Ulasan

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko

Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
Novel Jagat Rajawali karya Eko Darmoko (Gramedia Digital)

Semula saya berekspektasi tokoh-tokoh dalam novel Jagat Rajawali ini akan melakukan hal-hal besar. Maklum, ketika membaca novel sastra, saya sering membayangkan tokoh-tokohnya akan terlibat dalam persoalan rumit, mengejar cita-cita luar biasa, atau mengalami peristiwa yang mengubah hidup secara drastis. Namun, setelah menuntaskan novel karya Eko Darmoko ini, saya justru menemukan keistimewaannya pada hal-hal yang tampak biasa.

Taufan Samudera alias Toples hanyalah remaja SMP yang menyukai sastra, gemar membaca, dan ingin menjadi penulis. Ia menjalani hari-hari bersama teman-temannya, mengenal perasaan suka, terlibat dalam percakapan konyol, dan sesekali terseret ke dalam petualangan yang sulit dijelaskan dengan logika. Bersama Tiwi, Rena, dan Tobil, Toples memperlihatkan bahwa dunia remaja memiliki keajaiban tersendiri, bahkan ketika kehidupan mereka terlihat sederhana.

Bagi saya, inilah daya tarik utama Jagat Rajawali. Eko Darmoko tidak perlu membuat tokoh-tokohnya menjadi pahlawan atau menghadirkan konflik yang terlalu megah untuk menghasilkan cerita yang menarik. Ia justru mengajak pembaca menikmati kehidupan remaja dengan segala kecanggungan, rasa penasaran, kenakalan, dan imajinasi yang kadang melompat ke tempat-tempat tak terduga.

Toples dan Dunia Remaja yang Terasa Dekat

Novel ini mengambil latar Surabaya setelah tumbangnya Orde Baru. Di tengah suasana zaman yang berubah, Toples tumbuh sebagai remaja yang menemukan kesenangan baru melalui bacaan sastra. Pertemuannya dengan karya-karya penulis besar seperti Gabriel García Márquez, Haruki Murakami, dan Pramoedya Ananta Toer membuka pintu menuju dunia yang lebih luas.

Ketertarikan Toples terhadap sastra bukan sekadar tempelan untuk membuat tokoh utama terlihat cerdas. Kegemarannya membaca memengaruhi cara ia memahami kehidupan, memandang orang lain, dan menafsirkan berbagai peristiwa yang dialaminya. Ia tidak hanya ingin menikmati cerita orang lain, tetapi juga berhasrat menciptakan ceritanya sendiri.

Saya menyukai semangat tersebut. Keinginan menjadi penulis tumbuh dari rasa ingin tahu, kebiasaan membaca, dan keberanian mencoba. Nasihat yang muncul dalam novel ini terasa relevan bagi siapa saja yang sedang belajar menulis.

“Sebagus apa pun kisah, kalau ditulis dengan gaya bahasa kaku, akan terbaca jelek. Maka, tulislah kisah dalam karangmu dengan bahasa yang renyah, yang enak dibaca, agar si pembaca betah.” (hlm. 5).

Kutipan itu mengingatkan saya bahwa menulis bukan hanya soal memiliki gagasan hebat. Cara menyampaikan gagasan juga menentukan apakah pembaca akan bertahan mengikuti cerita. Bahasa yang renyah, mengalir, dan terasa hidup bisa membuat kisah sederhana menjadi menyenangkan.

Pesan lain yang tidak kalah menarik muncul ketika Toples didorong untuk menghasilkan karya sendiri.

“Kamu harus bisa menuliskan kisah sendiri. Mengarang!” (hlm. 13).

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan dorongan penting bagi anak muda agar tidak berhenti menjadi penikmat karya orang lain. Membaca bisa menjadi pintu masuk, sedangkan menulis adalah cara untuk mengolah pengalaman dan gagasan menjadi sesuatu yang baru.

Persahabatan yang Tumbuh dari Kesamaan dan Keunikan

Hal yang paling membuat saya menikmati novel ini adalah hubungan antartokohnya. Toples, Rena, Tiwi, dan Tobil memiliki karakter dan latar pengalaman berbeda. Mereka tidak selalu memahami kehidupan dengan cara yang sama, tetapi interaksi mereka membentuk sebuah lingkaran pertemanan yang hidup.

Pertemuan Toples dan Rena di toko buku Gunung Aksara menjadi bagian menarik. Keduanya dipertemukan oleh kegemaran membaca dan ketertarikan terhadap sastra. Toples memiliki kebiasaan yang membuatnya dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya. Ia membaca dan menulis cerpen, sementara Rena menghadapi penilaian orang lain karena bentuk tubuhnya yang dianggap berbeda dari teman-teman seusianya.

