Sutradara Zvyagintsev tak perlu memenuhi layar dengan pertempuran. Mobilisasi, daftar nama, propaganda, dan pekerja yang mendadak jadi tentara, sudah cukup menunjukkan bagaimana perang masuk ke kehidupan sehari-hari.

Secara visual, film ini kuat lewat warna kusam, termasuk ruang luas tapi terasa sesak, yang membuat rumah, kantor, serta jalan seperti bagian dari labirin. Namun, alegori politiknya kadang terlalu rajin menunjuk maknanya sendiri. Kehadiran simbol perang dan penanda politik membuat kritik sosialnya terlalu gamblang dijelaskan. 

Meski begitu, kelemahan tersebut belum menghilangkan data tarik utama Minotaur. Buatku, film Minotaur paling kuat saat berubah jadi cerita tentang normalisasi kekerasan. Gleb hanyalah satu monster. Sistem yang memberinya ruang untuk berkuasa, memilih korban, lalu mencuci tangannya sendiri jauh lebih mengerikan. Maka dari itu, dipikir-pikir, penghargaan Grand Prix Cannes terasa masuk akal. 

Yup, film ini punya keberanian menghubungkan kehancuran rumah tangga dengan kehancuran moral sebuah masyarakat, meski sesekali terlalu keras mendorong simbolismenya. Sobat Yoursay tertarik nonton?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda