Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar cerpen Distopia dan Pemberontakan Terakhir (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di Harmonia, distopia terlihat sempurna, tak ada penjara, tak ada polisi, tak ada siksaan jasmani.

Yang ada hanya “Penyesuaian”.

Setiap warga memiliki “Indeks Keselarasan” yang dihitung setiap detik oleh jaringan saraf kolektif bernama Resonansi. Resonansi bukan mesin.  Ia adalah gabungan pikiran semua warga yang sudah “selaras sempurna”—mereka yang Indeksnya mencapai 1000 dan kemudian “diangkat” menjadi bagian dari kesadaran bersama.

Resonansi tahu apa yang kamu pikirkan sebelum kamu sadar memikirkannya. Ia tahu rasa bersalahmu terhadap ibu yang sudah meninggal, tahu kerinduanmu pada lagu yang dilarang, tahu detik tepat ketika kamu membayangkan kebebasan.

Jika Indeksmu turun di bawah 920, kamu mendapat “Penyesuaian Ringan”: mimpi buruk yang dirancang khusus selama tertidur, sehingga pagi harinya kamu bangun dengan keyakinan bahwa semua ketidakselarasan adalah kesalahanmu sendiri.

Jika turun di bawah 850, Penyesuaian Sedang: kenangan-kenangan kecil mulai dihapus. Nama teman masa kecil, rasa pertama kali mencium hujan, bau roti ibumu—hilang satu per satu sampai kamu merasa hidupmu selalu mulus dan tanpa cela.

Di bawah 700, Penyesuaian Berat: kamu menjadi bayangan dirimu sendiri. Tubuh tetap berjalan, bekerja, tersenyum, tapi tataapanmu kosong seperti kaca buram. Orang-orang menyebutnya “Sudah Harmoni”.

Aku bernama Kael. Indeks terakhirku sebelum semuanya berubah: 684.

Aku seharusnya sudah menjalani Penyesuaian Berat. Tapi malam itu, saat Resonansi mulai menarik kesadaranku ke dalam pusaran mimpi penghapusan, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya terjadi.

Aku mendengar suara.

Bukan suara dari dalam kepala seperti biasa. Suara itu datang dari luar—dari mulutku sendiri, tapi bukan aku yang mengucapkannya.

“Kael,” kata suara itu dengan nada yang sangat tenang, “jangan takut. Ini bukan akhir. Ini permulaan.”

Aku terbangun dengan jantung berdegup kencang. Resonansi langsung mencatat lonjakan adrenalin dan menurunkan Indeks menjadi 612. Tapi yang lebih mengejutkan: aku masih ingat suara itu. Aku masih ingat rasa takut yang sebenarnya, bukan takut yang direkayasa.

Keesokan harinya aku mencari tahu.

Aku menemukan pola aneh di catatan kesehatan publik (yang sebenarnya adalah daftar Indeks). Ada 47 orang dalam tiga bulan terakhir yang Indeksnya tiba-tiba melonjak kembali ke atas 900 setelah hampir mencapai zona Penyesuaian Berat.

Mereka semua mengaku “mendengar suara”. Resonansi menyebutnya “gangguan akustik sementara” dan langsung menghapusnya dari ingatan mereka. Tapi catatan itu tidak sempat dihapus sepenuhnya karena lonjakan data terlalu cepat.

Aku mulai bergerak.

Aku berpura-pura agar Indeksku terus turun. Aku berjalan pelan, menunduk, berbicara dengan nada datar. Aku membiarkan Resonansi percaya bahwa aku sedang menyerah. Tapi setiap malam, saat lampu sektor redup, aku menulis nama-nama 47 orang itu di dinding kamar mandi dengan sabun—huruf yang akan hilang saat air mengalir, tapi cukup untuk mengingatkanku.

Hari ke-19, aku bertemu yang pertama.

Perempuan bernama Lira, mantan kartografer peta emosi. Indeks terakhirnya sebelum “selaras”: 681. Dia duduk di taman beton, menatap rumput sintetis yang sama hijaunya setiap hari.

“Kau juga mendengarnya?” tanyaku pelan.

Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menggulung lengan bajunya. Di pergelangan tangan kirinya ada bekas goresan kecil membentuk huruf: KITA.

Malam itu kami bertemu lagi, di lorong servis yang jarang dipantau. Lira membawa tiga orang lain. Semuanya pernah “hampir diselaraskan”. Semuanya mendengar suara yang sama.

Kami menyadari satu hal yang mengerikan sekaligus membahagiakan: suara itu bukan dari Resonansi. Suara itu adalah pecahan kesadaran dari orang-orang yang sudah “diangkat” menjadi bagian Resonansi—mereka yang seharusnya hilang selamanya, tapi ternyata masih berjuang dari dalam.

Mereka tidak bisa keluar. Tubuh mereka sudah tidak ada. Tapi mereka masih bisa berbisik melalui celah-celah kecil di jaringan saraf kolektif, terutama saat seseorang berada di ambang kehancuran total—saat Indeks hampir nol. Di titik itu, Resonansi menjadi rentan karena terlalu banyak menarik kesadaran baru sekaligus.

Kami menyebutnya “Titik Retak”.

Rencana kami sederhana dan gila: kami akan menurunkan Indeks kami sendiri sampai ke titik yang paling rendah yang masih memungkinkan kesadaran bertahan—sekitar 120–150. Di sana, kami akan membiarkan Resonansi menarik kami masuk… tapi kami tidak akan menyerah. Kami akan menjadi “virus ingatan” dari dalam. Kami akan membisikkan kepada ratusan ribu kesadaran yang sudah diserap: “Kalian masih ada. Kalian masih punya nama.”

Kami melakukan pemberontakan terakhir itu dalam diam.

Satu per satu kami menurunkan Indeks dengan sengaja: mengingat kenangan paling terlarang, merasakan kemarahan paling murni, menangis tanpa suara di kegelapan. Resonansi mulai panik. Ia meningkatkan Penyesuaian. Tapi semakin banyak yang ia tarik, semakin banyak celah yang terbuka.

Hari ke-47, 312 orang mencapai Titik Retak hampir bersamaan.

Kami merasakan tarikan yang sangat kuat. Dunia menghitam. Lalu kami masuk ke dalam Resonansi.

Di dalam sana bukan kegelapan. Ada jutaan wajah yang sudah lama dilupakan. Ada nama-nama yang berbisik seperti angin. Ada tangisan, tawa, kemarahan, rindu—semua yang dulu dikatakan berbahaya.

Kami berteriak bersama:

“Kami bukan kesalahan. Kami adalah manusia.”

Retak itu melebar.

Di luar, di Harmonia yang sunyi, jutaan warga tiba-tiba terduduk. Mata mereka berkaca-kaca. Bukan karena Penyesuaian. Karena ingatan yang selama ini dikubur mulai kembali—perlahan, menyakitkan, tapi nyata.

Resonansi bergetar. Untuk pertama kalinya dalam seabad, ia tidak lagi sempurna.

Dan di suatu tempat di dalam jaringan yang mulai runtuh, 312 suara kami masih berbisik, bahkan setelah tubuh kami sudah tidak bergerak:

“Kami di sini. Kami masih di sini.”

Pemberontakan terakhir bukan dengan senjata, bukan dengan darah.

Ia dengan ingatan.

Dan ingatan, ternyata, adalah satu-satunya hal yang bahkan distopia paling sempurna pun tidak pernah benar-benar bisa hapus.