Ulasan

Funcles: Ketika Keluarga Lebih Luas daripada Hubungan Darah

Funcles: Ketika Keluarga Lebih Luas daripada Hubungan Darah
Buku Funcles (goodreads.com)

Funcles karya Yashika Mody merupakan buku cerita anak yang mengangkat sebuah kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari: memanggil orang dewasa yang tidak memiliki hubungan darah dengan sebutan Paman.

Melalui cerita yang ringan, ilustrasi penuh warna, dan pendekatan yang menyenangkan, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa keluarga tidak selalu berkaitan dengan hubungan biologis.

Ada pula orang-orang di sekitar kita yang turut memberikan perhatian, kepedulian, dan rasa aman, sehingga kehadiran mereka menjadi bagian berharga dalam kehidupan.

Keunikan utama Funcles terletak pada cara Yashika Mody mengangkat tradisi budaya menjadi cerita yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Berawal dari tugas sekolah untuk membuat pohon keluarga, tokoh utama dengan penuh semangat ingin memasukkan semua pamannya ke dalam silsilah. Ada Paman Bus, Paman Supermarket, Paman Taksi, hingga Paman Food Hall.

Jumlah mereka begitu banyak sampai-sampai satu lembar kertas terasa tidak cukup untuk menampung semuanya. Situasi ini menghadirkan humor yang sederhana, tetapi mudah dibayangkan oleh pembaca cilik

Konflik mulai muncul ketika Ibu dan Ayah menjelaskan bahwa orang-orang yang selama ini dipanggil paman bukanlah kerabat sedarah.

Bagi anak yang telanjur bangga memiliki begitu banyak paman, penjelasan tersebut tentu dapat menimbulkan kebingungan dan kekecewaan.

Namun, dari kesalahpahaman kecil itulah cerita berkembang menjadi pelajaran tentang arti keluarga, penghormatan, dan hubungan sosial.

Tokoh utama akhirnya memahami bahwa para pamannya bukanlah orang asing yang sekadar diberi panggilan khusus. Mereka adalah orang-orang yang hadir, membantu, dan memberikan perhatian dalam kesehariannya.

Istilah Funcles sendiri menjadi daya tarik yang membuat cerita ini terasa semakin istimewa. Kata tersebut merupakan permainan kata dari fun dan uncles, yang menggambarkan para paman menyenangkan dalam kehidupan tokoh utama.

Alih-alih berhenti pada anggapan bahwa mereka bukan keluarga sungguhan, anak tersebut diajak melihat hubungan itu dari sudut pandang yang lebih luas.

Keluarga ternyata tidak selalu terbatas pada orang-orang yang memiliki hubungan darah, tetapi juga dapat mencakup komunitas yang memberikan rasa aman, dukungan, dan kebersamaan.

Dari segi gaya bahasa, Yashika Mody menghadirkan narasi yang ringan, hangat, dan penuh humor. Premis tentang pohon keluarga yang membutuhkan banyak lembar kertas menjadi cara efektif untuk menarik perhatian anak-anak.

Ceritanya juga membuka kesempatan bagi orang tua untuk menjelaskan tradisi budaya melalui percakapan yang alami, tanpa harus terasa seperti sedang memberikan ceramah.

Pembaca dapat mengikuti perubahan perasaan tokoh utama, mulai dari kegembiraan, kebingungan, hingga kesadaran bahwa hubungan dengan orang-orang di sekitarnya memiliki arti tersendiri.

Ilustrasi Adriena Fong turut memperkuat daya tarik buku ini. Visual yang cerah dan penuh warna membantu menghadirkan suasana komunitas yang hidup sekaligus memperlihatkan keberagaman orang-orang di sekitar tokoh utama.

Latar Singapura juga memberikan konteks yang menarik karena cerita berakar pada tradisi budaya setempat dalam menyapa orang dewasa sebagai paman atau bibi.

Perpaduan ilustrasi dan narasi membuat gagasan tentang komunitas terasa lebih nyata serta mudah dipahami oleh pembaca muda.

Pesan yang disampaikan Funcles terasa sederhana, tetapi penting untuk dikenalkan sejak dini. Menghormati orang lain dapat dimulai dari cara kita menyapa dan memperlakukan mereka.

Selain itu, kepedulian tidak selalu datang dari anggota keluarga sendiri. Tetangga, pedagang langganan, pengemudi bus, maupun orang-orang yang kita temui setiap hari bisa memberikan kontribusi berarti dalam kehidupan.

Buku ini juga mengajak anak-anak untuk menghargai perbedaan budaya dan memahami bahwa setiap keluarga memiliki kebiasaan serta cara membangun hubungan yang berbeda.

Secara keseluruhan, Funcles merupakan buku cerita anak yang manis, menghibur, dan menggugah pikiran. Ceritanya cocok dibacakan bersama keluarga maupun digunakan sebagai bahan diskusi di sekolah untuk mengenalkan keberagaman budaya dan pentingnya hidup bermasyarakat.

Meski mengangkat tradisi yang mungkin tidak dikenal semua pembaca, nilai kepedulian dan rasa hormat di dalamnya bersifat universal.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda