Ulasan

Masih Curcol Kantor: Tawa dan Drama di Balik Kehidupan Pegawai

Masih Curcol Kantor: Tawa dan Drama di Balik Kehidupan Pegawai
Masih Curcol Kantor (Dok.Pribadi/Oktavia)

Bagi sebagian orang, kantor adalah tempat membangun karier dan mencari penghasilan. Namun, bagi mereka yang harus berhadapan dengan atasan menyebalkan, rekan kerja yang sulit diajak kompromi, atau perintah tidak masuk akal, kantor juga bisa menjadi sumber stres yang tak ada habisnya. Pengalaman semacam inilah yang diangkat Anjar Oktaviani dalam buku Masih Curcol Kantor, sebuah bacaan komedi yang mengajak pembaca menertawakan berbagai keanehan kehidupan pekerja kantoran.

Diterbitkan oleh Bukune pada 2012, buku ini memiliki ketebalan 256 halaman. Melalui cerita-cerita keseharian yang dibalut bahasa santai dan humor, Anjar menghadirkan dunia kerja dari sudut pandang pegawai yang harus menghadapi tingkah atasan dan rekan kerja dengan segala kelucuannya.

Sinopsis Novel

Salah satu cerita yang menggambarkan warna komedi buku ini adalah pengalaman seorang pegawai yang diminta mencari ikat pinggang untuk bosnya. Masalahnya, sang bos harus menghadiri rapat pagi-pagi, sementara ikat pinggang yang dibutuhkan belum tersedia. Dengan perintah tegas, si bos meminta pegawainya mencari barang tersebut sampai dapat, bahkan jika perlu sampai ke Negeri Cina.

Pegawai itu pun berkeliling pusat perbelanjaan, menaiki dan menuruni eskalator demi menemukan ikat pinggang yang sesuai. Sayangnya, toko-toko belum buka. Setelah gagal mendapatkan barang yang diminta, ia kembali ke kantor dengan perasaan lelah dan cemas. Namun, kenyataan yang menyambutnya justru lebih menjengkelkan sekaligus menggelikan. Sang bos ternyata sudah berangkat rapat dengan mengenakan ikat pinggang yang diambil sopirnya dari rumah.

Situasi ini memperlihatkan absurditas hubungan kerja ketika pegawai harus mengerahkan tenaga untuk memenuhi permintaan mendadak yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pembaca diajak tertawa melihat nasib pegawai yang sudah bersusah payah, tetapi usahanya ternyata sia-sia. Di balik kelucuannya, cerita tersebut menyentil kebiasaan atasan yang memberikan perintah tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Daya tarik Masih Curcol Kantor tidak hanya bertumpu pada sosok bos yang menyebalkan. Buku ini juga menampilkan berbagai karakter yang biasa ditemukan di lingkungan kerja, mulai dari rekan yang terlalu serius, pegawai yang suka membuat suasana ramai, hingga petugas operasional yang terkadang merasa paling tahu.

Keragaman karakter tersebut menciptakan situasi komedi yang terasa dekat dengan pengalaman banyak pekerja. Kantor bukan sekadar ruang yang dipenuhi meja, komputer, dan dokumen, melainkan tempat berbagai kepribadian bertemu setiap hari. Perbedaan cara berpikir, kebiasaan, dan kepentingan dapat memunculkan gesekan yang terkadang melelahkan, tetapi juga bisa menjadi sumber cerita lucu.

Kelebihan dan Kekurangan

Gaya penceritaan yang kasual membuat buku ini terasa seperti mendengarkan teman mengeluhkan pengalaman kerjanya saat istirahat. Bahasa percakapan dan ekspresi berlebihan membantu membangun suasana jenaka. Pembaca yang pernah mengalami kejadian serupa mungkin akan merasa bahwa cerita-cerita tersebut bukan sesuatu yang asing.

Meski menawarkan hiburan, Masih Curcol Kantor bukan tanpa kekurangan. Cerita-ceritanya juga terkadang melebar ke berbagai arah sehingga fokus utama menjadi kurang kuat. Tidak semua bagian memiliki tingkat kelucuan yang sama; ada cerita yang mengundang tawa, tetapi ada pula yang hanya menghasilkan senyum tipis atau justru terasa berlebihan.

Karena itu, pengalaman membaca buku ini sangat bergantung pada selera humor masing-masing. Pembaca yang menyukai komedi situasional dan cerita keseharian mungkin akan menikmati keluguan serta kekonyolan tokoh-tokohnya. Sebaliknya, mereka yang mengharapkan alur yang terstruktur, konflik yang mendalam, atau humor dengan gagasan yang benar-benar segar mungkin merasa buku ini kurang memuaskan.

Namun, kekurangan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan fungsi buku sebagai bacaan ringan. Tidak setiap karya komedi harus menawarkan kritik sosial yang rumit atau cerita dengan perkembangan karakter yang mendalam. Terkadang, tujuan utamanya memang sekadar memberikan jeda dari rutinitas.

Pesan Moral

Pada akhirnya, Masih Curcol Kantor menghadirkan gambaran bahwa kehidupan pekerja tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada perintah yang membingungkan, rekan kerja yang menguji kesabaran, serta kejadian tidak masuk akal yang baru terasa lucu setelah semuanya berlalu.

Melalui kumpulan cerita komedi tersebut, Anjar Oktaviani menawarkan ruang bagi pembaca untuk menertawakan pengalaman yang mungkin pernah membuat mereka kesal. Buku ini cocok bagi pembaca yang mencari hiburan sederhana di sela kesibukan, terutama mereka yang akrab dengan dinamika kehidupan kantor.

Sebab, meskipun tidak semua masalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tawa, sesekali menertawakan absurditasnya bisa menjadi cara untuk mengambil jarak dari tekanan sehari-hari. Setidaknya, setelah membaca kisah-kisah ini, pembaca mungkin akan menyadari satu hal: menghadapi drama kantor ternyata bukan pengalaman yang dialami sendirian.

Identitas Buku

  • Judul: Masih Curcol Kantor
  • Penulis: Anjar Oktaviani
  • Penerbit: Bukune
  • Tahun Terbit: 2012
  • Tebal: 256 halaman
  • ISBN: 602-220-047-4  

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda