Kamu sudah tahu bukan, siapa aku? Aku adalah anak kecil di desaku yang terlahir dari orang kecil. Bahkan jauh lebih parah, lebih kecil lagi. Aku adalah anak pengemis jalanan yang sering nangkring di trotoar untuk mohon belas kasih orang yang berlalu.
Menengadahkan tangan sambil menjulurkan omplong bekas tempat menampung rezeki. Berangkat pagi, pulang petang.
Pernah suatu ketika, aku ikut ibu berputar-putar di sekeliling kendaraan di jalan yang dihiasi lampu merah, kuning dan hijau. Waktu itu hujan begitu deras. Asap knalpot puluhan kendaraan kian menyerbu hidungku. Sesak. Lama sekali.
Aku yang sakit-sakitan hampir saja tergolek kedinginan. Dari jendela mobil yang itu ke jendela mobil yang ini. Mondar-mandir. Terus berputar karena lampu merah menyala sangat lama. Semua jendela tetap ditutup rapat.
Tak satupun yang membukanya, apalagi peduli memberikan sebagian sisa rezekinya kepada kami. Memang tidak ada yang menggubris derita kami saat itu.
Aku sudah tidak mau dan melarang ibu untuk tidak mengemis sore itu karena awan tebal amat menggumpal di atas kepalaku. Sebentar lagi pasti akan turun hujan, perasaanku. Tapi kata ibu, mau makan dari mana besok kalau tidak bekerja sekarang? Terpaksa aku ikut, tak membantah.
Ternyata memang benar. Tak sepeser pun uang yang kami peroleh waktu itu. Omplong bekas yang ada di tangan kami tetap kosong melompong.
Aku dan ibu tinggal di sebuah gubuk di pinggir sungai Kaliwong. Gubuk kumuh yang berlantai tanah, berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa kering itu hanya dihuni aku dan ibuku.
Sedangkan ayahku telah lama kembali kepada Sang Maha Pencipta. Sejak aku masih duduk di bangku kelas II SD. Sepeninggalnya ayah, ibuku selalu menjual barang bekas milik ayah ke pasar loak ketika ibu sudah tak lagi punya uang simpanan untuk belanja. Mulai dari kacamata minus, kursi goyang antik, golok peninggalan suku Dayak kuno sampai barang pusaka dan senjata tajam lainnya.
Ayahku termasuk sebagian dari pahlawan Republik Indonesia, katanya. Ia meninggal karena dadanya tertembak pistol pasukan tentara Belanda saat mempertahankan kekayaan daerah dan membela rakyat. Ia sosok petinggi alias Kepala Desa yang gagah berani, yang siap menaruhkan nyawanya jika para penjajah dengan ganas merampas harta dan menganiaya penduduk.
Ya, aku masih ingat prinsip ayah. Maju tak gentar, membela yang benar. Lawan jangan dicari, ketemu lawan jangan lari. Basmi kemungkaran. Dobrak kebatilan. Kibar kebenaran. Selagi benar, haram untuk mundur. Aku tak sakit hati selaku keturunannya walaupun nama ayah tidak tercantum dalam daftar nama pahlawan nasional. Karena aku yakin, sebagai generasi ayah, aku akan berusaha untuk memperkenalkan sosok ayah ke khalayak umum. Walau dengan cara apapun. Suatu saat aku pasti akan menemukan caraku sendiri.
***
Tumbuhlah aku menjadi sosok lelaki dewasa. Aku dikaruniai ilmu oleh Tuhan lewat perantara ibu, ayah dan guru. Selayaknya aku manfaatkan ilmu yang ada untuk menuju perubahan yang lebih baik.
Selang beberapa hari, aku coba mencoret kertas buram dengan ujung tintaku menjadi sebuah bahan bacaan. Lalu kuketik sendiri di rental komputer yang terdapat di kotaku dengan membayar 1.500 perjam. Aku izin kepada ibu sekaligus minta uang untuk biaya pengetikan naskah ke komputer.
“Nak, maafkan ibu. Hari ini tak sepeserpun uang yang ibu punya. Bagaimana kalau keinginanmu itu ditunda dulu beberapa hari lagi, Nak?”
“Tidak bisa, Bu. Saat ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk membantu ibu dalam mencari nafkah sekaligus mengenang kembali almarhum ayah. Sebagai anaknya, aku ingin mengenalkan ke orang-orang bahwa ayah dulu juga termasuk pahlawan Republik Indonesia.”
“Dengan apa kamu akan membantu meringankan beban ibu dan memperkenalkan jasa ayahmu?”
“Ya, dari itu, Bu, sekarang aku butuh uang untuk mengetik sebuah karya hasil kreasiku. Di dalamnya aku juga menyisipkan profil ayah.”
“Setelah diketik nanti lalu mau kau bagaimanakan? Mau disebarkan ke jalan-jalan umum?”
“Ya, tidaklah, Bu. Aku ingin mengirimkannya ke email majalah-majalah atau ke penerbit.”
“Ya, seandainya diterima, jika tidak? Uang itu akan hangus bukan?”
“Tidak begitu, Bu. Tuhan bukan menilai hasil, tapi menilai proses. Kita mesti berusaha terlebih dahulu, baru ikhtiar setelah itu. Kita harus optimis, Bu!”
“Kamu yakin kalau karya kamu itu akan dimuat oleh redaktur majalah atau penerbit?”
“Yakin, Bu. Bahkan sangat yakin sekali.”