Mereka sama-sama mengenal pengalaman dijauhi, meskipun penyebabnya tidak sama. Dari situ, hubungan mereka terasa lebih bermakna daripada sekadar perkenalan dua tokoh yang kemudian terlibat dalam kisah cinta.

“Kamu punya banyak teman?”

“Banyak itu berapa ukurannya?” (hlm. 33).

Percakapan ini menggelitik sekaligus mengundang renungan. Pertanyaan tentang jumlah teman ternyata tidak selalu mudah dijawab. Apakah seseorang disebut punya banyak teman ketika mengenal puluhan orang, memiliki ratusan pengikut di media sosial, atau mempunyai beberapa orang yang benar-benar memahami dirinya?

Bagi saya, dialog tersebut terasa dekat dengan kehidupan generasi muda sekarang. Di tengah kemudahan berkenalan melalui media sosial, jumlah teman dan pengikut kerap terlihat seperti ukuran popularitas.

Padahal, kualitas pertemanan tidak selalu sejalan dengan angka. Memiliki sedikit teman yang bisa dipercaya mungkin jauh lebih berarti daripada dikelilingi banyak orang yang hanya mengenal kita di permukaan.

Tokoh-tokoh dalam Jagat Rajawali juga tidak digambarkan sebagai remaja yang selalu bijaksana. Mereka bisa ceroboh, ceplas-ceplos, nakal, dan bertindak berdasarkan dorongan sesaat. Justru karakter seperti inilah yang membuat mereka terasa manusiawi. Mereka sedang belajar memahami diri sendiri sekaligus berusaha mengenali orang-orang di sekitarnya.

Saat Cinta Remaja Bertemu Kecanggungan

Kisah Toples dan Tiwi menghadirkan nuansa cinta remaja yang polos. Perasaan suka muncul bersama kebingungan, rasa malu, dan kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan. Situasi semacam ini mungkin terdengar akrab bagi pembaca yang pernah mengalami masa sekolah menengah.

Novel ini menangkap kecanggungan tersebut tanpa harus menjadikan percintaan sebagai pusat seluruh cerita. Ada persahabatan, sastra, perjalanan, dan keanehan-keanehan yang membuat kehidupan Toples terasa lebih luas daripada urusan menyatakan cinta.

“Bukankah menyatakan cinta adalah perkara paling sukar di dunia ini?” (hlm. 116).

Kalimat ini terdengar berlebihan jika diucapkan oleh orang dewasa yang sudah melewati berbagai pengalaman hidup. Namun, bagi remaja yang baru mengenal perasaannya sendiri, mengungkapkan cinta bisa terasa seperti menghadapi persoalan besar. Ada ketakutan ditolak, kekhawatiran hubungan pertemanan berubah, dan kebingungan membaca perasaan orang lain.

Di sinilah kekuatan kisah remaja dalam novel ini. Hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa bisa menjadi pengalaman yang sangat penting bagi mereka yang sedang menjalaninya.

“Perempuan tidak selamanya lemah seperti yang dibayangkan laki-laki, dan perempuan tidak selalu minta didahulukan.” (hlm. 111).

Kalimat ini membuka ruang untuk membicarakan cara pandang terhadap perempuan dan pentingnya menghargai mereka sebagai pribadi yang memiliki kehendak, kemampuan, serta pendirian sendiri.

Rajawali, Harimau, dan Lumba-Lumba dalam Kepala Toples

Judul Jagat Rajawali semakin menarik ketika pembaca mengenal dunia imajinasi Toples. Di dalam kepalanya, hidup tiga hewan yang menjadi bagian penting dari cara ia mengalami dan memahami kehidupan, yaitu rajawali, harimau, dan lumba-lumba.

Ketiganya bukan sekadar penghias cerita. Hewan-hewan tersebut dapat dibaca sebagai simbol yang berkaitan dengan karakter dan pengalaman emosional para tokoh. Rajawali diasosiasikan dengan Toples, lumba-lumba dengan Tiwi, sedangkan harimau dikaitkan dengan Rena. Kehadiran mereka menciptakan lapisan makna yang membuat novel ini tidak berhenti pada cerita keseharian remaja.

Saya menikmati cara Eko Darmoko membiarkan imajinasi berkembang tanpa selalu memberikan penjelasan yang gamblang. Dunia batin Toples terasa bergerak bebas, terkadang mengikuti pengalaman nyata, terkadang melompat ke wilayah yang ganjil. Pembaca pun diajak menafsirkan sendiri hubungan antara hewan-hewan tersebut, perasaan tokoh, dan kejadian yang mereka alami.

“Semesta cerpen berbeda dengan semesta yang kasat mata ini. Dalam semesta cerpen, imajinasilah yang berkuasa. Ya, semacam masinis.” (hlm. 14).

Saya menyukai gagasan tersebut karena imajinasi memang memungkinkan seseorang membangun dunia yang tidak dibatasi oleh kenyataan sehari-hari. Bagi seorang penulis, pengalaman nyata bisa menjadi bahan cerita, tetapi imajinasi memberinya kebebasan untuk mengolah pengalaman itu menjadi sesuatu yang berbeda.

