Ada hubungan yang tidak bisa disebut pacaran, tetapi juga terlalu dalam untuk dibilang sekadar teman. Hubungan yang tidak memiliki nama, tetapi menyita banyak ruang di kepala.
Kita ada di situ.
Aku ingat betul bagaimana semuanya terasa wajar pada awalnya. Tidak ada janji. Tidak ada status. Hanya dua orang yang sering berbagi cerita, saling menunggu pesan, dan tahu jam tidur satu sama lain tanpa pernah membicarakannya secara terbuka.
Kita dekat dengan cara yang sunyi.
Kamu tahu kebiasaan kecilku. Aku tahu cara kamu menghela napas saat lelah. Kita saling hadir di hari-hari biasa, bukan hanya pada momen besar. Dan entah kenapa, itu terasa cukup. Atau setidaknya, aku meyakinkan diriku begitu.
Sampai suatu hari, aku sadar ada jarak yang tidak pernah benar-benar bisa kututup.
Kamu sering ada, tetapi tidak sepenuhnya. Sering peduli, tetapi selalu dengan batas yang tidak pernah kamu jelaskan.
Aku mencoba memahaminya sebagai kedewasaan—bahwa tidak semua hal perlu dibicarakan, bahwa kedekatan tidak selalu harus diberi label. Namun, pada malam-malam tertentu, saat ponselku sunyi dan pikiranku ramai, aku tahu ada yang tidak beres.
Aku merasa menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar dijanjikan.
Konflik kita tidak pernah meledak. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara tinggi. Justru itulah yang membuatnya rumit. Semua berjalan halus, terlalu halus, sampai aku sering mempertanyakan perasaanku sendiri.
“Kenapa kamu diam?” tanyamu suatu malam.
Aku ingin menjawab jujur, bahwa diamku lahir dari rasa lelah. Dari rasa yang tidak tahu harus diarahkan ke mana. Namun, aku hanya mengangkat bahu dan memilih aman.
Kita sama-sama pandai menghindar.
Ada masa ketika hidupmu mulai sibuk. Pekerjaan menumpuk, keluarga menuntut banyak hal. Aku mengerti. Aku tidak pernah merasa berhak menuntut perhatian lebih. Namun diam-diam, aku mulai belajar bagaimana rasanya tersingkir tanpa benar-benar ditinggalkan.
Kita masih bicara. Masih bercanda. Masih tertawa. Namun, ada sesuatu yang hilang.
Aku merasa seperti tamu tetap di hidupmu. Selalu diterima, tetapi tidak pernah benar-benar diundang masuk lebih jauh. Dan yang paling menyakitkan, aku ikut menjaga jarak itu. Karena sebagian diriku takut, jika aku terlalu jujur, semuanya akan runtuh.
Aku pernah hampir mengatakan, “Aku ingin kita lebih jelas.”
Kalimat itu berputar-putar di kepalaku berhari-hari. Namun, setiap kali aku hampir mengatakannya, aku melihat wajahmu yang lelah. Aku mendengar ceritamu tentang tekanan hidup. Dan aku memilih diam, lagi.
Aku pikir diam adalah bentuk pengertian. Ternyata, diam juga bisa jadi bentuk pengingkaran pada diri sendiri.
Perubahan paling terasa bukan saat kamu pergi, tetapi saat kamu tetap ada tanpa benar-benar hadir. Balasan pesan makin singkat. Waktu bertemu makin jarang. Aku masih jadi tempatmu bercerita, tetapi kamu tidak lagi bertanya kabarku dengan cara yang sama.
Aku tidak marah. Aku lebih sering bingung.
Apakah aku terlalu berharap? Atau memang sejak awal, aku hanya salah membaca tanda?
Aku sempat menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku kurang menarik, kurang sabar, atau kurang dewasa. Padahal, kenyataannya lebih sederhana dan lebih menyakitkan: kita menginginkan hal yang berbeda, tetapi tidak pernah cukup berani untuk mengakuinya.
Perpisahan kita juga tidak dramatis.
Tidak ada kata “selesai”. Tidak ada air mata di tempat umum. Kita hanya berhenti saling mencari. Pesan terakhir tidak dibalas. Pertemuan terakhir tidak diulang. Dan hidup berjalan seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang benar-benar hilang.
Padahal ada.
Yang hilang bukan kamu sepenuhnya, melainkan versi diriku saat bersamamu. Versi yang selalu menunggu. Versi yang menahan diri. Versi yang berharap dari hal-hal kecil.
Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari satu hal penting: kedekatan tanpa kejelasan bisa terasa romantis di awal, tetapi melelahkan di akhir. Karena cinta, dalam bentuk apa pun, tetap butuh keberanian untuk memilih dan dipilih.
Sekarang, ketika mengingatmu, aku tidak lagi merasa perih. Lebih seperti rasa hangat yang sedikit asing. Aku bersyukur pernah dekat denganmu. Namun, aku juga belajar bahwa kedekatan saja tidak cukup untuk bertahan.
Kita pernah dekat. Sangat dekat. Namun, tidak pernah benar-benar bersama.
Dan mungkin, itu pelajaran yang harus kuterima agar suatu hari nanti, aku tidak lagi menetap di hubungan yang setengah-setengah. Aku ingin hadir sepenuhnya, dan dihadiri dengan utuh. Tanpa menebak-nebak. Tanpa menunggu tanpa kepastian.
Jika suatu hari kita bertemu lagi, aku harap kita bisa tersenyum tanpa beban. Bukan karena tidak ada rasa yang tersisa, melainkan karena kita sudah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua kedekatan ditakdirkan menjadi kebersamaan.
Beberapa hanya singgah untuk mengajarkan batas.
Baca Juga
-
Bukan Antisosial, Ini 6 Tantangan Berteman di Usia Dewasa Awal
-
Di Balik Ekspektasi: 5 Realitas yang Sering Disalahpahami dari Usia 20-an
-
Lelah Bertemu Orang? Kenali 5 Sinyal Anda Perlu Jeda Sosial
-
Hidup Bukan Lomba, Ini 6 Kebiasaan untuk Mengatasi Rasa FOMO Biar Lebih Tenang
-
Tak Perlu Malu untuk Menepi: Kenali 6 Tanda Anda Perlu Ruang untuk Sendiri
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Shampo Organik untuk Kulit Kepala Sehat Tanpa Ketombe
-
Hikayat Benang Merah
-
Belajar Hukum Lewat Komedi: Mengapa Mens Rea Lebih Kena dibanding Seminar?
-
Dilema Emosional Gen Z: Berani Jujur Tapi Siap Kehilangan atau Lebih Baik Diam?
-
Dapat Daesang, Jennie BLACKPINK Borong Penghargaan Golden Disc Awards 2026