Ulasan
Review Once We Were Us: Saat Masa Depan Membawa Cinta ke Arah yang Berbeda
Kadang yang membuat perpisahan terasa lebih menyakitkan itu bukanlah hilangnya rasa cinta, melainkan adanya keadaan yang memaksa dua orang untuk saling melepaskan. Mereka tahu bahwa keduanya masih saling cinta, tapi di sisi lain mereka juga sadar jika tetap bersama justru akan membuat mereka semakin jauh dari mimpi masing-masing. Akhirnya, meskipun terasa sulit, berpisah menjadi satu-satunya jalan yang mereka pilih agar tak semakin saling menyakiti dan bisa terus berjuang mewujudkan impian.
Kurang lebih begitulah kesan pertama yang saya dapatkan setelah selesai menonton film Once We Were Us beberapa waktu lalu. Film bergenre melodrama yang dibintangi oleh Moon Ga-young dan Koo Kyo-hwan tersebut bercerita tentang pertemuan kembali dengan mantan kekasih setelah sepuluh tahun berpisah.
Jauh sebelum berpacaran, awal perkenalan Lee Eun-ho (Koo Kyo-hwan) dan Han Jeong-won (Moon Ga-young) diawali dengan pertemuan tak sengaja di bus saat liburan akhir tahun. Pertemuan tak terduga tersebut membuat keduanya perlahan semakin dekat, hingga memutuskan untuk merantau bersama ke Seoul. Di ibu kota, mereka saling berbagi mimpi besar, menjadi sahabat yang saling mendukung satu sama lain, dan saling jatuh cinta.
Sayangnya, setelah beberapa waktu bersama, kehidupan mereka tak berjalan mulus. Ada tekanan ekonomi, kerasnya hidup di kota besar, dan rasa lelah menghadapi hidup yang makin terasa berat membuat hubungan mereka perlahan retak sebelum akhirnya berpisah. Keduanya memilih untuk fokus menjalani kehidupan masing-masing dulu. Eun-ho dengan mimpinya mengembangkan game, begitupula Jeong-won yang bermimpi menjadi seorang arsitek.
Setelah satu dekade terpisahkan, mereka kembali bertemu di pesawat menuju Korea. Di pertemuan kali ini, keduanya kembali bernostalgia dan mengungkapkan banyak hal yang dulu belum sempat mereka katakan.
Ulasan Film Once We Were Us
Hal pertama yang menarik perhatian saya di film ini adalah perbedaan tone visual di adegan masa kini dan masa lalu. Saat menggambarkan momen kedua tokoh utama di masa muda mereka, visual yang ditampilkan tampak penuh warna. Sementara itu, di momen saat keduanya bertemu kembali di pesawat setelah satu dekade berpisah menggunakan tone hitam putih.
Setelah benar-benar mengikuti alurnya, saya perlahan memahami bahwa mungkin begitulah gambaran kehidupan mereka. Perpisahan yang terjadi 10 tahun lalu rupanya membuat kehidupan mereka kehilangan warna, seperti halnya kisah tokoh dalam game yang dikembangkan Eun-ho kala itu.
Hidup mereka mungkin sudah lebih baik dengan mimpi masing-masing yang berhasil tercapai. Namun, di balik itu semua, ada masa lalu yang belum benar-benar terselesaikan, sesal yang masih membekas, pertanyaan yang belum terjawab, hingga perasaan yang belum sepenuhnya terungkap. Sedangkan visual penuh warna di masa lalu seolah menggambarkan kehidupan mereka di masa muda yang masih penuh harapan dan momen kebersamaan yang terasa hangat.
Selain itu, yang membuat film Once We Were Us terasa membekas bagi banyak penonton adalah plotnya yang begitu dekat dengan kehidupan anak muda sekarang. Melalui karakter Eun-ho dan Jeong-won, kita seolah diperlihatkan bahwa kebersamaan dua orang yang saling mencintai bisa terasa sangat melelahkan jika dipaksakan dalam keadaan ekonomi yang belum stabil.
Kisah Eun-ho dan Jeong-won di sini menjadi pengingat bagi anak muda bahwa menjalani hubungan ketika keduanya masih sama-sama merintis karier dan menata hidup bukan hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi, jika masing-masing masih memiliki mimpi besar yang ingin dicapai. Bukan berarti kita harus berhenti bermimpi setelah memiliki pasangan. Namun, ada hal-hal yang perlu disesuaikan dan dikompromikan bersama agar tekanan hidup dan perbedaan prioritas tidak berkembang menjadi konflik yang justru merusak hubungan.
Selain itu, dari film ini kita juga belajar bahwa cinta saja belum cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Sekeras apa pun upaya dua orang yang saling mencintai untuk bertahan, jika memang tak ditakdirkan bersama, kisah itu tetap akan berakhir dengan perpisahan. Dari cerita Eun-ho dan Jeong-won, kita diingatkan bahwa terkadang kehadiran seseorang cukup menjadi teman perjalanan singkat yang tak ikut menemani kita hingga tiba di tujuan akhir.
Kalau bicara soal eksekusi filmnya, sebagian penonton berpendapat bahwa alur film ini terasa lambat dan mudah ditebak. Meskipun demikian, saya rasa untuk film bergenre melodrama seperti Once We Were Us ini alurnya sudah cukup nyaman untuk ditonton dan mudah dipahami. Terlebih, setiap detail visual di sana juga sangat mendukung penonton untuk memahami keseluruhan jalan cerita. Jadi, dilengkapi dengan chemistry kuat antara Moon Ga-young dan Koo Kyo-hwan sekaligus akting mereka yang sukses menyentuh hati penonton, film ini sangat layak untuk jadi tontonan kalian selanjutnya.