Hayuning Ratri Hapsari | Fitri Suciati
Ilustrasi cerpen 'Semanis Apel Merah dan Selembut Kasih Sayang Ibu' (Canva AI)
Fitri Suciati

"Kita beneran beli buah apel merah, Bu?" tanya Risa kagum. Bocah berumur 7 tahun itu tersenyum begitu lebar ketika sang ibu mengajaknya ke pasar untuk membeli buah.

Memang sudah lama Risa merengek untuk dibelikan buah apel yang berwarna begitu merah dan berukuran cukup besar. Bocah itu bilang sangat penasaran dengan rasanya.

Apalagi sang ibu jarang sekali membeli buah-buahan yang tergolong mahal menurut mereka. Paling-paling Risa hanya pernah mencicipi buah pisang, jambu, mangga, dan juga belimbing. Itu pun hasil tanaman mereka sendiri di pekarangan rumah. 

Keinginan kecil Risa untuk mencicipi buah apel yang merah dan besar timbul setelah ia melihat saudara jauhnya membawa sebuah parsel buah yang begitu cantik saat berkunjung ke rumah sang nenek.

Di dalam keranjang anyaman besar itu terisi buah-buahan yang cukup lengkap. Mulai dari buah apel dan jeruk yang berukuran besar dengan warna yang menggoda selera.

Tak ketinggalan pula dua jenis buah anggur merah dan hijau yang besar-besar dan segar, yang jarang sekali gadis itu temui sebelumnya. Sontak jiwa kecil Risa dipenuhi rasa ingin tahu dan keinginan untuk sekadar mencicipi. Pastinya buah cantik nan besar itu akan terasa sangat lezat menurutnya. 

"Bu, kapan kita pergi beli buah apel yang merah dan besar?" rengek Risa selama 7 hari tujuh malam. 

Bagaimana gadis itu tak merengek? Saat dirinya begitu berharap diberi satu buah saja atau bahkan satu iris pun untuk sekadar mencicipi rasanya, harapan gadis kecil itu tak terpenuhi. Singkatnya ia tidak kebagian jatah. Sang nenek lebih senang membagi buah tangan itu pada cucu-cucunya yang lain.

Miris memang, keinginan polos yang berubah jadi rengekan berhari-hari itu tentu saja sangat menyayat hati sang ibu.

Hari demi hari sang ibu pun meminta putrinya untuk bersabar, bersusah payah mengumpulkan uang sisa belanja agar setidaknya ia mampu membeli buah apel itu barang satu kilo saja. 

Dan akhirnya doa Risa pun terjawab, ketika ibu mengajaknya ke pasar untuk pertama kali. Meski hanya satu kilo yang berisi beberapa biji saja. Namun, rasa kagum dan raut bahagia di wajah sang putri turut menganyam bahagia di hati sang ibu.

"Yeay... akhirnya Risa bisa makan buah apel yang merah dan besar!" sorak gadis itu sembari memeluk satu kantong buah apel itu di tangannya. 

Melihat gelagat senang sang bocah yang sukses membeli buah apel yang ia idam-idamkan, sang penjual pun ikut merasa iba. Lantas memberi Risa bonus satu buah lagi tanpa harus membayar. Risa berterima kasih kepada sang penjual dengan senyum lebarnya.

Sepulang dari pasar Risa pun langsung meminta sang ibu untuk mencuci dan mengiris buah apel yang mereka beli. Gadis itu sudah tak sabaran untuk mencicipi rasanya.

"Wah, buah apel merah besar rasanya memang sangat manis ya, Bu. Airnya juga begitu banyak dan segar. Terima kasih, Bu, Risa sangat senang," celoteh sang bocah sembari menikmati buah apel di tangannya. 

Tahun berganti tahun, musim berganti musim, Risa tak pernah lupa akan rasa buah apel itu. Pengalaman sederhana yang terus terpatri dalam ingatannya hingga ia dewasa.

Buah apel itu adalah permintaan besar pertamanya terhadap sang ibu yang terwujud oleh perjuangan dan kasih sayang untuk mendapatkannya.

Lahir dari keluarga sederhana membuat Risa kecil tak pernah meminta hal aneh atau di luar kemampuan kedua orang tuanya. Apa pun yang mereka berikan sudah dirasa cukup bagi bocah itu.

Bahkan ketika ia sangat menginginkan sesuatu pun, Risa akan bertanya terlebih dahulu kepada sang ibu apakah boleh atau tidak. Tak jarang bocah itu mendapatkan cemooh dan remeh dari orang-orang di sekitarnya karena tak memiliki hal yang sama dengan mereka. 

Namun, ia tak pernah merasa kecil dan malu. Menyadari betapa beratnya perjuangan kedua orang tuanya, membuat Risa kecil banyak bersyukur. 

"Apel merahnya tambah satu kilo lagi, Kak. Saya juga mau jeruknya sekalian," seru Risa kepada pelayan di toko buah. 

Hari itu Risa mampir ke toko buah langganannya sepulang dari bekerja. Memang sudah menjadi sebuah kebiasaan gadis itu untuk membawa pulang buah kesukaannya itu untuk ibu di rumah setiap kali ia menerima gaji di akhir bulan. 

Risa bersyukur sekarang ia mampu membeli sendiri buah apel kesukaannya. Buah yang tak hanya membuatnya jatuh cinta pada rasa manis dan segarnya. Namun, buah yang membuat ia semakin menghargai kasih sayang dan perjuangan kedua orang tuanya.

Zaman sudah berubah, begitu pula kehidupannya sekarang yang jauh lebih baik. Semua itu terjadi berkat semangat, dukungan, dan tentu saja kasih sayang kedua orang tuanya meski mereka berawal dari keluarga yang serba kekurangan.