Ulasan

Ted Lasso Season 4: Menghadirkan Pesan Kehidupan di Balik Taktik Lapangan

Ted Lasso Season 4: Menghadirkan Pesan Kehidupan di Balik Taktik Lapangan
Salah satu adegan di serial Ted Lasso Season 4 (IMDb)

Ted Lasso Season 4 sudah bisa ditonton lengkap di Apple TV wilayah Indonesia. Premiere global 5 Agustus 2026 dengan 10 episode rilis mingguan setiap Rabu hingga finale 7 Oktober 2026. Sebab rilisnya global dan simultan, seluruh musim keempat kini tersedia penuh di Apple TV bagi pelanggan di Indonesia.

Langganan standar sekitar Rp 99.000 per bulan setelah trial 7 hari (atau lewat paket Apple One/iCloud+ yang tersedia). Cukup buka aplikasi Apple TV di iPhone, iPad, smart TV, atau browser.

Menyentuh Hati Lewat Hubungan Antar Manusia

Salah satu adegan di serial Ted Lasso Season 4 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Ted Lasso Season 4 (IMDb)

Setelah jeda lebih dari tiga tahun sejak finale Season 3, Ted Lasso kembali dengan semangat underdog yang familiar tapi setting baru.

Ted (Jason Sudeikis) yang sempat kembali ke Kansas dan jadi asisten manajer toko kelontong, diajak lagi ke Richmond oleh Rebecca (Hannah Waddingham), Keeley (Juno Temple), dan Higgins (Jeremy Swift).

Kali ini misi terbesarnya: melatih tim sepak bola wanita divisi dua AFC Richmond yang baru dibentuk, Lady Greyhounds. Bersama Coach Beard (Brendan Hunt) dan asisten coach baru Alice Chilton (Tanya Reynolds), Ted harus membangun tim dari nol, menghadapi skeptisisme, kurangnya sumber daya, dan budaya sepak bola yang masih bias gender.

Musim ini membawa kembali wajah-wajah favorit: Roy Kent (Brett Goldstein) kini jadi manajer tim pria, Rebecca yang terus berjuang menjaga kepemilikan klub, dan Keeley yang semakin matang.

Ada juga pemain baru yang segar: Tanya Reynolds sebagai Alice yang tegas dan skeptis, plus para pemain Lady Greyhounds seperti Gemma, Boots, Lizzie, dan kembar Niamh-Siobhan.

Grant Feely memerankan Henry yang sudah remaja, memberi dimensi baru pada hubungan ayah-anak Ted. Mayoritas pemain pria lama (Jamie Tartt dll.) absen sebagai regular, sehingga fokus benar-benar bergeser ke sisi wanita dan dinamika baru.

Review Serial Ted Lasso Season 4

Salah satu adegan di serial Ted Lasso Season 4 (IMDb)
Salah satu adegan di serial Ted Lasso Season 4 (IMDb)

Overall, Season 4 terasa seperti reboot ringan yang mencoba kembali ke akar underdog Season 1, tapi dengan kesadaran gender yang lebih kuat.

Ada momen-momen manis klasik Ted Lasso—optimisme, pidato locker room, dan believe—tapi juga kukritik karena formulanya kadang terasa daur ulang dan beberapa subplot (khususnya kehidupan pribadi Rebecca) masih kurang organik.

Beberapa episode awal agak lambat, tapi musim ini menemukan ritme seiring para pemain wanita mulai mendapatkan ruang dan Ted belajar “leap before they look”.

Episode dengan judul “Being Alive” menutup dengan perubahan besar: promosi, kepergian, dan harapan baru. Kurasa ini adalah season terlemah dibanding 1-2, tapi tetap hangat dan layak ditonton bagi penggemar.

Adegan paling berkesan buatku adalah momen Ted dan Alice duduk diam berdampingan setelah keduanya mengalami gelombang emosi (panic attack/crying session) di episode 8 dengan judul Follow the Anger.

Tidak ada kata-kata berlebihan, hanya kehadiran saling mendukung. Adegan ini terasa nyata, mengingatkan pada momen Rebecca menolong Ted di Season 1, dan langsung diikuti pidato Ted di ruang ganti yang membalik slogan klasik: “There is crying in football.” Ia menyebut contoh pemain legendaris yang menangis, menekankan bahwa mengekspresikan perasaan itu sah, bahkan di dunia olahraga. Kombinasi keheningan dan pidato itu jadi puncak emosional yang kuat dan memorable.

Adegan paling menyentuh datang di episode akhir. Peringatan untuk Mae (pemilik Crown & Anchor yang meninggal) dibuka dengan lagu The Tracks of My Tears dan hujan, dilanjutkan voiceover puisi Mary Oliver When Death Comes yang dibacakan seolah suara Mae sendiri. Adegan ini mengingatkan bahwa hidup harus dijalani sepenuhnya.

Di sisi lain, momen Ted akhirnya berbicara jujur kepada Henry tentang kematian kakeknya (bunuh diri) sangat personal dan berat. Roy menerima catatan dari Ted yang bilang “kamu akan jadi ayah hebat” disertai army man (echo dari Henry ke Ted di masa lalu), lalu Keeley menjemputnya dengan sepatu merah.

Alice yang dipromosikan jadi head coach, dengan Ted dan Beard jadi asisten, menutup dengan rasa passing the torch yang hangat. Perubahan-perubahan ini membuat finale terasa bittersweet dan penuh harapan.

Season 4 mungkin tidak sebrilian dua musim pertama, tapi tetap berhasil menghadirkan semangat Ted Lasso: kebaikan, keberanian mengambil risiko, dan penerimaan bahwa menangis itu manusiawi. Bagi yang kangen Richmond, Lady Greyhounds, dan pesan believe, musim ini layak dikunjungi. Semua episode sudah tersedia sekarang di Apple TV Indonesia—langsung tonton saja sambil sediakan tisu. Rating pribadi: 7.2/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda