Ulasan
Lagu 'Tutur Batin': Pelukan Hangat untuk yang Ingin Bangkit dari Kegagalan
Mengalami kegagalan saat memperjuangkan sesuatu terkadang membuat kita meragukan kemampuan diri sendiri. Apalagi ketika kesempatan yang kita harapkan justru terasa tertutup karena orang lain menganggap kita tidak cukup baik. Situasi semacam ini bisa membuat kita kehilangan kepercayaan diri, bahkan mempertanyakan kemampuan yang sebenarnya kita miliki.
Bagi Sobat Yoursay yang pernah berada di posisi tersebut, lagu Tutur Batin dari Yura Yunita bisa menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak lantas membuat kita kehilangan nilai diri. Ketika orang lain meragukan kemampuan kita atau jalan yang ingin ditempuh terasa tertutup, bukan berarti kita tidak bisa menemukan jalan lain untuk melanjutkan perjuangan.
Meski dirilis pada 2021, Tutur Batin kembali menarik perhatian melalui konten #MainkeRumah di kanal YouTube Yura Yunita. Dalam kesempatan tersebut, Yura membawakan lagu ini bersama Idgitaf dan Feby Putri. Kolaborasi tiga musisi perempuan Indonesia itu menghadirkan harmonisasi yang terasa begitu menyentuh hati, sekaligus mengajak pendengar kembali menyelami pesan di balik lirik Tutur Batin.
Lagu Tutur Batin dibuka dengan pertanyaan yang terasa seperti monolog: “Bagaimanakah kabar diriku? Baik-baik saja.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi tokoh dalam lagu seolah sedang meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.
Lirik selanjutnya "Sedikit ku takjub, namun, nyatanya sudah kuduga. Kau yang ke sana-kemari, kau anggap aku tak cukup. Semua kesempatan dan langkahku coba kau tutup." seolah menggambarkan bahwa ada keterkejutan terhadap keadaan yang dihadapi sekaligus muncul kesadaran bahwa seseorang menganggap dirinya tidak cukup dan berusaha membatasi kesempatan yang dimilikinya.
Lantas, apakah ia menyerah ketika penilaian orang lain mulai membuatnya meragukan kemampuan diri?
Tidak. Pada bagian reff, tokoh dalam lagu justru menegaskan keyakinannya melalui lirik, “Tutur batinku tak akan salah. Silakan pergi, ku tak rasa kalah. Namun, percayalah, sejauh mana kau mencari, takkan kau temukan yang sebaik ini.” Bagian ini menggambarkan sosok yang memilih tetap memercayai suara batinnya. Ia tidak merasa kalah meski merasa diremehkan dan dianggap tidak cukup oleh orang lain.
Bait ini terasa dekat dengan kita. Kita mungkin pernah merasa perlu membuktikan kemampuan kepada orang yang meremehkan kita, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka salah. Namun, jika perjuangan kita hanya berpusat pada keinginan mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita justru bisa terus terjebak dalam penilaian mereka.
Namun, jika terus mengejar pengakuan orang lain, kita justru bisa merasa tidak pernah cukup karena penilaian mereka belum tentu sesuai dengan harapan kita. Padahal, kita tidak bisa mengendalikan cara orang lain memandang diri kita. Gagasan ini kemudian berlanjut pada bait berikutnya: "Kau yang ke sana-kemari, kau anggap aku tak cukup. Semua kesempatan dan langkahku coba kau tutup. 'Kan kubuat jalanku sendiri."
Kalimat “'Kan kubuat jalanku sendiri.” di sini menjadi penegas bahwa ia tidak ingin menyerah hanya karena orang lain berusaha menutup jalannya. Alih-alih terus menunggu kesempatan terbuka, ia memilih mencari jalan lain untuk melanjutkan langkahnya.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma. Barangkali, pepatah ini sejalan dengan pesan yang saya tangkap dari lirik tersebut. Satu jalan yang tertutup tidak selalu berarti perjalanan harus berakhir. Bisa jadi, kita hanya perlu menemukan cara berbeda untuk sampai ke tujuan.
Kita mungkin merasa kecewa saat gagal. Namun, kegagalan itu tidak harus menjadi akhir dari perjuangan. Kita masih bisa mengevaluasi kekurangan, mencoba kesempatan lain, atau menemukan jalur yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sebab, kegagalan tidak otomatis menghapus kemampuan dan pengalaman yang sudah kita miliki.
Pengulangan reff seolah menjadi cara tokoh dalam lagu untuk kembali menguatkan dirinya. Ia mungkin mulai menyadari bahwa nilai dirinya tidak bergantung pada penilaian orang lain. Meski begitu, penolakan dan kegagalan tetap bisa menimbulkan kesedihan atau kekecewaan. Karena itu, ia perlu terus mengingatkan diri bahwa satu pengalaman buruk tidak bisa menjadi ukuran mutlak atas seluruh kemampuannya.
Setelah berusaha menguatkan dirinya, tokoh dalam lagu perlahan beralih pada penerimaan diri. Hal ini tergambar dalam lirik, “Aku tak sempurna, tak perlu sempurna. Akan kurayakan apa adanya.” Pengulangan bagian tersebut seolah menegaskan bahwa kita tidak harus menjadi sempurna untuk bisa menerima dan menghargai diri sendiri.
Bagian ini mengingatkan saya bahwa kita terkadang mengukur kelayakan diri berdasarkan keberhasilan yang diraih. Ketika berhasil, kita merasa mampu dan pantas berbangga. Sebaliknya, ketika gagal, kita mulai meragukan diri sendiri dan merasa harus memperbaiki banyak hal sebelum bisa menghargai diri sendiri.
Kita memang tak sempurna, tetapi bukan berarti harus menunggu menjadi sempurna untuk menghargai usaha dan pencapaian yang sudah diraih. Kita tetap bisa memperbaiki kekurangan tanpa merendahkan diri sendiri hanya karena belum mencapai hasil yang diharapkan.
Puncak perjalanan emosional dalam lagu Tutur Batin terasa pada bagian akhirnya: “Jiwa yang terbaik itu hanya aku.” Jika di awal tokoh dalam lagu seolah berhadapan dengan penilaian yang membuatnya merasa tidak cukup, di akhir ia justru tampil lebih yakin dalam mengakui nilai dirinya.
Kalimat tersebut bukan berarti kita boleh menutup mata terhadap kekurangan atau menganggap diri selalu benar. Sebaliknya, kita bisa belajar mengakui nilai diri tanpa harus menyangkal hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Kita boleh bangga karena sudah berani mencoba, bertahan ketika keadaan sulit, atau memulai kembali setelah mengalami kekecewaan. Semua itu tetap berarti, sekalipun hasil akhirnya belum sesuai harapan.
Bagi saya, Tutur Batin menjadi pengingat bahwa kegagalan tidak harus membuat kita berhenti percaya pada kemampuan sendiri. Kita boleh kecewa ketika usaha belum membuahkan hasil atau kesempatan yang diharapkan justru tertutup. Namun, selama masih ada hal yang bisa diusahakan, kita boleh mencoba jalan lain sembari belajar menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.