Hayuning Ratri Hapsari | Rie Kusuma
Ilustrasi penjual martabak manis (Gemini AI/Nano Banana)
Rie Kusuma

Lelaki berambut berombak yang panjangnya mulai melewati bahu itu, menuangkan adonan kental ke atas loyang panas yang telah ia olesi mentega. Permukaan adonan meletup-letup timbulkan rongga-rongga udara. Segera ia meletakkan irisan-irisan pisang setelah adonan menjadi setengah matang, lalu menutup kembali loyang tersebut beberapa menit. 

Aroma harum menguar dari martabak yang telah matang sempurna. Lelaki itu meletakkan martabak pisang tadi ke atas talenan kayu, menaburinya dengan cacahan kacang tanah sangrai, meses, dan parutan keju. Terakhir kali ia menambahkan cairan susu kental manis ke atasnya.

"Bagaimana? Berhasil?" Juwita mengintip kegiatan suaminya dari balik punggung. Sang suami baru selesai melipat dan memotong-motong martabak istimewa dan memindahkannya ke atas piring ceper.

"Kamu cobain dulu rasanya, baru Akang bisa tahu ini berhasil atau tidak," jawab si lelaki yang kerap disapa Kang Gondrong tapi bernama asli Topan.

"Ihh ... aku, kan, puasa. Minta anak-anak aja suruh cobain."

Juwita keluar dari dapur, berjalan melintasi ruang tamu yang sempit, mencari anak-anaknya. Fajar dan Cahya tampak sedang bermain di halaman tetangga sebelah rumah. Kedua anak tersebut mendekat ketika Juwita memanggil mereka sambil melambaikan tangan.

"Ayah baru saja bikin martabak rasa baru. Pakai tambahan irisan pisang. Kalian mau coba?"

Bibir Juwita mengulas senyum ketika Fajar dan Cahya berteriak, "Mau ... mau. Aku mau, Bu!"

Kedua bocah kembar berusia empat tahun itu lantas mengekor langkah sang ibu menuju dapur. Sang ayah yang sudah menunggu, langsung mendudukkan Fajar dan Cahya di bangku kecil.

"Baca doa dulu, ya." Topan menuntun anak-anaknya berdoa. Keduanya kemudian bergantian membuka mulut lebar-lebar saat sang ayah menyuapkan potongan martabak.

"Bagaimana? Enak?" Topan yang berjongkok di depan kursi menatap anak-anaknya bergantian.

"Enaakk …!" Fajar memberikan dua jempolnya sementara Cahya mengangguk-angguk dengan mulut penuh. Topan berdiri, menyerahkan piring martabak kepada istrinya sambil berucap pelan, "Berhasiill …."

Topan menuju ke meja dapur. Masih terdapat setengah adonan dalam wadah yang cukup untuk dibuat dua buah martabak lagi. Tangannya mulai sibuk menyalakan kompor, mengupas pisang, dan menyiapkan lagi beberapa bahan yang lain. Tantangan sang istri untuk membuat martabak varian baru berhasil ia taklukkan.

"Nanti pas kamu buka puasa, kita coba sama-sama ya, Yang. Kalau kamu juga suka, berarti itu bisa jadi varian baru untuk jualan. Nanti tinggal Akang pikirkan harganya.

“Oh iya, satu lagi. Bantu Akang catat bahan-bahan apa saja yang sudah berkurang atau habis. Kita, kan, besok punya rencana untuk kasih Jumat Berkah ke masjid. Jadi, hari ini kita belanja banyak saja sekalian."

Juwita mengiyakan permintaan Topan, lalu meneruskan menyuapi kedua buah hatinya, yang tampak bersemangat dengan martabak varian baru sang ayah.

***

"Hei, Ram ... Dim! Kalian baru pulang? Ke sini sebentar, Akang ada perlu!"

Topan berteriak ke arah dua orang anak muda kurus berkulit hitam yang berada di seberang jalan. Sudah hampir jam dua belas malam. Baik Dimas maupun Rama sebenarnya sudah lelah setelah mengamen sepanjang malam, dari warung tenda satu ke warung tenda lainnya. Namun, mereka tetap menghampiri lelaki berusia tiga puluhan tahun itu.

