Ulasan
Review Hasut: Teror Paling Berbahaya Tumbuh dari Prasangka
Hasutan paling berbahaya muncul saat kita punya alasan untuk mempercayainya. Satu suara dari radio, kalimat yang terdengar meyakinkan, atau satu informasi kecil yang cocok dengan kecurigaan di kepala, bisa berubah jadi pembenaran. Setelah itu, akal sehat perlahan kehilangan tempat karena kita lebih sibuk mencari bukti yang membenarkan prasangka sendiri. Film Hasut memahami celah manusiawi tersebut dan menjadikannya sumber teror.
Hasut merupakan debut Ilya Sigma sebagai sutradara film panjang, sekaligus ditulisnya bersama Priesnanda Dwisatria. Film produksi Tuta Films / The United Team of Art ini diproduseri Putrama Tuta dan Siera Tamihardja.
Film ini dibintangi Karina Salim sebagai Vira dan Rachel Amanda memerankan Rere. Sementara itu, Marthino Lio hadir sebagai Dharma dan Kevin Ardilova sebagai Derry, Keempat karakter inilah yang jadi pusat permainan psikologis film Hasut. Film berdurasi sekitar 96 menit ini tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026.
Vira, seorang healer, mengajak adiknya, Rere, serta Derry dan Dharma menuju kawasan hutan di Bukit Menoreh, Yogyakarta. Keempatnya mengikuti proses pemulihan yang diharapkan dapat membantu mereka berhadapan dengan luka dan trauma yang selama ini terbawa dalam kehidupan masing-masing. Awalnya, perjalanan tersebut terasa seperti kesempatan untuk menenangkan diri dan memperbaiki hubungan yang mulai renggang.
Situasi berubah ketika suara misterius muncul melalui handy talky (HT). Informasi yang disampaikan perlahan memancing kecurigaan di antara mereka. Rasa percaya mulai goyah, prasangka tumbuh, dan persoalan pribadi yang semula tersimpan rapat ikut terbongkar. Semakin jauh mereka mengikuti suara itu, makin sulit bagi keempatnya membedakan mana fakta, mana manipulasi, dan mana ketakutan yang muncul dari pikiran sendiri.
Mengorek Lebih dalam Hasutan dalam Hasut
Hasutan jarang bekerja hanya karena terdengar sangat meyakinkan. Hasutan hidup karena ada celah yang sudah tersedia di dalam diri seseorang. Suara misterius itu pada dasarnya hanya mengetuk dinding konflik yang memang sudah retak.
Lihat saja hubungan Vira dan Rere. Mereka datang ke hutan dengan persoalan yang sudah dibawa dari rumah. Ada luka, kemarahan, rasa kecewa, juga hubungan kakak-adik yang penuh tarik-ulur. Dalam kondisi seperti itu, satu suara dari handy talky bisa terasa seperti bukti. Bukan karena informasinya otomatis benar, melainkan karena informasi itu cocok dengan sesuatu yang sejak awal sudah ingin dipercayai.
Di sinilah judul Hasut maknanya jadi jauh lebih dalam. Film ini memang menghasut karakternya, lalu perlahan membuat penonton ikut melakukan hal yang sama. Kita mulai memilih siapa yang mencurigakan berdasarkan potongan informasi yang diberikan, melihat gesturnya, mendengar ucapan, lalu menyusun kesimpulannya sendiri.
Karakter Vira menarik karena posisinya sebagai healer membuat batas antara perhatian dan kontrol menjadi samar. Keinginan membantu seseorang bisa berubah jadi keputusan sepihak ketika orang yang membantu merasa paling tahu apa yang dibutuhkan. Hubungan Vira dan Rere akhirnya menjadi jantung emosional yang membuat teror terasa punya akar.
Dan lagi-lagi, film Hasut terbilang relevan dengan kebiasaan manusia menerima informasi. Gosip, potongan cerita, pesan suara, atau kabar dari orang yang dipercaya bisa mengubah cara kita memandang seseorang dalam hitungan detik. Begitu prasangka menemukan pembenaran, fakta seringkali datang terlambat.
Karena itu, film Hasut paling menarik ketika dibaca sebagai horor tentang kelemahan manusia dalam mempercayai sesuatu. Terornya memang melalui suara, tapi kehancuran sebenarnya lahir dari karakter-karakternya sendiri. Menarik banget, deh! Dan sudah seharusnya Sobat Yoursay ke bioskop nonton film keren ini. Selamat menonton, ya.