Lintang Siltya Utami | Tika Maya Sari
Ilustrasi hantu perempuan (Pixabay/AdinaVoicu)
Tika Maya Sari

Sosok itu berada di sekitar kandang ayam Lek No, diam dan senyap. Wajahnya yang tertutup rambut tampak mengarah pada ventilasi rumah di mana ibuk mengintip, sambil menahan napas. Gaun putih kusamnya tampak menyala di keheningan malam, sebelum sosok itu berjalan sambil menyeret rambut panjangnya, seolah menyapu tanah.

Srek…srek…srek…

Kisah ini kudengar dari ibuku sendiri, di suatu malam. Begini kronologinya.

“Buk, semalam aku dengar ada suara orang nyapu halaman tiga kali. Srek, srek, srek, begitu.”

Ibuk mengernyitkan dahi. “Malam-malam mana ada yang nyapu halaman to, Le? Jam berapa itu?”

“Jam sepuluh atau sebelas malam, Buk.”

Tanpa diduga, aku cukup menikmati percakapan antara ibuku dan Ricky, si anak bungsu. “Halah, mungkin orang iseng,” kataku menengahi.

“Kira-kira, asalnya darimana?” tanya ibu lagi.

Ricky terdiam sebentar. “Kalau bukan dari utara, ya dari barat, Buk.”

“Oh. Mungkin itu Mbah Di yang masih ada di kandang sapi, atau Lek No yang di kandang ayam. Sudah biarkan saja.”

Aku setuju.

Rumah kami memang berada di pedesaan, sehingga ada banyak orang yang memelihara ternak atau unggas. Kandang sapi Mbah Di sendiri berjarak kurang lebih dua puluh meteran di utara rumahku, sedangkan kandang ayam Lek No berjarak dua puluh lima meteran di barat rumahku. Apalagi, beberapa hari terakhir ini induk sapi Mbah Di baru saja beranak. Jadi, mungkin beliau cukup sibuk mengurusi bayi sapi.

Bahkan tempo hari memberikan nasi kotak sebagai selamatan bayi sapi.

“Tapi, aneh juga kalau jam segitu ada suara orang nyapu halaman, Buk,” kataku merasa aneh. “Masa iya jam segitu bebersih? Mbah Di palingan cuma memberi makan sapi.”

“Sudah pasti itu demit lah. Orang suaranya cuman tiga kali begitu,” pungkas ibu.

Aku kembali mengangguk. Betul juga. Manusia seperti kita ini sudah pasti hidup berdampingan dengan bangsa tak kasat mata. Mereka juga ada, cuman tak kelihatan.

Selama beberapa hari, Ricky tidak pernah lagi mengeluhkan tentang suara-suara orang menyapu halaman. Dia tidur lebih awal setelah selesai mengerjakan tugas sekolah. Atau kalau begadang pun, dia lebih fokus pada game online sehingga tak memedulikan suara-suara di luar rumah kami.

Hingga suatu hari, Ibu justru menyampaikan cerita yang bikin merinding sebadan-badan.

“Kamu ingat Ricky pernah bilang kalau dia dengar suara orang menyapu halaman tiga kali? Srek…srek..srek.. begitu?”

“Iya, aku ingat.” Aku lalu mengamati Ricky yang bermain kejar-kejaran dengan kucing. “Betulan demit?”

“Iya. Itu kuntilanak.”

Aku menjingkat dan memeluk lengan ibu erat-erat. “Buk, jangan nakut-nakuti begitu lah.”

“Lho, aku ini ngomong jujur kamu kok nggak percaya?!” tukas ibu seraya melepaskan tanganku. “Itu betulan kuntilanak menyeret rambut. Rambutnya kan panjang sampai nyentuh tanah.”

“Ibuk tahu darimana? Apa karena nonton film Suzanna?”

“Yang di film itu kan sundel bolong, bukannya kuntilanak.”

Aku diam. Otakku mulai membayangkan visual kuntilanak. Mulai dari wajah yang tertutup rambut panjang, gaun putih panjang kusam, dan tentu saja cekikikan menyeramkan.

“Jadi, semalam aku kebelet ke kamar mandi. Pas kutengok ternyata jam setengah dua belas…” kata ibu mulai berkisah. “...hawanya semalam merinding banget. Mana air dingin juga lagi.”

“Terus, Buk?”

“Nah, rasanya tuh aneh. Seperti ada yang mengawasi. Jadilah aku iseng mengintip dari lubang ventilasi di dapur.”

“Lah, lubang ventilasi itu kan tingginya tiga meteran, Buk?”

Ibu malah tersenyum kecil. “Aku bawa tangga terus kuintip dari sana. Ternyata dia betulan ada.”

Menurut ibu, semula beliau hanya iseng mengintip dari celah lubang ventilasi udara di dapur. Memang dasar manusia ini memiliki hormon adrenalin yang besar, sehingga rasa keponya tinggi juga. Dibandingkan kembali ke kamar dan beristirahat, ibu justru berharap melihat penampakan. 

Dari lubang ventilasi, ibu mendapati ada sesosok misterius. Sosok itu berada di sekitar kandang ayam Lek No, diam dan senyap. Wajahnya yang tertutup rambut tampak mengarah pada ventilasi rumah di mana ibuk mengintip, sambil menahan napas. Gaun putih kusamnya tampak menyala di keheningan malam, sebelum sosok itu berjalan sambil menyeret rambut panjangnya, seolah menyapu tanah.

Srek…srek…srek…

Ditambah dengan aroma wangi kembang menusuk hidung, dan situasi yang bikin bulu kuduk berdiri. Sebelum kemudian lenyap, entah karena ditelan kegelapan malam atau menghilang begitu saja.

“Jadi, nggak kelihatan wajahnya, Buk?” Aku menelan ludah payah. “Harusnya Ibuk lari saja, bukannya malah stay di situ.”

“Lah, kan siapa tahu itu maling? Makanya kuawasi terus. Eh, aku malah merinding sebadan-badan,” kata ibu sambil tertawa.

“Dari penampilannya saja sudah pasti itu demit. Masih saja disangka maling,” gerutuku.

Di sisi lain ibu justru tertawa lepas. Maksudku, ayolah tunjukkan sedikit kengerian setelah melihat penampakan mbak-mbak demit seperti itu, bukannya malah tawa lepas begini. 

Aku sendiri memang pernah sekali mendengar suara orang menyapu halaman di malam hari, saat begadang nonton film. Namun, aku tak mau ambil pusing, selama suara itu ada di luar rumah. Namun, sejauh ini aku belum pernah melihat penampakan sosok misterius yang kemungkinan mendiami sekitar kandang ayam Lek No tersebut.