"Ada apa, Kang Gondrong?" tanya Dimas, sementara Rama, sang kakak, langsung menarik salah satu kursi plastik yang tersedia. Sebuah gitar akustik disandarkannya di dekat roda gerobak. Dimas menyusul duduk di kursi lainnya, bersebelahan dengan Rama.

"Nih, cobain. Kira-kira kalian suka yang mana?"

Topan alias Kang Gondrong menyodorkan dua dus kecil yang masing-masing berisi dua jenis martabak yang berbeda. Rama menaikkan alis. Dimas dengan blak-blakkan langsung bertanya, "Ini bayar, Kang?"

"Enggaklah. Ini gratis buat kalian."

Mendengar kata gratis, kedua anak muda yang tampak kelaparan itu segera mengganyang martabak yang masih tampak hangat. Topan menunggu reaksi dari kedua orang di depannya dengan tak sabar.

"Gimana? Enak, nggak? Kemarin saya bikin di rumah, tapi kata istri saya terlalu banyak isinya. Dia kasih saran supaya pakai pisang dan madu aja. Menurut kalian, bagaimana?"

"Hoo, jadi ini pake madu? Pantes manisnya beda. Enak, kok, Kang." Dimas yang sempat berhenti untuk menjawab Topan kembali meneruskan makannya dengan lahap.

"Kamu gimana, Ram?"

Topan memgamati Rama yang mengunyah martabak di tangannya lambat-lambat. Sesekali Rama memejam, mencoba merasai lebih tajam aneka rasa yang muncul. Ia pun sempat berhenti sebentar untuk meneguk air yang juga sudah disiapkan Topan, lalu mencoba martabak di dus lainnya.

"Dua-duanya enak, Kang. Tapi, Akang harus memikirkan harga jualnya masak-masak sebelum dilempar ke konsumen. Martabak pisang yang ada cokelat, kacang, sama kejunya ini isiannya banyak. Akang pakai bahan baku keju juga pasti mahal belinya. Harga jualnya bisa lumayan tinggi.

“Martabak isi pisang madu ini bisa dijual lebih murah. Terjangkaulah buat kelas menengah ke bawah. Ya, pokoknya tergantung pangsa pasarnya juga, sih, Kang. Menurut saya, dua-duanya bisa dijual. Selera orang, kan, juga berbeda-beda. Tapi, mana kira-kira yang nantinya lebih menguntungkan dan cukup menutupi biaya produksi, itu yang harus dipertimbangkan."

Topan mengangguk-angguk, puas dengan analisis Rama. Tak sia-sia ia tadi memanggil kakak beradik itu untuk mencoba martabak terbarunya yang masih terus ia ujicoba.

"Saya sudah mikirin harganya juga, sih, Ram. Takut kalau kemahalan malah nanti nggak ada yang beli."

Kang Gondrong menerawang. Ia mengingat-ingat awal perjalanan usahanya dulu yang penuh batu sandungan. Ia tidak mau memaksakan menjual martabak varian baru, jika nanti justru akan membuat konsumennya lari ke penjual martabak lain.

"Bikin martabak mini aja, Kang," celetuk Dimas yang tampak menjilati sisa-sisa lelehan cokelat dan keju di sela-sela jemarinya.

"Kalo bikin yang kecil, pasti harganya bisa lebih murah. Nanti, kan, kalau banyak yang cari dan ada permintaan, Akang bisa bikin juga martabak ukuran normal."

Topan berpikir sejenak, melipat tangannya sambil setengah menunduk. Tak lama ia mengangguk-angguk.

"Usul kalian berdua benar-benar luar biasa. Akang akan coba saran kalian. Akang akan bikin martabak mini untuk dua varian baru ini, ditambah varian lain yang sudah ada. Kasih nama apa ya cocoknya?”

"Martabak Mini Ramadhan aja, Kang. Kan, dikit lagi bulan Ramadhan. Pas waktunya kalau mau sekalian promosi nanti!"

Kang Gondrong menepuk bahu kedua kakak beradik itu bergantian sambil tersenyum puas. Wajan kembali mendesis pelan, bulan menggantung pucat di atas kepala. Di bawah lampu gerobak yang temaram, sebuah keyakinan baru menguar di udara seperti aroma manis martabak buatannya.