Hayuning Ratri Hapsari | Septiani __
Ilustrasi ibu dan anak (Pexels/Taryn Elliott)
Septiani __

Kamu melirik arloji di pergelangan tanganmu sekali lagi kemudian mengalihkan pandangan di pintu masuk pasar. Tidak ada tanda-tanda kemunculan yang kamu tunggu. Wajah lokal dan wajah asing memenuhi pasar yang tidak ada tanda-tanda akan sepi. Becak-becak berbaris dengan rapi seraya menunggu wajah-wajah yang memenuhi pasar itu selesai berbelanja. Hiruk pikuk canda antar pengunjung pasar, suara tawar-menawar harga, dan suara-suara lainnya menambah semarak pasar itu.

Pandanganmu teralihkan pada seorang ibu yang sedang menanyakan harga pada seorang penjual. Ibu itu memegang sebuah miniatur tugu khas kota yang kamu kunjungi. Penjual itu tersenyum seraya memasukkan miniatur tugu itu dalam kotak dan menyerahkannya pada ibu itu.

Kamu melangkahkan kaki menuju tempat ibu tadi membeli miniatur tugu. Kamu mengangkat miniatur tugu itu dan memandangnya. Pikiranmu sepertinya entah berkelana ke mana hingga seorang laki-laki harus menepuk bahumu berkali-kali.

“Kamu ingin membelinya?” tanya seorang laki-laki berkemeja hitam di sebelahmu.

Kamu meletakkan miniatur tugu itu seraya mengatakan maaf pada penjual yang dibalas dengan senyuman ramah oleh penjual itu. Mereka melangkahkan kaki meninggalkan stan penjual itu.

“Lama sekali,” ujarmu saat mereka akan menyeberang. “Kamu hampir ketinggalan kereta,” lanjutmu.

Laki-laki berkemeja hitam itu hanya menunjukkan barisan giginya yang rapi. Sesaat dia menyadari sesuatu. “Kamu tidak ikut pulang?”

“Tidak. Aku masih ada urusan di sini.”

Laki-laki berkemeja hitam itu mengangguk. Setiba di stasiun kereta yang jaraknya tidak jauh dari pasar, mereka berpisah setelah saling melambaikan tangan.

Kamu memikul ranselmu. Tanpa keraguan, hari itu, kamu kembali ke tempat itu.

***

Tidak ada yang berubah dari rumah dengan desain klasik kolonial di hadapanmu, kecuali cat putihnya yang memucat. Barangkali karena tidak ada yang menghuni dalam waktu yang lama. Bunga-bunga di halaman masih sama seperti kala kamu meninggalkan rumah itu. Kamu mengeluarkan ponsel, mengotak-atiknya sebentar, kemudian memasukkannya kembali dalam saku celana.

Pandanganmu beralih pada rumah desain kolonial di seberang rumahmu. Pagar rumah itu bercat biru muda. Sangat serasi dengan rumahnya yang bercat putih gading. Menunjukkan kesan ketenangan ketika memandang rumah itu. Sama seperti pemiliknya yang saat ini sudah berdiri di depan pagar seraya tersenyum padamu. Kamu melangkahkan kaki menuju rumah bercat putih gading itu.

Di halaman rumah bercat putih gading itu, ada sebuah gazebo. Di gazebo itu, dulu kamu beristirahat seraya merasakan semilir angin menyapu wajahmu hingga terlelap oleh buaiannya. Kamu akan terbangun ketika matahari sudah di ufuk barat. Tentu saja karena sebuah suara memanggilmu.

“Sudah berapa tahun, Nak Aska?” tanya sang pemilik rumah.

“Lima Tahun, Eyang Mardi,” jawabmu.

Setelah percakapan singkat itu, hening menyelimuti. Hanya ada suara sesapan teh dan buah catur yang digerakkan. Kebiasaan yang sering kamu lakukan dengan Eyang Mardi dulu.

“Lastri pasti sangat merindukanmu,” ujar Eyang Mardi.

Kamu hening sejenak, kemudian mengangguk. Tanganmu kembali menggerakkan buah catur.

“Lastri itu perempuan yang hebat. Pemikiran-pemikirannya yang kritis selalu membuat takjub. Seandainya dia terlahir di zaman ini, dia akan bersinar,” ujar Eyang Mardi seraya menyesap tehnya.

“Seandainya tidak punya aku, ibu juga bisa bersinar dulu,” ucapmu.

Eyang Mardi sepertinya akan mengatakan sesuatu, namun langsung kamu sela setelah mengecek ponselmu. “Maaf , Eyang. Mang Ardi sudah di rumah. Aku pamit dulu.”

Eyang Mardi hanya bisa menelan kata-kata yang tidak sempat dia ucapkan seraya memandang punggungmu raib dari balik pagar biru mudanya.

***

Handuk tersampir di bahumu. Kamu baru saja selesai mandi ketika melewati lemari itu. Di sudut rumahmu, tepatnya dekat kamar ibumu, ada sebuah lemari yang isi di dalamnya adalah benda-benda yang disayangi oleh ibumu. Kamu melangkahkan kaki menuju lemari itu. Tidak ada debu di sana. Sepertinya Mang Ardi rajin membersihkannya.

Kamu memegang sebuah miniatur tugu Yogyakarta. Kamu ingat pernah menanyakan sesuatu pada ibumu saat kamu tanyakan ingin dibawakan apa.

“Mengapa ibu suka dibawakan miniatur?” tanyamu kala itu.

Ibumu hanya tersenyum. Beliau tidak menjawab dan hanya melanjutkan pekerjaannya membersihkan miniatur-miniatur di lemari. Kamu tidak pernah mendapatkan jawabannya sampai saat ini.

Kamu mengamati setiap miniatur yang dipajang di sana hingga matamu tertuju pada sebuah miniatur yang kaca pelindungnya memiliki retakan yang ditempel kembali. Hari itu, kamu belum sempat menyerahkannya pada ibumu. Miniatur itu terjatuh dari tanganmu saat kamu mengetahui sebuah kebenaran.

“Mungkin eyang benar, aku adalah satu-satunya kesalahan ibu.”

Kamu menutup kembali lemari itu. Kamu mulai berasumsi. Mungkin saja kamu ada untuk menyambung kembali impian ibumu yang terputus. Mungkin saja melalui miniatur-miniatur itu ibumu melihat impiannya hidup. Siapa yang tahu. Alasan itu sudah ikut terkubur bersama raga ibumu.

“Bodohnya aku tidak pernah membawa ibu pergi untuk melihat langsung miniatur-miniatur itu.”

Asumsi terakhir yang paling melekat di kepalamu. Malam itu, kamu memikul ranselmu. Memandang rumah cat putih pucat itu kemudian berbalik tanpa melihat ke belakang lagi.