Gagasan tersebut juga terasa relevan bagi generasi muda yang tumbuh di tengah banjir informasi dan hiburan digital. Imajinasi bukan hanya sesuatu yang dimiliki anak kecil. Ia merupakan kemampuan yang perlu terus diasah, baik melalui membaca, menulis, berdiskusi, maupun mencoba pengalaman baru.

Petualangan Ganjil yang Membuat Cerita Semakin Hidup

Novel remaja tanpa petualangan rasanya memang kurang lengkap. Eko Darmoko memahami kebutuhan itu dengan membawa Toples dan teman-temannya menuju pengalaman yang tidak biasa. Mereka menyusuri tempat-tempat misterius, mencari tahu tentang sumur ajaib, bertemu sosok nenek yang menyisakan tanda tanya, dan melakukan napak tilas ke lokasi yang berkaitan dengan novel Bumi Manusia.

Rumah panggung dengan kisah mistis dan keberadaan nenek misterius memberikan warna berbeda pada cerita. Situasi yang awalnya terasa realistis perlahan bergeser menuju wilayah yang sulit dipastikan. Pengalaman Toples dan Rena bahkan tidak selalu selaras ketika mereka menghadapi peristiwa yang sama.

Bagian ini mengingatkan saya pada karya-karya Haruki Murakami yang sering memadukan kehidupan sehari-hari dengan kejadian ganjil. Eko Darmoko memanfaatkan perpaduan tersebut untuk menciptakan rasa penasaran tanpa menghilangkan karakter remajanya.

Narasi Jagat Rajawali bergerak di antara realisme, surealisme, dan realisme magis. Perpindahan itu membuat pembaca tidak bisa sepenuhnya berpegang pada logika kejadian sehari-hari. Namun, justru di situlah letak keseruannya. Ada bagian yang terasa akrab, ada yang mengundang tawa, dan ada pula yang membuat saya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Keanehan tersebut tidak membuat novel ini kehilangan kedekatan emosional. Di balik peristiwa misterius, pembaca tetap mengikuti perjalanan seorang remaja yang berusaha memahami dunia dan dirinya sendiri.

Relevan bagi Generasi Muda Masa Kini

Meskipun berlatar Surabaya setelah Orde Baru tumbang, persoalan yang dialami Toples dan teman-temannya masih bisa ditemukan dalam kehidupan anak muda sekarang. Perubahan zaman memang membawa perbedaan cara berkomunikasi, menikmati hiburan, dan membangun pertemanan. Namun, kebutuhan untuk diterima, keinginan menemukan jati diri, serta rasa penasaran terhadap dunia tetap menjadi bagian dari pengalaman remaja.

Bagi saya, pesan paling menarik dari novel ini adalah pentingnya memberikan ruang kepada anak muda untuk berkembang melalui pengalaman mereka sendiri. Remaja tidak selalu membutuhkan nasihat panjang dari orang dewasa. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk membaca, bertanya, bertualang, membuat kesalahan, dan belajar dari konsekuensinya.

Kegemaran Toples membaca sastra menunjukkan bahwa buku bisa memperluas cakrawala berpikir. Ia mengenal dunia yang berbeda dari lingkungan sehari-harinya melalui karya-karya penulis lain. Dari sana, ia belajar bahwa pengalaman manusia tidak pernah sesederhana yang terlihat di permukaan.

Hal ini patut direnungkan di tengah kebiasaan membaca yang sering terpotong oleh konten singkat dan arus informasi cepat. Bukan berarti hiburan digital harus ditinggalkan. Namun, generasi muda tetap perlu memiliki ruang untuk menikmati bacaan yang mengajak mereka berpikir lebih lama, merasakan emosi tokoh, dan menafsirkan makna di balik cerita.

Jagat Rajawali juga mengingatkan bahwa seseorang tidak harus menunggu dewasa untuk mulai berkarya. Toples berani menulis karena ia memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Keberanian itu bisa menjadi inspirasi bagi anak muda yang ingin menulis cerita, membuat film, menggambar, atau menekuni bidang kreatif lainnya.

Di sisi lain, novel ini mengajak pembaca agar tidak buru-buru menilai orang berdasarkan penampilan atau kebiasaan yang berbeda. Toples dan Rena memiliki pengalaman dijauhi karena keunikan mereka. Padahal, keunikan itulah yang kemudian menjadi pintu bagi keduanya untuk saling mengenal.

Identitas Buku

  • Judul: Jagat Rajawali
  • Penulis: Eko Darmoko
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan: I, Mei 2025
  • Tebal: 247 Halaman
  • ISBN: 978-623-134-371-0
  • Kategori: Fiksi / Novel

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda