M. Reza Sulaiman | Srijudin Srijudin
ilustrasi (Dokumentasi pribadi)
Srijudin Srijudin

Hari itu kelihatannya biasa saja.

Aku bangun kesiangan, lupa mencuci botol minum, dan terburu-buru ke sekolah tanpa sarapan. Tidak ada firasat. Tidak ada langit yang dramatis. Bahkan, playlist Spotify-ku masih berisi lagu yang sama seperti kemarin.

Semua normal. Terlalu normal untuk sebuah hari yang nantinya akan menempel di kepalaku seumur hidup.

Di kelas, bangku pojok dekat jendela itu kosong. Bangku itu biasanya ditempati Reno—cowok paling berisik, paling sok kuat, paling sering menertawakan masalah orang lain—dan entah kenapa, paling jarang ditanya, “Kamu nggak apa-apa?”

“Reno izin?” tanyaku kepada Wira.

Wira mengangkat bahu. “Katanya sakit.”

“Oh.”

Cuma satu kata. Lalu bel berbunyi. Pelajaran berlanjut. Hidup berjalan lagi. Bangku kosong itu cuma… bangku kosong.

Jam istirahat, grup WhatsApp kelas ramai. Bukan soal Reno, melainkan soal ulangan mendadak, gosip guru baru, dan meme receh. Aku menggulir (scroll) layar sambil makan gorengan. Tiba-tiba, aku menyadari satu hal aneh. Pesan terakhir dari Reno ada seminggu yang lalu.

Isinya: “Kalau suatu hari gue ngilang, jangan kaget ya.”

Waktu itu kami membalasnya dengan stiker ketawa. Karena ya… siapa juga yang akan serius dengan kalimat seperti itu?

Pulang sekolah, hujan turun. Aku menunggu angkutan kota sambil membuka ponsel. Ada notifikasi baru dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo. Ini ibu Reno.”

Dadaku langsung tidak enak.

“Reno meninggal tadi pagi.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Otakku seolah tersendat (buffering). Tanganku dingin. Hujan di depanku tiba-tiba terasa sangat berisik.

“Maaf baru ngabarin. Dia sering cerita tentang kamu.”

Aku?

Tentang aku yang jarang mengobrol serius dengannya? Yang kalau Reno curhat, malah aku jadikan lelucon? Yang berpikir dia “kuat”, sehingga tidak perlu ditanya? Aku berdiri terlalu lama di pinggir jalan sampai angkutan kota lewat tanpa berhenti.

Malamnya, aku membuka ruang obrolan Reno. Aku gulir ke atas. Jauh. Lebih jauh lagi. Ada pesan-pesan kecil yang dulu aku anggap sepele:

“Capek juga ya pura-pura ketawa.”

“Kalau gue cerita serius, lo bakal dengerin nggak?”

“Kayaknya gue nggak sepenting itu.”

Dan semua itu… cuma aku baca. Kadang aku balas singkat. Kadang tidak sama sekali.

Aku mengetik.

“Ren, maaf ya.”

Pesan terkirim. Centang satu. Selamanya.

Besoknya, sekolah tetap berjalan. Guru tetap mengajar. Kantin tetap ramai. Dunia tidak berhenti cuma karena satu orang pergi. Tapi bangku kosong itu sekarang berbeda. Bukan lagi bangku kosong, melainkan ruang yang terlalu penuh.

Kepala sekolah menginstruksikan satu menit mengheningkan cipta. Semua diam, tapi pikiranku ribut. Aku ingat hari ketika Reno duduk di bangku itu sambil tersenyum lebar, padahal matanya kelihatan lelah. Hari ketika dia tertawa paling keras, tapi pulang paling cepat. Hari-hari kecil yang tidak pernah dibicarakan, karena kami terlalu sibuk bercanda.

Setelah upacara, aku ke kelas sendirian. Duduk di bangku Reno. Di laci meja, ada kertas terlipat. Tulisan tangannya.

“Kalau kamu nemu ini, berarti aku beneran nggak ada.”

Tanganku gemetar.

“Tenang, ini bukan nyalahin siapa-siapa. Aku cuma capek jadi kuat terus.”

Aku berhenti membaca. Menarik napas. Lanjut.

“Kalau suatu hari kamu lihat temen kamu ketawa terlalu keras, tanya aja pelan-pelan: “Lo beneran nggak apa-apa?” Kadang itu udah cukup.”

Aku melipat kertas itu lagi. Hari itu aku pulang lebih pelan dari biasanya. Sejak hari itu, aku jadi orang yang suka menanyakan hal-hal kecil.

“Lo aman?”

“Capek nggak?”

“Mau cerita nggak?”

Karena aku tahu sekarang, hari yang kelihatannya biasa saja bisa menjadi hari terakhir seseorang berharap untuk dimengerti. Dan hari-hari yang tidak pernah dibicarakan sering kali adalah yang paling menentukan segalanya.