Ulasan

The Dude in Me: Ketika Bertukar Tubuh Bisa Mengubah Cara Kita Melihat Dunia

The Dude in Me: Ketika Bertukar Tubuh Bisa Mengubah Cara Kita Melihat Dunia
The Dude in Me (Instagram/@jashnvarehfilm)

Kita pasti pernah menilai kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat di luar. Kita menganggap seseorang lemah karena tidak berani melawan, terlalu pendiam karena jarang berbicara, atau tidak punya masa depan karena terlihat berbeda dari orang kebanyakan. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi.

Hal menarik itulah yang bisa ditemukan dalam The Dude in Me (2019), film Korea bergenre komedi fantasi yang dibintangi Jung Jin-young, Park Sung-woong, dan Ra Mi-ran. Film ini mengangkat premis pertukaran tubuh antara seorang siswa SMA yang kerap menjadi korban perundungan dan seorang pria dewasa yang memiliki latar belakang gangster.

Kim Dong-hyun adalah siswa SMA yang cenderung pendiam dan sering menjadi sasaran perundungan. Suatu hari, ia terjatuh dari atap gedung dan menimpa Jang Pan-soo, seorang pria berpengaruh yang memiliki masa lalu sebagai anggota organisasi kriminal.

Setelah kecelakaan tersebut, keduanya terbangun dalam tubuh yang berbeda. Pan-soo mendapati dirinya berada dalam tubuh Dong-hyun, sementara tubuh aslinya masih terbaring di rumah sakit.

Dari sinilah kekacauan dimulai. Bayangkan seorang pria dewasa dengan mental keras dan pengalaman hidup yang panjang harus kembali bersekolah, menghadapi guru, mengerjakan tugas, dan berurusan dengan teman-teman yang suka merundung. Situasinya absurd, tetapi justru menjadi sumber komedi yang menyenangkan.

Namun, di balik adegan-adegan lucunya, ada persoalan serius. Ketika berada di tubuh Dong-hyun, Pan-soo mulai mengetahui bahwa kehidupan remaja itu ternyata jauh dari kata mudah. Ia bukan sekadar anak yang kurang percaya diri, melainkan seseorang yang harus menghadapi perlakuan buruk dari lingkungan sekolahnya.

Menariknya, Pan-soo tidak menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang biasa dilakukan Dong-hyun. Dengan keberanian dan pengalamannya, ia mulai melawan orang-orang yang selama ini merendahkan remaja itu. Dari situ, Dong-hyun perlahan mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang berbeda.

Menurut saya, bagian ini menjadi salah satu daya tarik utama film. Kita sering menyuruh korban perundungan untuk lebih berani, lebih percaya diri, atau belajar membela diri. Padahal, yang seharusnya dipertanyakan bukan hanya mengapa korban tidak melawan, tetapi juga mengapa orang-orang di sekitarnya merasa berhak memperlakukan seseorang dengan buruk.

Perundungan bukan sekadar persoalan seseorang yang dianggap lemah berhadapan dengan orang yang lebih kuat. Ada lingkungan yang membiarkannya terjadi, ada orang-orang yang memilih diam, dan ada pelaku yang merasa tindakannya tidak akan membawa konsekuensi.

Karena itu, perubahan tidak cukup hanya dengan meminta korban menjadi lebih tangguh. Orang-orang di sekitarnya juga harus belajar bertanggung jawab. Selain konflik sekolah, kehidupan Pan-soo sendiri ikut berubah.

Melalui tubuh Dong-hyun, ia kembali berhadapan dengan persoalan dari masa lalunya, termasuk hubungan dengan cinta pertamanya, Oh Mi-sun, dan seorang gadis bernama Hyun-jung yang ternyata memiliki hubungan penting dengannya. Situasi ini membawa cerita ke arah drama keluarga yang cukup mengharukan.

Di sinilah film menunjukkan bahwa kesempatan kedua tidak selalu datang dalam bentuk kesempatan untuk mengulang waktu. Terkadang, kesempatan itu hadir ketika kita dipaksa melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Pan-soo yang awalnya terbiasa memikirkan kepentingannya sendiri mulai memahami hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Dari segi penyajian, The Dude in Me cukup berhasil memadukan komedi, aksi, dan drama keluarga.

Jung Jin-young menarik perhatian melalui perubahan sikap Dong-hyun ketika tubuhnya ditempati Pan-soo, sementara Park Sung-woong menghadirkan sosok dewasa yang keras tetapi memiliki persoalan emosionalnya sendiri. 

Pada akhirnya, The Dude in Me mengingatkan kita bahwa memahami orang lain membutuhkan lebih dari sekadar melihat penampilan atau mendengar cerita dari satu sisi. Kita mungkin tidak perlu benar-benar bertukar tubuh untuk menyadari bahwa setiap orang membawa persoalan yang tidak selalu terlihat.

Sebab, terkadang kita terlalu cepat menyebut seseorang lemah, aneh, atau menyebalkan, padahal kita belum pernah mencoba memahami apa yang membuatnya menjadi seperti sekarang.

Mungkin dunia akan sedikit lebih baik jika sebelum menghakimi seseorang, kita belajar melihat kehidupan dari sisi yang selama ini tidak pernah kita pahami. Apakah kamu sudah menonton film komedi-fantasi yang satu ini?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda