Ulasan
House of Hummingbird: Tentang Tumbuh di Dunia yang Tak Selalu Memberi Ruang
Pernahkah kamu merasa kesepian padahal punya keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar? Ingin bercerita, tetapi bingung harus mulai dari mana. Ingin dimengerti, tetapi takut dianggap berlebihan. Akhirnya, kita memilih diam dan menjalani hari seperti biasa, seolah semuanya baik-baik saja. Perasaan semacam itu berhasil digambarkan oleh House of Hummingbird (2018), film Korea karya Kim Bo-ra yang mengikuti kehidupan Eun-hee, seorang gadis berusia 14 tahun yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
Dengan latar belakang di Seoul pada 1994, film ini bukan tentang pencapaian besar atau perjalanan seseorang menjadi luar biasa. Justru, kita diajak melihat kehidupan seorang remaja biasa yang ingin dicintai, didengarkan, dan dianggap keberadaannya.
Eun-hee menjalani kehidupan yang tidak mudah. Di sekolah, ia merasa tidak benar-benar terhubung dengan teman-temannya. Di rumah, ia tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi pertengkaran, sementara kebutuhan emosionalnya sering kali terabaikan.
Ia mencari kenyamanan melalui pertemanan dan hubungan romantis, berharap ada seseorang yang bisa membuatnya merasa berarti. Kalau dipikir-pikir, bukankah perasaan seperti ini tidak hanya dialami remaja?
Kita mungkin sudah dewasa, punya pekerjaan atau sedang berusaha mendapatkannya, punya kesibukan masing-masing, tetapi diam-diam masih membawa kebutuhan yang sama, ingin didengarkan tanpa dihakimi dan ingin diterima tanpa harus terus-menerus membuktikan diri.
Salah satu hal yang paling menyedihkan dari film ini adalah bagaimana seseorang bisa merasa sendirian di tempat yang seharusnya membuatnya merasa aman. Keluarga sering dianggap sebagai tempat pulang paling nyaman. Namun, kenyataannya tidak semua orang tumbuh dengan pengalaman seperti itu.
Ada yang terbiasa dibandingkan, pendapatnya diremehkan, atau perasaannya dianggap tidak penting. Bahkan, ada yang sejak kecil belajar menyembunyikan kesedihannya karena merasa tidak ada gunanya bercerita. Kita sering mendengar nasihat bahwa orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Namun, niat baik tidak selalu membuat seseorang terhindar dari luka. Anak tetap membutuhkan perhatian, rasa aman, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Mereka bukan hanya perlu diberi makan, disekolahkan, atau dipersiapkan untuk masa depan, tetapi juga perlu didengarkan ketika sedang kesulitan memahami dunia.
Di tengah kehidupannya yang terasa sepi, Eun-hee bertemu dengan guru les bahasa Mandarin bernama Young-ji. Berbeda dari orang-orang yang biasa ditemuinya, Young-ji bersedia mendengarkan dan memperlakukan Eun-hee sebagai seseorang yang perasaannya layak diperhatikan.
Pertemuan mereka terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Kadang, kita tidak membutuhkan seseorang yang bisa menyelesaikan seluruh masalah. Kita hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat, yang tidak membuat kita merasa bodoh hanya karena belum tahu harus berbuat apa.
Di zaman ketika kita begitu mudah terhubung melalui media sosial, menemukan hubungan yang benar-benar membuat kita merasa dipahami ternyata tetap tidak sederhana. Kita bisa melihat kehidupan banyak orang setiap hari, tapi belum tentu memiliki seseorang yang bisa kita ajak bicara jujur tentang ketakutan dan kegagalan kita.
Film ini juga mengingatkan bahwa masa remaja bukan sekadar fase yang nantinya akan kita kenang sambil tersenyum. Bagi sebagian orang, masa itu dipenuhi kebingungan, penolakan, dan usaha untuk mencari tempat di dunia. Dan bukankah ketika sudah dewasa pun kita masih melakukan hal yang sama, hanya dengan masalah yang berbeda?
Meski demikian, House of Hummingbird bukan film dengan alur cepat atau konflik dramatis yang terus-menerus memancing emosi. Ritmenya lambat dan ceritanya bergerak melalui kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan Eun-hee.
Bagi penonton yang terbiasa dengan cerita penuh kejutan, film ini mungkin terasa membosankan. Namun, pendekatan tersebut justru membuat pengalaman Eun-hee terasa relate dengan kehidupan nyata, ketika banyak perubahan besar berawal dari peristiwa yang sekilas tampak biasa.
Pada akhirnya, film ini membuat saya berpikir bahwa tumbuh dewasa tak selalu berarti menemukan semua jawaban. Terkadang, kita hanya belajar memahami diri sedikit demi sedikit, menerima bahwa tidak semua orang akan mengerti kita, dan sadar bahwa beberapa pertemuan singkat bisa meninggalkan pengaruh yang panjang.
Kita tidak bisa memilih bagaimana masa kecil membentuk diri kita. Kita juga tidak selalu bisa mengubah orang-orang yang pernah menyakiti kita. Namun, kita masih punya kesempatan untuk belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut. Sebab, tidak semua orang tumbuh dengan perasaan dicintai sebagaimana mestinya.
Mungkin, seperti Eun-hee, kita semua hanya sedang mencari tempat untuk merasa cukup. Dan terkadang, satu orang yang benar-benar mau mendengarkan bisa membuat dunia yang terasa begitu luas dan asing menjadi sedikit lebih mudah untuk dijalani.