Ulasan
Lagi Tayang! Review Film Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki, Horor Jepang yang Mengusik Pikiran
Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (judul asli: Kinki Chihô no Aru Basho ni Tsuite atau About a Place in the Kinki Region) merupakan film horor misteri Jepang yang disutradarai Koji Shiraishi, dikenal melalui karya-karya seperti Noroi: The Curse. Film berdurasi 103 menit ini diadaptasi dari novel bestseller karya Sesuji yang semula berserial di platform daring dan kemudian diterbitkan oleh Kadokawa. Di Indonesia, film ini resmi tayang di bioskop mulai 16 Oktober 2026 melalui distributor CBI Pictures, termasuk di jaringan CGV, Cinépolis, dan lainnya.
Jejak Hilangnya Sang Editor dan Misteri Berkas Okultisme

Film ini mengadopsi gaya mockumentary yang memadukan investigasi, potongan footage ditemukan, laporan okultisme, legenda urban, dan rekaman siaran langsung. Cerita berpusat pada hilangnya seorang editor majalah okultisme secara misterius. Temannya, Chihiro Seno (diperankan Miho Kanno), seorang penulis lepas yang akrab dengan dunia paranormal, bekerja sama dengan rekan kerja editor tersebut, Yusei Ozawa (Eiji Akaso), untuk menelusuri dokumen, video, dan kesaksian yang ditinggalkan. Berbagai laporan yang semula tampak terpisah—kasus anak hilang, histeria massal di sekolah, siaran hantu, dan fenomena aneh lainnya—perlahan terhubung ke satu lokasi misterius di wilayah Kinki (Kansai).
Ulasan Film Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki

Kekuatan utama film terletak pada atmosfer yang dibangun secara perlahan dan teliti. Shiraishi tidak mengandalkan jump scare murahan. Sebaliknya, ia memanfaatkan tekstur visual yang kasar, glitch video, sudut kamera yang tidak stabil, serta peralihan gaya penceritaan yang meniru konten daring dan dokumentasi investigatif. Aku pun diajak merasakan proses penyusunan puzzle bersama tokoh-tokohnya, sehingga ketegangan tumbuh dari ketidakpastian dan akumulasi petunjuk. Pemeranan Miho Kanno dan Eiji Akaso terasa natural dalam kerangka mockumentary; ekspresi dan dialog mereka mendukung kesan realitas yang terus diganggu oleh hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara logis.
Sebagai adaptasi, film berhasil menerjemahkan semangat novel yang membaurkan fiksi dengan format semi-dokumenter. Bagian awal lebih fokus pada pengumpulan data di ruang arsip dan penayangan footage, sementara setengah kedua beralih ke investigasi lapangan yang semakin intens. Perubahan ini sejalan dengan ciri khas Shiraishi yang sering memperbesar skala ketakutan menuju klimaks yang mengejutkan. Kritik dariku tentang visualisasi entitas tertentu di bagian akhir mungkin mengurangi sebagian misteri abstrak yang dibangun sebelumnya, namun secara keseluruhan film tetap mempertahankan rasa tidak nyaman hingga penutup.
Salah satu adegan yang paling membuatku merinding adalah rangkaian footage siaran langsung di rumah berhantu. Rekaman menunjukkan interior yang lapuk, langit-langit penuh tali-tali menyerupai noose, laci yang menyimpan foto anak yang matanya seolah bergerak, serta kehadiran bayangan atau sosok yang tiba-tiba muncul di belakang. Kombinasi suara ambient yang minim, glitch visual, dan penemuan yang terjadi secara bertahap menciptakan rasa teror yang bertahan lama. Adegan histeria massal di sekolah, di mana suara-suara dari hutan memanggil dan beberapa siswa tiba-tiba ambruk, juga sangat efektif dalam membangun ketegangan kolektif yang sulit kulupakan. Atmosfer ada sesuatu di luar bingkai yang terus hadir membuatku merasa seolah menyaksikan dokumentasi nyata, bukan sekadar fiksi.
Adegan yang paling emosional muncul di bagian akhir, ketika motivasi pribadi Chihiro terungkap melalui latar belakang kehilangan anaknya. Keputusannya terlibat dalam pencarian dan ritual yang terkait dengan tempat misterius tersebut membawa lapisan tragedi manusia di balik horor. Klimaks yang melibatkan konfrontasi di lokasi inti, pengorbanan, serta penutup yang memperlihatkan dampak berlanjut dari peristiwa tersebut meninggalkan rasa sedih bercampur horor. Bukan sekadar ketakutan terhadap makhluk gaib, melainkan kesedihan atas obsesi, kesedihan, dan konsekuensi dari upaya memulihkan sesuatu yang telah hilang. Penutup yang membawa ketakutan keluar dari layar—melalui media dan suara yang menjangkau penonton di bioskop malam kemarin—memperkuat dampak emosional jangka panjang.
Secara keseluruhan, Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki adalah karya J-horror kontemporer yang cerdas dan atmosferik. Film ini cocok buat kamu yang menyukai pendekatan investigatif, legenda urban, serta horor yang tumbuh dari akumulasi detail daripada kejutan visual semata. Dengan rilis di bioskop Indonesia pada 16 Oktober 2026, film ini memberikan kesempatan bagi penonton lokal untuk merasakan langsung ketegangan mockumentary khas Shiraishi di layar lebar. Bagi penggemar novel atau manga adaptasinya, film menawarkan pengalaman visual yang memperkaya, sementara bagi penonton baru, ia menjadi pengantar yang mencekam ke dunia misteri wilayah Kinki.
Film ini layak ditonton dengan perhatian penuh, idealnya di bioskop agar detail audio-visual dapat dirasakan secara maksimal. Setelah menonton, rasa tidak nyaman terhadap tempat-tempat sepi atau konten daring tertentu mungkin akan ikut terbawa pulang—sebuah tanda bahwa film berhasil menanamkan pengaruhnya.
Rating pribadi: 8.8/10.