M. Reza Sulaiman | Khoirul Umar
Tinta hitam di layar putih (Gemini.ai)
Khoirul Umar

Arga duduk di depan laptopnya sejak pagi. Layar putih terbuka, kursor berkedip, tetapi tidak ada satu kata pun yang muncul. Ia sudah mencoba menulis berkali-kali, lalu menghapusnya lagi. Begitu terus. Kepalanya penuh, tetapi tangannya terasa kosong. Arga adalah seorang penulis di sebuah media online. Setiap hari, ia harus menulis artikel dengan cepat. Judulnya harus menarik, isinya singkat, dan mudah dibaca. Tulisan itu harus banyak dibuka orang serta ramai dibagikan. Jika tidak, ia dianggap gagal. Ia sering merasa tulisannya tidak benar-benar berasal dari hati. Ia menulis karena tuntutan, bukan karena ingin bercerita. Semua serba cepat, serba angka, dan serba target.

Suatu malam, hujan turun deras dan listrik di rumah Arga mati. Internet terputus. Laptopnya tidak bisa digunakan. Dengan sedikit kesal, ia membuka laci meja yang sudah lama tidak ia sentuh. Di dalamnya, ia menemukan sebuah buku tulis lama dan sebuah pena hitam. Buku itu milik ayahnya. Ayah Arga dulu seorang guru bahasa Indonesia yang suka menulis pada waktu senggang. Sejak ayahnya meninggal, buku itu tidak pernah dibuka lagi. Arga membuka halaman pertama. Tulisan tangan ayahnya masih jelas: “Tinta hitam tidak bisa berbohong. Sekali ditulis, ia akan tinggal.”

Arga terdiam. Ia mengambil pena hitam itu dan mulai menulis. Awalnya ia ragu. Tangannya kaku karena sudah lama tidak menulis di atas kertas. Namun, perlahan kata-kata mulai mengalir. Ia menulis tentang lelahnya hidup pada zaman sekarang. Tentang orang-orang yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi sebenarnya sering merasa kosong. Tentang komentar jahat di internet yang bisa melukai perasaan seseorang. Tentang dirinya sendiri yang menulis setiap hari, tetapi merasa semakin jauh dari jati dirinya. Tidak ada tombol hapus. Jika salah, ia mencoret. Jika ragu, ia berhenti sebentar. Tinta hitam meninggalkan bekas yang nyata. Jarinya kotor, tetapi hatinya terasa lebih ringan.

Semenjak malam itu, Arga mulai sering menulis di buku tersebut. Ia menulis sebelum tidur, pada pagi hari, bahkan ketika menunggu bus. Ia tidak memikirkan apakah tulisannya bagus atau tidak. Ia hanya menulis apa yang ia rasakan. Beberapa hari kemudian, Arga mencoba memotret tulisannya dan mengunggahnya ke akun media sosial pribadinya. Ia tidak memberi judul yang berlebihan, hanya satu kalimat sederhana: “Tulisan ini saya buat dengan tinta hitam dan hati yang jujur.”

Tak disangka, banyak orang membacanya. Mereka meninggalkan komentar panjang. Ada yang berkata tulisannya membuat mereka merasa dimengerti. Ada yang mengaku menangis karena merasa mengalami hal yang sama. Ada juga yang berkata, “Terima kasih sudah menulis hal yang tidak berani kami ucapkan.” Tulisan Arga menyebar pelan, tetapi luas. Bukan karena sensasi, melainkan karena kejujuran. Namun, hal itu sampai ke telinga atasannya. Arga dipanggil ke kantor. “Aturan perusahaan jelas,” kata atasannya. “Tulisan seperti ini terlalu berat. Tidak cocok untuk pasar. Kita butuh tulisan yang ringan dan cepat.”

Arga mendengarkan dengan tenang. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut. “Pak,” kata Arga, “banyak orang lelah dengan tulisan kosong. Mereka butuh kejujuran, bukan hanya hiburan.” Beberapa hari kemudian, kontraknya tidak diperpanjang. Arga kehilangan pekerjaannya. Namun, anehnya ia tidak merasa menyesal. Ia merasa lebih bebas. Arga mulai menulis lebih banyak dengan tinta hitam. Ia membuka blog sederhana dan mengadakan kelas menulis kecil-kecilan di rumah. Pesertanya tidak banyak, tetapi mereka datang dengan niat belajar menulis dari hati.

Di kelas itu, Arga selalu berkata, “Menulis bukan tentang menjadi terkenal. Menulis adalah cara kita jujur pada diri sendiri.” Di dunia yang penuh layar terang, iklan, dan suara bising, tinta hitam mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah kekuatannya. Ia tenang, jujur, dan bertahan lama. Selama masih ada orang yang berani menulis dengan hati, tinta hitam tidak akan pernah hilang.