Ulasan
Mengingat Kembali Kelamnya Tragedi Orde Baru Lewat 3 Novel Fiksi Ini
Sejarah selalu memiliki caranya sendiri untuk dikenang. Lewat novel fiksi sejarah, para penulis berusaha mengingatkan generasi penerus bahwa bangsa Indonesia telah melewati berbagai tragedi berdarah dan kelam. Beberapa di antaranya masih meninggalkan bekas tak terlupa bagi mereka yang merasakannya langsung.
Akhir-akhir ini media sosial tengah diramaikan oleh berbagai berita bencana yang melanda Tanah Air. Semuanya tidak lepas dari pengaruh kebijakan dan politik. Lewat novel-novel ini, semoga kita bisa memetik hikmah dan terus berjuang menyuarakan keadilan.
1. Laut Bercerita

Novel fiksi sejarah karya Leila S. Chudori ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2017. Mengangkat kisah kelam sejarah Indonesia tentang penghilangan paksa aktivis mahasiswa di masa menjelang runtuhnya era Orde Baru tahun 1998.
Novel ini menyajikan cerita yang mengharu biru dari dua sudut pandang berbeda, yakni Biru Laut dan Asmara Jati. Sudut pandang Biru Laut menceritakan perjuangan seorang mahasiswa bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena.
Mereka aktif menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil serta vokal menentang otoritas pemerintah. Cerita mencapai klimaks ketika akhirnya mereka diculik, disekap, dan disiksa dengan keji oleh sekelompok pria tidak dikenal.
Sudut pandang kedua diambil dari sisi Asmara Jati, adik perempuan dari Biru Laut. Setelah sang kakak menghilang, cerita dari sisi sang adik ini terasa menyayat hati pembaca dengan kedukaan yang mendalam, kepedihan keluarga yang ditinggalkan, serta perjuangan mereka untuk menuntut keadilan bagi para korban penculikan yang tidak pernah kembali.
2. Notasi

Novel fiksi sejarah karya Morra Quatro yang dibalut romansa kampus ini terbit perdana pada tahun 2013 lalu. Vibes-nya mirip dengan Laut Bercerita, novel ini juga mengangkat latar belakang peristiwa kelam Gerakan Mahasiswa Reformasi 1998 dan runtuhnya rezim orde baru.
Novel Notasi lebih menitikberatkan sudut pandang pada dinamika mahasiswa Yogyakarta, tepatnya di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Cerita berfokus pada hubungan romantis yang tumbuh di tengah gejolak politik menjelang tahun 1998.
Seorang mahasiswi Kedokteran Gigi UGM, Nalia, tanpa sengaja terlibat lebih jauh dalam gerakan mahasiswa karena kedekatannya dengan Nino, seorang mahasiswa Teknik Elektro UGM yang juga merupakan aktivis BEM yang vokal terhadap isu-isu masa itu.
Saat demonstrasi mahasiswa memuncak, kerusuhan tak terelakkan. Suasana berubah mencekam. Di tengah kekacauan ini, Nin tiba-tiba menghilang. Nino pergi meninggalkan janji untuk kembali, tapi yang diterima Nalia hanyalah surat-surat tanpa alamat yang dikirimkan Nino secara misterius.
3. Mei Merah 1998

Satu genre dengan dua novel di atas, Mei Merah 1998: Kala Arwah Berkisah merupakan novel fiksi sejarah karya penulis senior Naning Pranoto yang terbit perdana pada tahun 2018 lalu di bawah Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Mengambil latar tragedi seputar Reformasi 1998 tapi dengan fokus yang jauh lebih spesifik, novel ini tampil dengan berani mengusung tragedi pemerkosaan massal terhadap perempuan keturunan Tionghoa ketika kerusuhan meledak di Jakarta.
Pendekatan realisme magis yang digunakan novel ini lewat sudut pandang sesosok arwah gentayangan bernama Humaira membuat jalan cerita terasa makin intens. Cerita terbagi ke dalam narasi masa lalu dari sisi Humaira, dan masa kini dari sisi Luk-Luk (anak perempuan Humaira).