Dingin udara musim gugur di Prefektur Aomori seakan menusuk hingga ke sumsum tulang Agus. Pemuda berusia 22 tahun itu merapatkan jaket lusuhnya, menatap hamparan pohon apel yang daunnya mulai menguning. Dingin.
Di tangannya, sebuah gunting dahan terasa seberat beban hidup yang dibawanya dari tanah air. Agus tidak datang ke sini karena cinta pada pertanian, ia datang karena terpaksa. Ayahnya di kampung terjerat utang akibat judi online, dan sebagai anak lelaki tertua, Agus adalah jaminan terakhir keluarga.
"Oi, Agus! Jangan melamun! Apel-apel itu tidak akan memetik dirinya sendiri!" Teriakan parau itu berasal dari Tanaka-san, seorang kakek berusia 70 tahun dengan wajah yang lebih berkerut daripada kulit apel yang busuk.
Tanaka-san adalah pemilik kebun ini. Ia dikenal sebagai "Iblis Aomori" karena sifatnya yang keras, kaku, dan tidak segan memaki orang di sekitarnya, apalagi para pemagang yang bekerja lambat. Selama dua bulan pertama, Agus hanya mendapatkan makian.
Salah memotong dahan? Dimaki. Terlambat lima menit karena suhu dingin yang membuatnya menggigil? Dimaki. Agus membenci Tanaka-san, sama besarnya dengan kebenciannya pada bau apel yang kini melekat di setiap helai pakaiannya. Meski baunya harum.
"Aku bukan petani, aku ini lulusan teknik," gumam Agus sambil memetik sebuah apel Fuji dengan kasar.
"Kalau kau tidak menghargai buahnya, pohon ini tidak akan memberimu kehidupan," sahut Tanaka-san yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Mata kakek itu tajam. "Kau bekerja hanya untuk uang, bukan? Itu sebabnya apelmu rasanya asam."
Agus terdiam. Ia ingin membantah, tapi perutnya lapar dan punggungnya pegal. Di asrama kecilnya yang dingin, Agus sering menangis diam-diam, menghitung hari kapan masa magang tiga tahun ini berakhir. Sedikit menyesal.
Suatu malam, badai besar melanda Aomori. Angin kencang mengancam akan menggugurkan ribuan apel yang siap panen dalam seminggu ke depan. Tanaka-san, dengan tubuh rentanya, nekat keluar ke kebun di tengah hujan badai untuk memasang jaring pelindung. Agus melihatnya dari jendela asrama. Ia melihat pria tua itu jatuh tersungkur di lumpur, mencoba bangkit, namun gagal.
Hati nurani Agus bergejolak. Ia tidak ingin membantu "iblis" itu, tapi terasa mengganjal. Dengan umpatan pelan, ia memakai jas hujannya dan berlari keluar. Malam itu, di bawah guyuran hujan yang membekukan, seorang pemuda Indonesia dan seorang kakek Jepang bekerja bahu-membahu.
Tidak ada makian, yang ada hanyalah deru angin dan napas yang memburu. Agus menggendong Tanaka-san yang kakinya terkilir kembali ke rumah kayu kecilnya. Dalam hatinya ada sedikit penyesalan membantu. Berpikir.
Saat itulah Agus melihat sisi lain dari sang "Iblis". Di ruang tamu Tanaka-san, terdapat foto seorang wanita dan anak laki-laki yang sudah memudar. Entah mengapa Agus merasakan sesuatu yang mirip di antara mereka. Hubungan.
"Istriku meninggal sepuluh tahun lalu. Anakku? Dia di Tokyo, bekerja di gedung tinggi dan tidak pernah mau menyentuh tanah lagi," bisik Tanaka-san sambil mengompres kakinya. "Kebun ini adalah warisan leluhurku. Jika aku mati, siapa yang akan merawat pohon-pohon ini?"
Ada keheningan yang menyesakkan. Agus teringat ayahnya. Bedanya, Tanaka-san bekerja keras untuk sesuatu yang ia cintai, sementara ayahnya menghancurkan hidup demi sesuatu yang semu. Judi online sialan.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Tanaka-san seolah lupa cara memaki. Ia mulai mengajari Agus rahasia memupuk pohon agar menghasilkan rasa manis yang pas. Agus, mulai berpikir bagaimana membantu kakek itu.
Masalah utama di kebun ini adalah banyaknya apel yang cacat secara fisik, seperti sedikit tergores atau bentuknya tidak simetris. Apel seperti ini tidak laku dijual ke supermarket besar dan berakhir menjadi kompos. Tak berharga.
"Sayang sekali jika ini dibuang, Tanaka-san. Rasanya masih sangat manis," ujar Agus suatu hari.
"Standar pasar sangat tinggi, Agus. Apel jelek adalah sampah. Itulah kenyataan yang menyakitkan," jawab Tanaka-san lesu.
Agus tidak menyerah. Di waktu luangnya, ia bereksperimen di dapur asrama. Ia mencoba memadukan apel Aomori dengan kayu manis dan sedikit teknik fermentasi yang ia pelajari dari internet.
Ia ingin membuat jus apel murni, namun dengan tekstur yang lebih padat dan aroma yang lebih kuat. Setelah puluhan kali gagal, ia berhasil menciptakan sebuah formula jus apel murni tanpa tambahan gula, namun diproses dengan suhu rendah untuk menjaga nutrisinya.
Ia membawa botol contoh itu ke Tanaka-san. Sang kakek menyesapnya perlahan. Matanya melebar. "Ini... ini seperti memakan buahnya langsung di musim semi."
Agus kemudian menggunakan media sosial untuk memasarkan produk tersebut dengan label Yj no Ringo yang dalam bahasa Indonesia berarti "Apel Persahabatan". Ia menceritakan kisah tentang seorang pemuda asing dan petani tua yang menjaga tradisi.
Tak disangka, pesanan mulai datang dari kota-kota besar. Strategi storytelling Agus berhasil menarik simpati masyarakat Jepang yang menghargai nilai ketulusan. Tanaka-san membantu dengan dananya, meski tak besar.
Tiga tahun berlalu dengan cepat. Masa magang Agus berakhir. Utang ayahnya di Indonesia sudah lunas. Di hari keberangkatannya, Tanaka-san mengantarnya ke stasiun kereta. Kakek itu tidak lagi marah-marah. Ia memberikan sebuah amplop tebal dan sebuah kunci kecil.
"Apa ini, Tanaka-san?" tanya Agus bingung.
"Amplop itu adalah bonus dari penjualan jusmu tahun ini. Dan kunci itu... itu kunci gudang peralatan. Aku sudah tua, Agus. Aku tidak ingin kebun ini mati. Jika kau kembali ke Indonesia, kebun ini akan dijual kepada pengembang properti." Tanaka-san menunduk. "Tapi jika kau mau kembali ke sini setelah mengurus visa yang baru, kebun ini adalah milikmu untuk dikelola bersama," kata Tanaka-san penuh harapan.
Agus menatap kereta yang mendekat, lalu menatap wajah tua yang kini ia anggap sebagai kakeknya sendiri. Ia teringat bagaimana ia dulu membenci tempat ini. Namun sekarang, aroma apel Aomori adalah aroma rumah baginya. Sekejap.