Sekar Anindyah Lamase | Tika Maya Sari
Ilustrasi cerpen Riwayatnya Lenyap (Unsplash/Sander Sammy)
Tika Maya Sari

Kamu tahu apa yang paling kejam?

Kehidupan. Entah mengapa, ada banyak kenyataan pilu di dunia hidup ini. Ketika pejabat ongkang-ongkang, dan rakyat yang banting tulang. Atau segala aksi nekat berlandaskan kemiskinan. Dan, kisah ini akan membahas salah satunya.

Cerita ini kudengar dari ibu, dan sempat geger di kampung halamannya, sekitar tahun 90-an.

Pagi itu, Randy mengamati istrinya, Ratih, yang sedang menggoreng ayam. Hari ini, dia ingin makan ayam goreng. Sebuah menu makanan elit yang tentu tidak bisa dinikmati oleh orang desa sepertinya. Lagipula, tidak semua orang mampu membeli bahan pokok di tahun 90an. Kelaparan adalah hal lumrah, dan kemiskinan adalah tampilan otentik.

“Sambal terasi?” tanya Ratih sembari melihat ke arah Randy yang duduk di dipan bambu. “Atau tidak usah pakai?”

“Sambal terasi saja,” kata Randy singkat

Ratih kemudian mengangguk kecil sebelum kembali berkutat dengan masakan. Dan Randy, kembali mengamati tubuh istrinya yang kurus kering, dengan keriput di sudut mata.

Usia mereka bahkan belum menginjak kepala tiga. Namun, penampilan mereka tampak begitu tua. Mungkin karena setiap hari harus berjuang hidup dalam kemiskinan, atau hinaan-hinaan manusia lainnya. Ah, atau kebijakan-kebijakan pemangku negeri yang lumayan ekstrem.

“Kamu…baik-baik saja?” tanya Randy ragu.

Ratih diam, kemudian tersenyum simpul. “Baik.”

“Coba tatap mataku.”

Ratih membeku sejenak. Kemudian menatap mata suaminya sebelum cepat-cepat memutus kontak mata. “Aku kecipratan minyak panas, aduh.”

Randy menghela napas panjang. Dia lantas mencomot satu paha ayam goreng, kemudian meraih sepatu di kolong dipan sebelum berpamitan keluar. “Aku pergi dulu.”

Randy tahu, Ratih ketakutan. Perempuan yang setia di sisinya itu terlalu mudah dibaca. Ratih takut, dan senantiasa menyimpan ketakutan. Baik terhadapnya, atau warga desa. Mengapa?

Tentu karena profesi Randy yang gila. Sudah basi menjadi buruh tani, buruh penganyam bambu, dan pencari pasir, masih harus menghadapi kemiskinan yang membuat Ratih menderita. Randy bertukar pekerjaan menjadi perampok dan begal.

Dia tidak segan menjarah komputer di beberapa sekolahan, merampok kepala sekolah, hingga membacok lengan orang agar bisa menguasai hartanya. Semuanya dia lakukan demi Ratih. Agar perempuan ringkih itu paling tidak bisa menikmati kehidupan yang layak. Harta benda, perhiasan emas, dan makanan-makanan yang belum mampu dibeli.

Nama Randy sudah kondang tersiar kemana-mana. Begal paling sadis dari kampung T, yang menggila setiap kali beraksi. Meski begitu, ada kode etik yang dia bawa. Randy tidak akan pernah mencelakai penduduk kampungnya sendiri.

“Mak, aku lapar…”

Randy menoleh sewaktu mendapati seorang bocah lelaki merengek kepada ibunya di tepi jalan. Langsung saja, Randy mengulurkan selembar uang kertas senilai Rp 500, bergambar orangutan. “Buat beli nasi pecel,” katanya.

Randy tahu rasanya menahan lapar dalam kemiskinan. Dan dia akan kembali nekat hari ini. Dari info yang dia dapatkan, ada seorang pegawai negeri di kampung seberang sungai yang baru saja membeli motor baru.

“Demi Ratih!” bisiknya.

***

“Pak, tadi ada banyak pengamen ganteng-ganteng dan badannya tinggi,” kata Ratri kepada Sumardi, ayahnya.

“Bocah bau kencur! Masih kecil sudah bicara begitu!”

