Ulasan

Dari NDRI hingga Madilog: Cara Membaca Karya Tan Malaka Tanpa Beban Elitis

Dari NDRI hingga Madilog: Cara Membaca Karya Tan Malaka Tanpa Beban Elitis
Kolase potret pahlawan nasional Tan Malaka dan sampul buku karyanya bertajuk “Naar de Republiek Indonesia” edisi Kritis (Instagram/Solusi Buku)

Nama Tan Malaka kembali akrab di telinga anak muda, ditandai dengan hadirnya buku-bukunya di berbagai rak toko buku, komunitas membaca, hingga ruang diskusi kritis. Salah satu karyanya, Madilog, mendapat perhatian baru berkat pemantik diskusi dari Malaka Project. Geliat literasi ini sangat menarik untuk kita diskusikan lebih lanjut mengenai sosok Tan Malaka.

Namun, di tengah antusiasme tersebut, sosok Tan Malaka berisiko hanya dikenal secara sepihak melalui Madilog dan kritiknya terhadap logika mistika. Padahal, cakupan pemikirannya sangat luas, meliputi konsep republik, strategi pergerakan, organisasi politik, hingga perjuangan ekonomi. 

Kehadiran buku “Naar de Republiek Indonesia” edisi kritis seratus tahun yang disunting oleh Zen RS hadir sebagai salah satu gerbang alternatif untuk mengenali keluasan gagasan beliau secara lebih utuh.

Diterbitkan oleh Loci pada Desember 2025, buku setebal 123 halaman ini memuat karya berharga Tan Malaka yang ditulis pada tahun 1925. Karya ini diterjemahkan oleh Ongko D., sementara Zen RS menyusun edisi kritisnya dengan membandingkan versi Indonesia tahun 1962 dan naskah asli berbahasa Belanda. Tambahan kata pengantar serta catatan kaki di dalamnya sangat membantu pembaca dalam memahami teks sesuai konteks zamannya.

Nilai editorial ini menjadi sangat penting karena membaca karya klasik bukan sekadar mengalihbahasakan kalimat saja. Pembaca diajak untuk memahami latar belakang lahirnya suatu gagasan, tantangan yang dihadapi Tan, hingga potensi pergeseran makna dalam sejarah penerbitannya. Catatan kritis dari Zen RS hadir sebagai teman dialog yang memudahkan pembaca menelusuri seluruh konteks sejarah tersebut secara lebih mendalam.

Buku “Naar de Republiek Indonesia” menjadi pintu masuk yang menarik karena memperlihatkan awal mula Tan Malaka merumuskan cita-cita kemerdekaan. Gagasan republik di sini hadir sebagai proyek politik yang membutuhkan perencanaan matang, organisasi yang solid, dan pemahaman sosial yang mendalam. Bagi beliau, kemerdekaan adalah momentum bagi masyarakat untuk membangun sistem kehidupan politiknya sendiri.

Dalam pengantarnya, Zen RS menyarankan alur membaca karya-karya Tan Malaka secara bertahap. Pembaca dapat memulainya dari “Naar de Republiek Indonesia”, lalu melanjutkannya ke “Semangat Muda” dan “Aksi Massa”. Kombinasi karya ini akan memperluas wawasan pembaca mengenai semangat pergerakan, manajemen organisasi, serta strategi aksi kolektif secara lebih utuh.

Setelah itu, pembaca dapat mendalami “Madilog” untuk mempelajari konsep materialisme, dialektika, dan logika. Perjalanan literasi ini kemudian berlanjut ke “Gerpolek”, yang mengulas perpaduan antara strategi gerilya, politik, dan ekonomi dalam mempertahankan kemerdekaan. Urutan membaca ini sangat membantu kita melihat keterkaitan antar-gagasan, sehingga setiap buku tidak dianggap sebagai pemikiran yang terpisah.

Lebih jauh lagi, pemahaman ini bisa diperkaya melalui autobiografi “Dari Penjara ke Penjara” serta karya biografis dari Harry A. Poeze. Melalui pendekatan ini, gagasan-gagasan besar Tan Malaka dapat dipahami secara lebih selaras dengan pengalaman hidup dan konteks sejarah nyata yang ikut membentuknya.

Ulasan terhadap buku Naar de Republiek Indonesia ini saya lakukan bukan semata-mata bentuk kekaguman tanpa syarat kepada Tan Malaka. Pemikirannya justru tetap perlu diperiksa, didiskusikan, dan diletakkan sesuai zamannya. Membaca seorang tokoh secara serius berarti berusaha memahami argumennya secara utuh sebelum kita menerima atau memberikan catatan kritis terhadap gagasan tersebut.

Oleh karena itu, edisi kritis dari Zen RS ini sangat layak menjadi pintu masuk bagi pembaca baru, terutama yang selama ini hanya familier dengan Madilog. Membaca karya sejarah seperti ini tentu bukan ajang perlombaan untuk terlihat paling paham teori. Menuntaskan satu buku dan memahami substansi argumennya jauh lebih bermakna daripada sekadar mengoleksi kutipan-kutipan populer.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda