Ulasan
Terjebak Situasi Right Person Wrong Time? Film Tune In for Love Punya Jawabannya
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang rasanya tepat, tetapi keadaannya justru tidak pernah benar-benar mendukung kalian untuk bersama?
Kalian saling menyukai, punya perasaan yang sama, bahkan mungkin sama-sama ingin memperjuangkan hubungan tersebut. Namun, ada saja hal yang membuat semuanya terasa sulit. Entah karena keadaan, masa lalu, atau memang kalian bertemu pada waktu yang kurang tepat.
Rasanya pasti menyebalkan. Sebab terkadang, kita bisa menyukai seseorang tanpa bisa memastikan apakah kehidupan akan memberikan kesempatan untuk tetap bersamanya.
Perasaan seperti itulah yang cukup kuat terasa ketika menonton Tune In for Love (2019), film romantis Korea Selatan yang dibintangi Kim Go-eun dan Jung Hae-in. Film garapan Jung Ji-woo ini bukan sekadar menyuguhkan kisah cinta yang manis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dua orang bisa saling menemukan, kehilangan, lalu kembali dipertemukan oleh kehidupan.
Cerita dimulai pada 1994, ketika Kim Mi-soo bertemu dengan Cha Hyun-woo di toko roti tempatnya bekerja bersama Eun-ja, kakak yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Hyun-woo adalah pemuda pendiam yang baru keluar dari pusat penahanan remaja.
Pertemuan mereka awalnya terasa sederhana, bahkan sedikit canggung. Namun, seiring waktu, keduanya mulai dekat dan menumbuhkan perasaan satu sama lain. Sayangnya, kedekatan itu tidak serta-merta membuat hubungan mereka berjalan mulus.
Hyun-woo memiliki masa lalu yang menyisakan rasa bersalah, sementara kehidupan terus membawa mereka ke arah yang berbeda. Mereka beberapa kali kembali bertemu, tetapi kesempatan untuk benar-benar bersama seolah selalu datang dan pergi begitu saja.
Dari segi cerita, Tune In for Love mungkin tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Kisah dua orang yang saling mencintai, tetapi harus menghadapi berbagai rintangan, sudah cukup sering kita temukan dalam film romantis. Namun, bagi saya, kekuatan film ini justru terletak pada cara ceritanya disampaikan.
Tidak ada konflik yang sengaja dibuat terlalu meledak-ledak demi memancing air mata penonton. Film ini bergerak dengan tenang, mengikuti perjalanan Mi-soo dan Hyun-woo dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya.
Satu hal yang menarik adalah penggunaan siaran radio Music Album sebagai penghubung cerita. Program radio yang dipandu Yoo Yeol menjadi semacam penanda waktu bagi keduanya. Di tengah kehidupan yang terus berubah, siaran yang sama terasa seperti benang kecil yang menghubungkan mereka, bahkan ketika jarak memisahkan.
Menurut saya, elemen radio ini membuat film terasa lebih hangat dan nostalgis. Ada sesuatu yang menenangkan dari membayangkan dua orang mendengarkan siaran yang sama, mungkin pada waktu yang berbeda, tetapi menyimpan kenangan yang serupa.
Dan bukankah dalam kehidupan nyata, hal-hal sederhana seperti itu yang sering kali membuat kita mengingat seseorang?
Lagu yang pernah didengarkan bersama, tempat yang pernah dikunjungi, atau kebiasaan kecil yang tanpa sadar melekat pada ingatan. Bahkan setelah hubungan berakhir atau seseorang tidak lagi hadir dalam keseharian, hal-hal tersebut bisa membawa kita kembali pada perasaan yang pernah ada.
Hal lain yang membuat saya menyukai film ini adalah cara Tune In for Love memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat dua orang bisa bersama. Mi-soo dan Hyun-woo bukan tidak memiliki perasaan. Namun, mereka juga harus menghadapi diri sendiri, keadaan, dan persoalan yang belum selesai.
Terkadang, kita memang perlu menyelesaikan urusan dengan diri sendiri sebelum benar-benar siap menjalani hubungan. Bukan berarti kita harus menjadi manusia yang sempurna terlebih dahulu, tetapi setidaknya kita perlu berani menghadapi masa lalu dan bertanggung jawab atas pilihan kita.
Saya juga menyukai penampilan Kim Go-eun dan Jung Hae-in yang terasa natural. Keduanya mampu membangun kedekatan tanpa harus terus-menerus mengandalkan dialog romantis atau adegan yang berlebihan. Ada kecanggungan, kehangatan, dan keraguan yang membuat hubungan Mi-soo dan Hyun-woo terasa manusiawi.
Meski begitu, film ini mungkin terasa cukup lambat bagi penonton yang menyukai cerita dengan konflik tajam dan perkembangan hubungan yang cepat. Beberapa bagian juga bisa membuat kita gemas karena keadaan seolah terus menghalangi kedua tokoh untuk mendapatkan kepastian.
Namun, ritme yang tenang itu sekaligus menjadi bagian dari identitas film ini. Pada akhirnya, Tune In for Love bukan hanya tentang menunggu seseorang kembali. Film ini juga berbicara tentang perjalanan dua manusia yang sedang berusaha memahami kehidupan dan diri mereka sendiri.
Setelah menonton film ini, saya justru merasa bahwa pertanyaan yang lebih penting adalah apakah keduanya bersedia terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan memberikan kesempatan ketika kehidupan kembali mempertemukan mereka.
Karena kadang, cinta itu bukan tentang siapa yang paling lama menunggu, melainkan tentang bagaimana kita menjalani perjalanan masing-masing sampai akhirnya tahu ke mana harus pulang.