M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Ilustrasi gambar cerpen Semut Kecil dan Gunung Impian (Gemini AI/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Di kaki Gunung Impian yang menjulang tak berujung, hidup seekor semut kecil bernama Sita. Tubuhnya tidak lebih besar dari butir beras. Kaki-kakinya rapuh, tetapi matanya menyimpan api yang tak pernah padam.

Setiap pagi, saat embun masih menempel di rumput, Sita menatap puncak gunung yang terselimuti awan. Di sana, katanya pada dirinya sendiri, ada taman hijau abadi tempat bunga-bunga tak pernah layu dan madu mengalir seperti sungai. Semua semut besar di koloni pernah menertawakan mimpinya.

“Puncak itu bukan untuk kita,” kata Ratu Semut suatu hari. “Kita lahir untuk mengangkut daun, bukan menaklukkan langit.”

“Tetapi kalau kita tidak pernah mencoba,” balas Sita pelan, “bagaimana kita tahu?”

Mereka menggeleng. “Kau akan mati di lereng pertama.”

Sita tidak menjawab. Malam itu, ia mulai berjalan sendirian.

Hari pertama, lereng masih landai. Sita membawa sebutir gandum kecil sebagai bekal. Ia melangkah satu demi satu, menghitung setiap detik sebagai kemenangan. Malam tiba, ia tidur di bawah batu kecil sembari memeluk mimpi.

Hari ketiga, tanah mulai curam. Angin menderu. Butir pasir sebesar kepalanya berguling turun, nyaris menghantamnya. Sita jatuh terjerembap. Kaki belakangnya terluka. Darah merah kecil menetes di batu. Ia menangis, tetapi hanya sebentar. Lalu, ia bangkit, mengikat luka dengan serat rumput, dan melanjutkan perjalanan.

Di pertengahan lereng, ia bertemu seekor kumbang hitam bernama Kaka. Kaka sedang terbalik, kaki-kakinya menggapai-gapai sia-sia.

“Bantu aku,” pinta Kaka.

Sita ragu. Membantu berarti kehilangan waktu. Namun, ia ingat kata ibunya dahulu: “Jalan ke puncak tidak pernah lurus kalau kau berjalan sendirian.”

Sita mendorong batu kecil di bawah Kaka hingga kumbang itu bisa membalikkan badan. Kaka terkejut. “Kenapa kau bantu? Kau kan mau ke atas.”

“Karena kalau aku sampai puncak sendirian,” jawab Sita, “puncak itu akan terasa kosong.”

Kaka diam lama. Lalu ia berkata, “Aku ikut.”

Mereka berdua melanjutkan. Kaka yang lebih kuat membuka jalan di antara kerikil. Sita yang kecil menemukan celah-celah tersembunyi yang tidak terlihat oleh mata besar.

Hari keempat belas, hujan deras turun. Air menggenang di lekuk batu, membentuk danau kecil yang mematikan bagi semut. Sita hampir tenggelam. Kaka menariknya dengan rahang hingga ke tempat kering. Mereka basah kuyup dan menggigil.

“Masih mau lanjut?” tanya Kaka.

Sita menatap puncak yang kini tampak lebih dekat. “Kita sudah terlalu jauh untuk mundur.”

Mereka membuat perahu dari daun kering dan mendayung dengan ranting. Kaka hampir menyerah saat ombak kecil menyapu mereka. Sita memegang erat cangkang Kaka. “Satu tarikan lagi,” bisiknya. “Satu tarikan lagi.”

Akhirnya mereka sampai di sisi lain. Hujan reda. Matahari terbit. Di depan mereka terbentang tebing curam yang hampir tegak lurus. Tak ada jalan, hanya dinding batu licin.

Sita menatap tebing itu lama sekali. Lalu ia berkata, “Kita tidak perlu menaiki semuanya sekaligus. Cukup satu inci demi satu inci.”

Kaka tertawa getir. “Kau gila.”

“Mungkin,” jawab Sita. “Namun, kegilaan ini lebih hidup daripada menyerah.”

Mereka mulai memanjat. Sita menggigit lumut kecil, menempelkannya ke batu sebagai pijakan. Kaka mendorong dari bawah. Satu inci. Dua inci. Kadang mereka tergelincir. Kadang mereka jatuh sejauh tiga inci. Namun, setiap kali jatuh, mereka naik lagi—selalu satu inci lebih tinggi dari sebelumnya.

Malam ke-27, mereka hampir menyerah. Angin malam menusuk tulang. Sita gemetar hebat. Kaka memeluknya dengan sayapnya yang keras. “Kalau besok kita gagal lagi,” kata Kaka, “kita tetap sudah mencoba.”

Sita tersenyum lemah. “Besok kita tidak akan gagal. Karena besok kita sudah tahu caranya.”

Pagi itu, angin berhenti. Sita melihat celah kecil di tebing—tidak lebih lebar dari tubuhnya. Ia masuk, Kaka mengikuti. Celah itu menanjak perlahan, seperti tangga rahasia yang disembunyikan gunung untuk mereka yang tidak menyerah.

Hari ke-32, mereka keluar dari celah. Di depan mata: puncak.

Bukan taman madu seperti dongeng. Hanya dataran batu kecil, dikelilingi angin dingin, dengan sehelai bunga tunggal berwarna ungu yang tumbuh di celah batu. Bunga itu sendirian, tetapi tegak menghadapi langit.

Sita mendekat. Air matanya jatuh ke kelopak bunga. “Ini bukan akhir yang kuharapkan,” bisiknya.

Kaka menatap bunga itu. “Tetapi ini akhir yang paling jujur.”

Mereka duduk di sana berdua. Tidak ada madu. Tidak ada pesta. Hanya keheningan dan keindahan yang sederhana.

Sita berkata pelan, “Aku pikir impian itu tentang sampai. Ternyata impian itu tentang menjadi siapa kita di sepanjang perjalanan.”

Kaka mengangguk. “Dan tentang siapa yang kita ajak naik bersamamu.”

Mereka tidak langsung turun. Mereka tinggal di puncak selama tiga hari, menanam biji dari bunga ungu itu. Lalu, mereka mulai turun—bukan untuk pulang, melainkan untuk memberi tahu.

Ketika mereka sampai di kaki gunung, koloni semut sudah menunggu. Ratu berdiri di depan, matanya penuh tanya. Sita tidak berpidato panjang. Ia hanya mengulurkan sehelai kelopak bunga ungu yang sudah dikeringkan.

“Ini buktinya,” katanya. “Bukan karena aku kuat. Karena aku tidak berhenti.”

Malam itu, puluhan semut kecil mulai berjalan menuju gunung. Tidak semuanya akan sampai. Banyak yang akan jatuh. Namun, setiap yang jatuh akan meninggalkan pijakan bagi yang berikutnya.

Dan di puncak, bunga ungu mulai bertunas lebih banyak. Satu per satu. Satu inci demi satu inci.