Ulasan
Review Ghosthing: Hantu Cerewet yang Mengacaukan Misteri Kematian
Hantu dalam film horor biasanya datang membawa ancaman, suara ganjil, atau penampakan yang bikin penonton refleks menutup mata. Ghosthing memilih jalur lebih berisik. Arwahnya cerewet, penuh drama, bahkan terasa seperti teman yang muncul saat kita sedang ingin tenang. Gagasan ini berpotensi menyegarkan film-film horor dari Indonesia, sekaligus menyimpan risiko: ketika lelucon terlalu ramai, misteri kematian yang menjadi tulang punggung cerita bisa kehilangan daya gigit.
Diproduksi Imperial Pictures, Ghosthing disutradarai Arie Azis dengan skenario karya Evelyn Afnilia. Film berdurasi ±100 menit ini sudah tayang di bioskop pada 15 Oktober 2026 dan mendapat klasifikasi usia 13 tahun ke atas.
Deretan pemainnya mencakup Baskara Mahendra, Yasamin Jasem, Indian Akbar, Leony Fitria, Tanta Ginting, Siti Fauziah, Chika Waode, Mathias Muchus, Reinold Lawalata, Mona Ratuliu, dan Amel Carla. Hartawan Triguna serta Rizky A. Prakoso tercatat sebagai produser.
Cerita mengikuti Alfian (Baskara Mahendra), perias jenazah yang sejak lahir mampu melihat arwah. Hidupnya berjalan cukup tenang karena dia sudah terbiasa berinteraksi dengan penghuni dunia lain, termasuk Bang Arip (Tanta Ginting), Suster Wanda (Chika Waode), Ci Natalie (Leony Fitria), dan Mbak Min (Siti Fauziah).
Rutinitas itu berubah setelah Alfian menangani jenazah Maya (Yasamin Jasem), influencer yang meninggal dan kemudian menjadi arwah penasaran. Maya yakin kematiannya bukan sekadar akibat masalah jantung, melainkan menyimpan dugaan pembunuhan. Dia mendesak Alfian menyelidikinya.
Alfian akhirnya bersedia membantu dengan syarat Maya ikut membantunya menemukan arwah ibunya, Ranti (Mona Ratuliu). Mereka pun harus menyingkap misteri tersebut dalam waktu 40 hari, dibantu para arwah yang punya perangai berbeda. Nuka, yang diperankan Indian Akbar, juga masuk dalam lingkaran orang-orang yang berkaitan dengan kehidupan Maya.
Benturan Karakter Membuat Ghosting Menarik Banget
Di sini, Alfian punya kecenderungan lebih tenang, sedangkan Maya digambarkan cerewet, sarkastik, centil, dan sulit menerima kematiannya. Kontras itu menciptakan komedi yang natural, apalagi ketika Maya mengganggu kehidupan Alfian yang sudah punya teman-teman hantu dengan kepribadian masing-masing. Kehadiran mereka membuat dunia arwah terasa ramai, bukan sekadar ruang gelap berisi sosok menyeramkan.
Namun, karakter yang lucu saja belum cukup untuk menjaga film tetap hidup. Komedi paling efektif muncul dari situasi, respons, dan hubungan antar tokoh, bukan dari rentetan ocehan yang terus meminta perhatian. Jika setiap kemunculan arwah disusun untuk mengejar tawa, suasana misteri berisiko terus terputus. Dan begitulah yang terjadi dalam film ini.
Penonton perlu waktu untuk mencurigai seseorang, membaca petunjuk, dan merasakan bahwa kematian Maya memang menyisakan sesuatu yang mengganggu. Ketegangan sulit tumbuh karena adegan serius buru-buru dibelokkan jadi bahan candaan.
Maya juga butuh ruang emosional lebih dari sekadar menjadi hantu bawel. Sikapnya yang menolak kematian memang jadi sumber humor, sekaligus pintu menuju rasa takut, kebingungan, dan penyesalan seseorang yang kehilangan kesempatan memahami akhir hidupnya.
Untungnya, film mampu memperlihatkan lapisan tersebut, tingkah cerewetnya terasa sebagai bagian dari karakter, bukan tempelan komedi. Penyelidikan pun punya taruhan emosional, bukan cuma teka-teki yang harus selesai sebelum 40 hari berlalu.
Di sisi lain, hubungan Alfian dengan arwah ibunya memberi cerita jangkar yang lebih menyentuh. Syarat yang dia ajukan kepada Maya menyatukan dua urusan yang belum selesai: satu berkaitan dengan dugaan pembunuhan, satu lagi dengan kerinduan keluarga. Hubungan itu menyeimbangkan kekacauan para hantu karena berhasil memberi ruang bagi momen hening dan perkembangan karakter.
Ghosthing punya modal yang cukup kuat untuk menjadi horor-komedi yang ringan sekaligus menyimpan misteri. Dan seharusnya Sobat Yoursay nonton tanpa banyak pertimbangan lagi. Selamat menonton, ya.