“Ya, sudah, ini uangnya. Uang ini rencananya ingin ibu pakai untuk beli minyak kelapa dan ikan teri buat lauk-pauk makanan kita sekarang. Tapi kok sepertinya kamu lebih membutuhkan uang ini. Ya sudah, dipakai kamu saja dulu. Ingat, setelah selesai langsung pulang, ya? Sekarang ibu masih mau mencuci beras yang padinya kita kais dari gilingan beras Pak Darmo kemarin sore itu.”
“Aku berangkat dulu ya, Bu? Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Semoga dimuat ya, Nak?”
Aku berangkat ke rental komputer dengan penuh keyakinan karyaku akan dimuat, sembari mengamini doa tulus ibu.
Huruf abjad dan deretan angka di keyboard komputer telah satu jam lebih dijelajahi jemariku. Kuedit dahulu sebelum di-print. Ada kesalahan, langsung aku benahi. Beberapa saat kemudian, sebuah cerpen terlahir sudah. Aku print lalu kubelikan amplop di toko sebelah rental itu. Kudekap amplop berisi cerpen itu seerat-eratnya. Takut terbawa terbang angin. Aku berlari ke kantor pos. Lelaki berbaju kotak abu-abu yang menjaga di dalamnya.
“Pak, aku mau beli perangko kilat. Ada, Pak?” tanyaku pada pegawai pos itu.
“Ada, Dik.”
“Berapa harganya?”
“5.000, Dik. Jadi, mau beli?”
“Jadi, Pak. Tapi kok mahal sekali, ya?”
“Tidak, Dik. Ini harga standar. Kalau tidak mau beli, ya sudah. Begitu aja kok repot.”
“Beli yang murah tapi juga yang kilat, apakah ada, Pak?”
“Tidak ada. Yang kilat ya segitu harganya. Kalau yang lebih murah ada juga di sini tapi pengirimannya lambat mau nyampek. Bagaimana?”
“Ya, sudah. Mau beli yang paling murah saja. Tidak masalah walau agak lama, asal tetap bisa sampai ke tempat yang dituju.”
Pegawai kantor pos tersebut menyodorkan perangko ke mukaku. Kuterima kemudian aku tempel di pojok atas kiri amplop.
“Maaf, Pak. Boleh aku pinjam pulpennya?”
“Ini…” pegawai itu memberikannya.
Akhirnya, kutulis alamat penerbit yang terdapat di sebuah kota besar. Tidak lupa aku berdoa, semoga karya yang ingin kukirimkan ini tiada aral untuk sampai ke tempat yang dituju serta diterima lalu dimuat dengan digabungkan bersama pengarang-pengarang lain.
Aku pulang dengan penuh doa, semoga dan semoga.
Sampai di rumah ternyata ibu sedang asyik makan nasi dengan garam putih dan sebutir cabe merah sebagai lauknya. Dalam hati aku menangis meratapi kesengsaraan hidup keluargaku.
“Sudah dikirimkan, Nak?” tanya ibu menyadarkanku dari tangis batin.
“Sudah, Bu.”
“Ini nasinya sudah masak. Silakan dimakan dulu biar tidak mudah diserang penyakit! Tuh ikannya sisa yang kemarin sudah ibu hangat.”
Betapa agungnya hati engkau, duhai ibuku. Kenapa tidak ibu saja yang memakan ikan hasil pancinganku di sungai belakang rumah itu? Kenapa masih ibu hidangkan kepadaku? Apakah ibu tidak mau untuk makan hasil jerih payahku? Kenapa ibu sendiri cuma makan dengan sambal terasi? batinku masih belum selesai kian menangis.
“Lho, kok jadi bengong. Sana cepat ambil piringnya di rak. Nanti sastrawan ibu ini jatuh sakit!” suruh ibu sembari guyon kepadaku yang tetap mematung.
***
Sejak itu, aku selalu bersikeras untuk terus berkreasi dan berkarya. Makin bersemangat. Demi mengasah bakat, menambah wawasan, memperkenalkan perjuangan ayah serta menghidupkan keluarga. Semakin banyak karyaku terlahir, makin banyak pula penerbit, majalah dan tabloid yang memuatnya.
Akhirnya, akupun dan ibu hingga kini bisa bertahan hidup dengan perantara sebuah tulisan.
Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menganugerahi aku dengan berbekal akal yang mampu berpikir serta dapat pula membedakan antara halal dan haram, antara haq dan batil.
Terimakasih penerbit, kau telah bersedia memuat karanganku sehingga kau jadi perantara ulung dalam mata pencaharianku. (*)
Baca Juga
-
Xiaomi Luncurkan Kacamata Pintar Mijia, Baterai 114 mAh Tahan hingga 13 Jam
-
Realme Neo 8 Rilis 22 Januari, Layar AMOLED M14 6,78 Inci Buatan Samsung
-
Realme C85 5G Masuk Indonesia 16 Januari, Bawa Proteksi Tahan Air Tertinggi
-
4 HP Dibekali Chipset Snapdragon RAM 12 GB Rp 3 Jutaan, Performa Ngebut
-
4 Rekomendasi HP Murah Rp 2 Jutaan dengan Kamera 108 MP dan RAM 8 GB
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Review Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Saat Komedi Berani Menguliti Niat Penguasa
-
4 Regenerative Cream dengan PDRN & Cica, Rahasia Glass Skin Tanpa Iritasi
-
Hanggini Umumkan Kehamilan Anak Pertama Setelah 2 Tahun Menikah
-
Dibalik Pemblokiran Grok: Mengapa Regulasi AI Sangat Penting bagi Keamanan Digital?
-
Final Perdana Jonatan Christie di 2026: Harapan Gelar Super 750 di India