Ketika Sumardi sewot bicara pada Ratri, Firda pun mendekat. “Ratri betul, Pak. Sehabis maghrib ada segerombol laki-laki tinggi tegap mengamen dari rumah ke rumah. Tapi auranya aneh.”

“Beberapa hari belakangan ini juga ada banyak penembak burung, Pak. Tapi bukan warga sini.”

Sumardi terpekur. “Akhir-akhir ini juga ada banyak orang merumput, tapi bukan warga sini. Cara mereka membabat rumput pun kaku, seperti belum terbiasa ngarit.”

“Kira-kira, ini ada apa ya, Pak?” tanya Firda resah.

Sumardi terdiam. Dia kemudian menenangkan anak-anaknya dan meminta mereka untuk waspada, serta jangan mudah bicara dengan orang asing.

“Jangan-jangan, Randy diincar orang, Pak?” tanya Firda begitu Ratri pergi bermain keluar. “Randy yang tempo waktu katanya membacok orang itu.”

“Mungkin iya,” jawab Sumardi singkat.

***

Entah sudah berapa kali beraksi, Randy selalu lolos dari penangkapan. Dan entah sudah ada berapa korban, dia tidak peduli. Dia hanya ingin membawa kebahagiaan pada hidup Ratih, perempuan pendiam nan lembut yang tidak pernah menuntut itu. Sudah cukup namanya yang hitam, Ratih jangan.

“Rajahnya berfungsi dengan baik!” gumamnya sambil mencuci sepatunya yang sudah usang. “Selalu lolos!”

Antara percaya atau tidak, ada satu rajah alias jimat yang berada di sepatu Randy yang membantunya kabur bak belut di setiap aksi. Randy tidak pernah tertangkap, apalagi terendus. Aksinya selalu mulus.

Pagi itu setelah sarapan dengan Ratih, Randy berniat ikut sabung ayam dengan beberapa tetangganya. Hari itu dia sedang tidak ‘bekerja’. Toh hasil merampok motor orang kemarin masih banyak. Jadi, dia ingin bersantai hari ini.

“Ayam jagomu besar juga. Harusnya bisa melawan jagoku,” kata Yas.

Randy tertawa. “Ayam jagomu kecil sekali? Betulan siap digeprek ayamku?”

Yas berdecih. “Ayo diadu!”

Jadilah sabung ayam itu terdengar heboh ketika ayam jago Randy melawan ayam jago Yas yang meski kecil tapi hebat. Kemampuannya diakui sekampung. Pekikan dan riuh suara ramai dan penontonnya banyak sekali.

Hingga suara letusan pistol terdengar nyaring di udara.

Mata Randy terbelalak. Dia segera lari tunggang langgang kala mendapati satu, dua, tiga, tidak! Ada banyak lelaki bertubuh tinggi tegap mengepung tempat sabung ayam ini seraya menodongkan pistol. Dia harus kabur dan meraih sepatu ber-rajahnya.

“Saudara Randy, lebih baik menyerah sekarang!” ancam salah satu di antara mereka.

Randy mengambil ancang-ancang, sebelum melesat berlari menuju rumahnya. Dia harus mengambil sepatunya, dan menyelamatkan Ratih.

“Sejak kapan?” tanyanya sendiri. “Sejak kapan mereka ada disana?!”

Randy akui dia kecolongan. Akibat terlalu seru mengikuti sabung ayam, kewaspadaannya menurun. Seharusnya dia mengawasi sekeliling, dan memastikan situasinya aman.

Atau, sebenarnya sejak kapan para polisi itu mengawasinya hingga berani mengepungnya hari ini?

Beragam pertanyaan muncul di kepala Randy. Dan entah mengapa, jarak ke rumahnya terasa jauh sekali. Hingga dua tembakan berikutnya terdengar nyaring. Satu mengenai kaki Randy sehingga dia berhasil dilumpuhkan, dan satu mengenai dadanya sehingga riwayatnya telah ditamatkan.

Berita peringkusan Randy segera menyebar ke penjuru kampung. Jenazahnya sempat di otopsi di rumah sakit, kemudian dibawa pulang ke kampung halamannya di kabupaten sebelah untuk dimakamkan. Sebab, warga kampung T menolak jenazah Randy dimakamkan di kuburan desa mereka.

Dan berita terakhir yang menutup serial keberingasan Randy sang Begal adalah, sesudah kematiannya, Ratih menikah dengan orang lain sebelum pindah rumah.